BMKG Kekurangan 4 Sensor di Sesar Lembang, Sinyal Bahaya Gempa Belum Terpantau Optimal
Inforiau – 28 Oktober 2026 | Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali menyoroti keterbatasan infrastruktur pemantauan gempa di Jawa Barat. Stasiun Geofisika Kelas I Bandung mengungkap bahwa jumlah sensor pemantau gempa yang terpasang di sepanjang jalur Sesar Lembang masih jauh dari memadai, meski wilayah tersebut dikenal memiliki potensi bahaya yang perlu diwaspadai. Kekurangan alat ini menjadi perhatian serius di tengah upaya mitigasi bencana yang terus digencarkan pemerintah daerah.
Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Suaidi Ahadi, menjelaskan bahwa pihaknya telah memasang enam sensor khusus untuk memantau aktivitas Sesar Lembang. Namun, jumlah tersebut dinilai belum cukup untuk merekam seluruh dinamika kegempaan di kawasan itu. BMKG memperkirakan masih membutuhkan sekitar empat unit sensor tambahan agar pemantauan bisa berjalan lebih optimal.
“Sesar Lembang itu kita sudah pasang sensor gempa khusus untuk Sesar Lembang ada enam. Kita masih kurang sekitar empat lagi,” kata Suaidi di Bandung.
Menurutnya, keberadaan sensor berperan penting untuk merekam aktivitas gempa bumi, termasuk rangkaian gempa bermagnitudo kecil yang kerap menyertai proses terjadinya gempa. Data dari sensor inilah yang menjadi dasar bagi BMKG untuk membaca pola kegempaan secara lebih menyeluruh.
Tiga Tipe Gempa yang Perlu Dipahami Masyarakat
Suaidi memaparkan bahwa terdapat tiga tipe gempa yang perlu dipahami publik agar tidak menimbulkan kepanikan berlebihan. Pertama, tipe mainshock dan aftershock, yaitu gempa kuat yang terjadi lebih dulu kemudian diikuti gempa-gempa kecil. Kedua, tipe foreshock dan mainshock, yakni gempa kecil-kecil yang mendahului gempa utama. Ketiga, tipe swarm, di mana gempa kecil terjadi terus-menerus tanpa diikuti gempa besar.
“Ada tiga tipe gempa. Satu, mainshock, aftershock. Jadi gempa kuat dulu baru gempa kecil-kecilnya. Yang kedua adalah foreshock dan mainshock, gempa kecil-kecil, mainshock. Dan yang terakhir adalah swarm, gempanya kecil-kecil terus,” ujarnya.
Dengan jaringan sensor yang lebih memadai, BMKG dapat mengamati pola kegempaan secara lebih baik. Informasi tersebut diharapkan menjadi bahan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap potensi bahaya gempa. Suaidi menegaskan, kemunculan gempa bermagnitudo kecil tidak selalu berarti akan disusul gempa yang lebih besar.
“Kalau sensornya banyak, ada gempa-gempa kecil dan kemungkinan potensi ancaman dengan magnitudo yang akan besar, masyarakat jadi lebih waspada dulu,” katanya.
Mitigasi hingga Tingkat Keluarga
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat terus menggenjot edukasi mitigasi bencana hingga ke tingkat keluarga. Langkah ini dinilai penting mengingat Sesar Lembang melintasi kawasan permukiman padat. Edukasi dilakukan agar warga memahami langkah-langkah evakuasi dan tindakan darurat saat terjadi gempa.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyiapkan Cirebon dan Purwakarta sebagai pusat pemerintahan sementara. Kebijakan ini merupakan bagian dari kesiapan pemerintah daerah dalam menghadapi berbagai kemungkinan risiko bencana di wilayah Jawa Barat.
BMKG Pantau Dinamika Cuaca di Sumatra
Selain persoalan gempa, BMKG juga tengah memantau perkembangan dinamika atmosfer yang memicu hujan ekstrem di sebagian wilayah Sumatra. Siklon Tropis Arnab yang berada di sekitar Teluk Benggala, sisi timur laut Samudra Hindia, dinyatakan tidak berdampak langsung terhadap cuaca dan gelombang laut di Indonesia.
Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan bahwa hujan sedang hingga ekstrem yang mengguyur sebagian Sumatra dalam beberapa hari terakhir justru dipicu oleh dinamika atmosfer lain, seperti sirkulasi siklonik baru di Laut Andaman utara Aceh, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), dan Gelombang Rossby Ekuatorial.
“Berdasarkan analisis saat ini, sistem tersebut tidak memberikan dampak langsung terhadap cuaca dan gelombang laut di Indonesia,” kata Andri.
Sirkulasi siklonik di Laut Andaman masih berpotensi mendukung pembentukan daerah konvergensi yang dapat meningkatkan peluang hujan di sebagian wilayah Aceh. Namun, pergerakannya diprediksi menjauhi Indonesia dalam dua hingga tiga hari ke depan. BMKG menegaskan akan terus memantau perkembangan sistem tersebut berdasarkan analisis dinamika atmosfer terkini.
Sementara untuk wilayah Jawa Barat, BMKG merilis ramalan cuaca pada Rabu, 28 Oktober 2026. Depok diprediksi diguyur hujan sedang dengan suhu udara 23–33 derajat celsius dan tingkat kelembapan 73–96 persen. Adapun Tangerang diperkirakan mengalami hujan ringan dengan suhu 24–28 derajat celsius dan kelembapan 76–97 persen.
Kesimpulan
Keterbatasan sensor di Sesar Lembang menjadi pengingat bahwa penguatan sistem peringatan dini masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Penambahan empat unit sensor yang dibutuhkan BMKG diharapkan dapat meningkatkan akurasi pemantauan dan mempercepat penyebaran informasi kepada masyarakat. Di saat yang sama, edukasi mitigasi hingga tingkat keluarga dan kesiapan pemerintah daerah menjadi kunci agar risiko bencana dapat diminimalkan. Dengan kolaborasi antara BMKG, pemerintah daerah, dan masyarakat, kewaspadaan terhadap potensi gempa maupun cuaca ekstrem dapat terjaga tanpa menimbulkan kepanikan.
