Dari Impian Barcelona hingga Fenerbahce: Perjalanan Kontroversial Romelu Lukaku yang Penuh Twist
Inforiau – 05 November 2026 | Romelu Lukaku telah menjadi salah satu nama paling kontroversial dalam dunia sepak bola modern, dengan perjalanan karir yang dipenuhi keputusan dramatis dan pernyataan yang memicu perdebatan. Striker asal Belgia ini telah mengalami transformasi luar biasa dari pemain berbakat muda hingga menjadi seorang atlet yang kerap kali mengungkapkan ketidakpuasan terhadap klub-klub yang menampungnya.
Karir Romelu Lukaku dimulai dengan gemilang di akademi Anderlecht, di mana ia mencatatkan rekor sebagai pencetak gol terbanyak di Belgia pada musim 2009-2010. Prestasi tersebut membawanya meraih penghargaan Belgia Ebony Shoe pada tahun 2011. Pada musim transfer musim panas yang sama, Lukaku bergabung dengan Chelsea, namun ia tidak mendapatkan kesempatan bermain yang signifikan. Sang striker kemudian menghabiskan dua musim berturut-turut sebagai pemain pinjaman di West Bromwich Albion dan Everton sebelum akhirnya bergabung secara permanen dengan klub Merseyside tersebut pada tahun 2014 dengan biaya 28 juta pound sterling.
Perjalanan internasional Romelu Lukaku dimulai pada tahun 2010 ketika ia melakukan debut senior untuk tim nasional Belgia. Sejak saat itu, ia telah meraih lebih dari 40 caps dan merepresentasikan negaranya di Piala Dunia FIFA 2014 serta UEFA Euro 2016. Namun, perjalanan karirnya di level klub terus mengalami dinamika yang menarik untuk diikuti.
Kembali ke Chelsea dan Kontrovesi yang Menyertainya
Pada tahun 2021, Romelu Lukaku kembali ke Chelsea dengan kontrak permanen berdurasi lima tahun setelah menghabiskan waktu yang produktif di Inter Milan. Kedatangannya diharapkan menjadi solusi untuk kebutuhan striker Chelsea, namun situasi tidak berjalan sesuai ekspektasi. Dalam wawancara dengan Sky Sport Italia, Lukaku mengungkapkan bahwa Chelsea bukanlah pilihan utamanya ketika ia memutuskan untuk meninggalkan Inter Milan.
“Ada 3 klub level tinggi yaitu Barcelona, Real Madrid dan Bayern Munchen yang meminati saya. Semua pemain memimpikan main di sana, itu fakta. Saya pikir bakal gabung salah satu klub itu setelah Inter Milan,” ungkap Lukaku dengan terang-terangan. Namun, karena negosiasi dengan ketiga klub besar Eropa tersebut tidak berjalan mulus, Lukaku akhirnya menerima tawaran dari Chelsea sebagai pilihan keempat.
Ketidakpuasan Romelu Lukaku di Chelsea tidak hanya sekadar masalah tentang klub pilihan. Striker berusia 31 tahun itu juga mengalami kesulitan adaptasi dengan sistem taktik yang diterapkan oleh pelatih Thomas Tuchel. Tanpa pemain kreatif yang memadai di sekitarnya, Lukaku hanya mampu bermain di sepertiga akhir lapangan, membuat Tuchel harus menerapkan strategi serangan balik ketika Lukaku dimainkan. Hal ini menyebabkan hubungan antara Lukaku dan Tuchel menjadi retak, terutama setelah wawancara kontroversial yang dilakukan Lukaku tersebut.
Masa Sulit di Inter Milan dan Keputusan untuk Pergi
Meskipun Romelu Lukaku berhasil membawa Inter Milan menjadi juara Serie A pada musim 2020-2021, ia mengungkapkan bahwa ia seharusnya bisa bertahan lebih lama di klub Nerazzurri. “Saya harusnya bertahan di Inter bahkan tanpa Conte sekalipun. Masalahnya hanya soal kontrak baru yang saya minta,” jelasnya dalam wawancara yang sama. Kondisi keuangan Inter Milan yang buruk membuat klub tersebut kesulitan mempertahankan striker berbakat ini, sementara pelatih Antonio Conte juga memutuskan untuk meninggalkan klub setelah meraih gelar juara.
Setelah pengalaman yang kurang memuaskan di Chelsea, Romelu Lukaku dipinjamkan kembali ke Inter Milan untuk musim 2022-2023, di mana ia membantu klub mencapai final Liga Champions Eropa. Kemudian pada musim 2023-2024, ia dipinjamkan ke AS Roma, sebelum akhirnya Napoli mengaktifkan transfer permanennya dari Chelsea dengan nilai 30 juta euro pada Agustus 2024.
Masa Gelap di Napoli dan Perjalanan ke Fenerbahce
Kedatangan Romelu Lukaku ke Napoli dimaksudkan untuk menggantikan posisi striker utama Victor Osimhen yang akan hijrah ke Arab Saudi. Namun, petualangan Lukaku di Serie A kali ini tidak berjalan sesuai rencana. Dalam 45 penampilan di semua kompetisi untuk Napoli, ia hanya berhasil mencetak 15 gol dan 11 assist, angka yang jauh dari standar striker kelas dunia.
Musim panas 2025 menjadi titik balik yang menentukan bagi Lukaku. Striker berusia 33 tahun ini dihantam cedera hamstring yang cukup serius dan baru pulih memasuki tahun baru 2026. Saat kembali bermain, Lukaku hanya diberi kesempatan main sebanyak 6 kali di sisa musim 2025-2026, semuanya sebagai pemain pengganti. Kondisi ini membuat Napoli memasukkan Lukaku dalam daftar jual, dan akhirnya ia berlabuh ke Fenerbahce pada bursa musim panas 2026.
Dalam pernyataannya tentang kepindahan ke klub Turki tersebut, Romelu Lukaku mengakui bahwa keputusan ini merupakan yang terbaik untuk kariernya. “Ini adalah tahun terburuk dalam hidup saya. Saya mendengar banyak hal, dan beberapa keputusan telah dibuat. Jika itu situasinya, hal terbaik adalah pergi,” kata Lukaku, menggambarkan betapa sulitnya masa-masa yang ia lalui di Napoli. Fenerbahce merekrutnya dengan biaya 6 juta euro dan mengikatnya dengan kontrak selama 2 tahun.
Aktivisme Sosial dan Pesan Mendalam di Balik Lapangan
Meskipun karirnya penuh dengan kontrovesi, Romelu Lukaku juga menunjukkan sisi humanitariannya melalui aksi-aksi sosial. Ketika bermain untuk AS Roma melawan Feyenoord di Liga Europa pada Februari 2024, Lukaku mencetak gol dan merayakannya dengan selebrasi khusus. Ia menodongkan pistol ke kepalanya dengan satu tangan menutup mulutnya, sebuah gesture yang ternyata memiliki makna mendalam.
Melalui akun media sosialnya, Lukaku menjelaskan bahwa selebrasi tersebut merupakan seruan untuk menghentikan genosida di Republik Demokratik Kongo, negara kelahiran orang tuanya. “Bebaskan Republik Demokratik Kongo. Hentikan Genosida,” tulisnya di Instagram. Aksi ini menunjukkan bahwa meskipun Lukaku sering menjadi sorotan karena pernyataan kontroversialnya tentang klub, ia juga memiliki kepedulian terhadap isu-isu kemanusiaan yang lebih besar.
Perjalanan karir Romelu Lukaku hingga saat ini mencerminkan kompleksitas seorang atlet profesional yang tidak hanya berjuang dengan aspek teknis sepak bola, tetapi juga dengan ekspektasi klub, manajemen, dan dirinya sendiri. Dari impian bermain di Barcelona, Real Madrid, atau Bayern Munchen, hingga akhirnya berlabuh di Fenerbahce, Lukaku telah menjalani roller coaster emosional yang jarang dialami oleh pemain lain. Namun, dedikasi dan passion-nya terhadap sepak bola serta kepedulian sosialnya menunjukkan bahwa ia lebih dari sekadar striker yang mencari gol.
