BI Tahan Suku Bunga 5,75 Persen di Tengah Tekanan Rupiah Rp 18.000 per Dolar AS
Inforiau – 21 Oktober 2026 | Keputusan BI Tahan Suku Bunga 5 75 Persen Saat Rupiah Tertekan menjadi sorotan pasar keuangan pada Oktober 2026. Bank Indonesia (BI) memilih mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen meskipun nilai tukar rupiah menembus Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas mata uang sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Keputusan tersebut berbeda dari perkiraan pasar yang sebelumnya mengantisipasi kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 6 persen. Kiwoom Sekuritas menilai langkah BI mencerminkan upaya menyeimbangkan stabilitas nilai tukar dengan kebutuhan menjaga momentum ekonomi. Pasar sempat memperkirakan bank sentral akan menempuh kebijakan moneter ketat untuk meredam tekanan terhadap rupiah, namun BI memilih pendekatan yang lebih hati-hati.
Dalam pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Oktober 2026, BI juga menaikkan suku bunga deposit facility sebesar 25 basis poin, dari 4,75 persen menjadi 5 persen. Sementara itu, suku bunga lending facility tetap sebesar 6,5 persen. Kebijakan ini merupakan bagian dari strategi operasi moneter untuk mengelola likuiditas perbankan dan memastikan transmisi kebijakan berjalan efektif.
Alasan BI Mempertahankan Suku Bunga
Gubernur BI menjelaskan bahwa keputusan BI Tahan Suku Bunga 5 75 Persen Saat Rupiah Tertekan didasarkan pada evaluasi menyeluruh terhadap kondisi makroekonomi. Inflasi inti masih terkendali dalam sasaran, sementara pertumbuhan ekonomi membutuhkan dukungan agar tidak melambat. Bank sentral menilai tekanan terhadap rupiah lebih disebabkan oleh faktor eksternal, seperti penguatan dolar AS dan ketidakpastian pasar keuangan global, bukan karena fundamental domestik yang memburuk.
Selain itu, BI terus melakukan intervensi di pasar valas dan pasar surat berharga negara (SBN) untuk menjaga stabilitas rupiah. Langkah ini diharapkan dapat meredam gejolak nilai tukar tanpa harus menaikkan suku bunga acuan yang berpotensi menekan pertumbuhan kredit dan konsumsi rumah tangga.
Pengamat ekonomi menilai keputusan BI Tahan Suku Bunga 5 75 Persen Saat Rupiah Tertekan memiliki risiko dan manfaat yang perlu dicermati. Di satu sisi, suku bunga yang tidak naik dapat menjaga momentum pemulihan ekonomi. Di sisi lain, selisih suku bunga dengan Federal Reserve yang masih tinggi dapat memperbesar tekanan terhadap rupiah jika arus modal keluar berlanjut.
Dampak bagi Pasar dan Perbankan
Keputusan BI ini diperkirakan akan mempengaruhi pergerakan pasar obligasi dan saham dalam jangka pendek. Investor akan mencermati pernyataan bank sentral mengenai arah kebijakan ke depan. Berikut ringkasan kebijakan suku bunga BI pada Oktober 2026:
| Instrumen | Suku Bunga | Perubahan |
|---|---|---|
| BI-Rate | 5,75 persen | Tetap |
| Deposit Facility | 5,00 persen | Naik 25 basis poin |
| Lending Facility | 6,50 persen | Tetap |
Bagi perbankan, kenaikan suku bunga deposit facility dapat mendorong biaya dana (cost of fund) naik secara terbatas. Namun, dengan BI-Rate yang tetap, suku bunga kredit diperkirakan masih stabil dalam beberapa bulan ke depan. Hal ini diharapkan dapat menjaga permintaan kredit dari sektor riil, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Di pasar valas, rupiah masih akan menghadapi tekanan selama dolar AS menguat. BI menegaskan akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Kebijakan BI Tahan Suku Bunga 5 75 Persen Saat Rupiah Tertekan juga dilengkapi dengan pengelolaan likuiditas yang cermat agar tidak menimbulkan gejolak di pasar uang.
Prospek ke Depan
Ke depan, arah kebijakan BI akan sangat bergantung pada perkembangan global dan domestik. Jika tekanan terhadap rupiah mereda dan inflasi tetap terkendali, ruang untuk mempertahankan suku bunga acuan masih terbuka. Sebaliknya, jika gejolak eksternal memburuk, BI tidak menutup kemungkinan menyesuaikan kebijakan untuk menjaga stabilitas.
Pelaku pasar disarankan mencermati data ekonomi terbaru, termasuk neraca perdagangan, cadangan devisa, dan arus modal asing. Konsistensi kebijakan BI Tahan Suku Bunga 5 75 Persen Saat Rupiah Tertekan menjadi sinyal bahwa bank sentral mengutamakan keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan, bukan sekadar merespons tekanan jangka pendek.
Secara keseluruhan, keputusan BI untuk mempertahankan BI-Rate di 5,75 persen menunjukkan pendekatan yang terukur dalam menghadapi tekanan rupiah. Meskipun pasar sempat mengharapkan kenaikan suku bunga, langkah ini dinilai sebagai upaya menjaga stabilitas sistem keuangan tanpa mengorbankan momentum pemulihan ekonomi. Keberhasilan kebijakan ini akan bergantung pada konsistensi intervensi pasar, koordinasi dengan pemerintah, serta perkembangan kondisi global. Dengan demikian, BI Tahan Suku Bunga 5 75 Persen Saat Rupiah Tertekan tetap menjadi fokus utama dalam menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia.
