Binance Hacked: Peretasan Rp100 Triliun Guncang Dunia Kripto, Bitcoin Anjlok
Inforiau – 30 Oktober 2026 | Dunia mata uang kripto diguncang kabar mengejutkan setelah bursa kripto terbesar di dunia, Binance, mengumumkan bahwa mereka telah hacked dalam apa yang disebut sebagai peretasan terbesar dalam sejarah industri aset digital. Insiden ini melibatkan dana senilai sekitar $6,3 miliar atau setara Rp100 triliun, memicu kepanikan di pasar global dan membuat harga Bitcoin merosot tajam ke level terendah dalam enam pekan terakhir.
Dalam pernyataan resminya, Binance mengungkapkan bahwa investigasi awal menunjukkan insiden keamanan ini kemungkinan melibatkan laptop seorang insinyur DevOps yang telah dikompromikan. Kondisi tersebut memungkinkan penyerang untuk mengakses kontainer layanan dan mengirimkan transaksi penarikan tanpa otorisasi. Perusahaan menegaskan bahwa estimasi total dampak berada di kisaran $6,3 miliar, dengan sekitar $3 miliar di antaranya telah berhasil dibekukan secara on-chain berkat kerja sama dengan mitra blockchain. Namun, Binance belum memberikan pembaruan mengenai status sisa $3,3 miliar lainnya.
“Binance akan menanggung semua kerugian dari dana SAFU dan dana perusahaan. Dana pengguna aman,” demikian bunyi pernyataan resmi perusahaan, seperti dikutip dari berbagai laporan internasional. Meski demikian, langkah penghentian sementara semua penarikan terpaksa dilakukan, dan co-founder Binance, Yi He, menyatakan bahwa layanan penarikan diperkirakan akan kembali normal dalam waktu 48 jam.
Pasar Kripto Panik, Bitcoin dan Ethereum Merosot
Reaksi pasar terhadap insiden hacked ini sangat cepat dan brutal. Harga Bitcoin langsung merosot 3% ke posisi $76.469,82, menembus di bawah level $77.000 untuk pertama kalinya dalam enam minggu. Ethereum juga mengalami nasib serupa, turun lebih dari 3% menjadi $2.185,83. Para analis menilai bahwa kepercayaan investor terhadap keamanan bursa kripto kembali diuji setelah beberapa tahun relatif tenang.
Sejumlah pakar keamanan siber menuding kelompok peretas dari Korea Utara sebagai dalang di balik insiden ini. Blockchain intelligence firm TRM Labs secara eksplisit menyebut Korea Utara berada di belakang pencurian yang mereka sebut sebagai “pencurian kripto terbesar yang pernah tercatat.” Namun, pihak Binance sendiri masih menekankan bahwa identitas para pelaku belum dapat dipastikan. Ari Redbord, chief policy officer TRM Labs, dalam wawancaranya dengan Sky News menyatakan, “Ini adalah peretasan yang luar biasa, baik dari segi ukuran maupun responsnya. Hanya sedikit sistem keuangan yang pernah menunjukkan pencurian sebesar ini.”
Yang menarik, insiden ini juga mendapat perhatian dari tokoh teknologi dunia, Elon Musk. Melalui akun X pribadinya, orang terkaya di dunia itu hanya menulis tiga kata: “Everyday is Zeroday,” sebuah sindiran tajam yang menyoroti maraknya kerentanan zero-day yang belum ditambal.
Bukan Sekadar Peretasan Bursa: Ancaman IoT dan Infrastruktur
Dalam konteks yang lebih luas, insiden hacked terhadap Binance bukanlah satu-satunya peringatan tentang rapuhnya keamanan digital. Pada periode yang hampir bersamaan, Pentagon tengah menyelidiki serangkaian malfungsi freezer misterius yang merusak makanan di setidaknya enam toko komisariat militer AS pada akhir Agustus. Investigasi mengarah pada dugaan serangan siber, di mana suhu di dalam freezer dinaikkan secara diam-diam pada malam hari, menyebabkan makanan membusuk pada pagi harinya. Insiden ini juga dikaitkan dengan serangan siber serupa terhadap sistem pendingin supermarket di Prancis.
Unit Cyber Command militer AS dan Divisi Investigasi Kriminal Angkatan Darat AS telah dilibatkan dalam penyelidikan, bekerja sama dengan penegak hukum Prancis. Kasus ini menegaskan bahwa peretasan tidak lagi terbatas pada sistem keuangan, tetapi telah merambah ke infrastruktur fisik yang terhubung ke internet.
Sementara itu, dalam sebuah diskusi podcast ITPro, para analis menyoroti bahwa banyak perangkat IoT yang tidak perlu terhubung ke internet justru menjadi pintu masuk bagi para penyerang. “Saya sangat yakin beberapa hal tidak perlu terhubung ke web. Anda tidak perlu memiliki jaringan IoT yang luas di rumah Anda. Itu hanya membuka pintu bagi penyerang,” ujar salah satu narasumber.
Latar Belakang Binance dan Tantangan Regulasi
Binance didirikan pada tahun 2017 oleh Changpeng Zhao dan telah menjadi bursa kripto terbesar di dunia. Namun, perjalanan perusahaan tidak lepas dari kontroversi. Pada tahun 2023, Zhao mengaku bersalah atas tuduhan kejahatan terkait kegagalannya mencegah pencucian uang di platform tersebut dan mengundurkan diri sebagai CEO. Insiden hacked terbaru ini tentu menambah daftar tantangan yang harus dihadapi Binance, termasuk tekanan regulasi yang semakin ketat di berbagai yurisdiksi.
Para pengamat industri memperkirakan bahwa peretasan ini akan memicu gelombang baru diskusi tentang pentingnya audit keamanan pihak ketiga, asuransi aset digital, dan standar perlindungan dana pengguna di bursa kripto. Beberapa bursa pesaing mungkin akan meningkatkan protokol keamanan mereka untuk menghindari nasib serupa.
Hingga berita ini diturunkan, Binance masih terus melakukan investigasi internal dan berkoordinasi dengan otoritas terkait. Masyarakat kripto di seluruh dunia menantikan transparansi penuh mengenai kronologi insiden dan langkah pemulihan dana yang hilang. Yang pasti, peristiwa hacked ini akan tercatat sebagai salah satu momen paling gelap dalam sejarah keuangan digital, sekaligus pengingat keras bahwa adopsi teknologi tanpa diimbangi kesadaran keamanan yang memadai dapat berujung pada kerugian yang sangat besar.
