Dari Juara 9-1 hingga Transformasi Bisnis: Kisah Luar Biasa Como 1907 di Era Mirwan Suwarso
Inforiau – 05 November 2026 | Como 1907 telah menulis sejarah baru dalam dunia sepak bola Italia dengan pencapaian-pencapaian spektakuler yang membuktikan transformasi luar biasa di bawah kepemimpinan Mirwan Suwarso. Klub bersejarah dari kota kecil di tepi Danau Como ini tidak hanya meraih kesuksesan di lapangan hijau, tetapi juga menunjukkan visi bisnis yang matang dan kepedulian mendalam terhadap komunitas lokal.
Pertandingan terakhir Como 1907 melawan RC Lens di Stade Bollaert-Delelis menjadi bukti nyata dominasi tim dalam kompetisi Liga Champions. Dengan kemenangan telak 9-1, Como 1907 menampilkan performa yang sangat mengesankan dan efektif. Anastasios Douvikas menjadi bintang pertandingan dengan mencetak tiga gol, sementara pemain-pemain lainnya seperti Nico Paz, Lucas Da Cunha, Marc-Oliver Kempf, Mattia Liberali, Martin Baturina, dan Matteo Papaccioli turut berkontribusi dalam pesta gol tersebut. Keunggulan 3-0 di babak pertama terus diperlebar di babak kedua, menempatkan Como 1907 di posisi papan atas klasemen Fase Liga dengan 9 poin.
Kesuksesan Como 1907 di musim 2026/2027 ini tidak terlepas dari kualitas pemain-pemain yang telah dikumpulkan. Anastasios Douvikas, yang didatangkan dari Celta de Vigo dengan investasi Rp243 miliar pada musim dingin 2025, telah membuktikan dirinya sebagai ujung tombak yang tajam dengan 5 gol dari 9 pertandingan di Serie A. Martin Baturina, pemain asal Kroasia yang dibeli seharga Rp312 miliar dari Dinamo Zagreb, juga konsisten mencetak gol dengan total 3 gol. Sementara itu, Nico Paz, yang kini memiliki nilai pasar mencapai Rp1,39 triliun, tidak hanya produktif dalam mencetak gol tetapi juga memberikan umpan untuk gol rekan-rekannya dengan 3 gol dan 3 asis.
Namun, kesuksesan Como 1907 bukan hanya tentang angka dan statistik. Mirwan Suwarso, presiden klub kelahiran Madiun 29 Desember 1985, telah merancang filosofi manajemen yang unik dan inklusif. Sejak mengambil alih klub pada November 2019 setelah Grup Djarum melakukan akuisisi, Mirwan membawa pendekatan yang berbeda dari klub-klub besar lainnya di Italia. Dia memperkuat identitas lokal Como 1907 melalui penggunaan dialek Semm Cumasch (yang berarti ‘kami orang Como’) di berbagai merchandise klub. Frasa ini tidak hanya tercetak pada kaus dan topi, tetapi juga dikirimkan sebagai souvenir hingga ke Jepang dan Amerika Serikat.
Komitmen Mirwan Suwarso terhadap keterlibatan komunitas lokal sangat terlihat dalam setiap keputusan strategis. Manajemen Como 1907 membagikan pakaian bertuliskan Semm Cumasch kepada bayi-bayi yang baru lahir di rumah sakit kota Como, menjadikan warga kota sebagai bagian integral dari keluarga klub. Untuk kampanye kaus terbaru, klub merekrut model dari penduduk setempat, menciptakan koneksi emosional yang kuat antara klub dan komunitas.
Kebijakan harga tiket Como 1907 juga mencerminkan filosofi yang matang. Meskipun tiket musiman klub termasuk yang termahal keenam di Serie A Italia, pemegang tiket musiman lama mendapatkan harga terendah kedua di liga. Mirwan Suwarso menyebut pendekatan ini sebagai cara memahami batas antara hal yang boleh diubah dan yang harus dijaga. Lebih ambisius lagi, pada Juli 2025, Mirwan menyatakan harapannya untuk menggratiskan tiket tribun curva terlebih dahulu sebelum tribun distinti, dengan alasan bahwa sepak bola adalah milik orang banyak.
Gagasan ‘calcio popolare’ (sepak bola untuk orang banyak) ini muncul justru ketika Como 1907 menjadi salah satu klub dengan belanja transfer terbesar di Eropa. Pada musim panas 2025, pengeluaran transfer klub melampaui 100 juta euro atau setara Rp2,03 triliun. Di tengah investasi besar-besaran ini, Mirwan Suwarso tetap fokus pada aksesibilitas untuk warga biasa dan menyebut model klubnya sebagai sepak bola yang berkelanjutan.
Ketika Como 1907 membuat debut Liga Champions pada September 2026, Mirwan Suwarso dan sejumlah direktur melepas kursi mereka di pertandingan melawan RB Leipzig. Keputusan ini diambil karena permintaan tiket jauh melebihi pasokan, sementara kapasitas Stadion Giuseppe Sinigaglia berkurang sekitar 1.000 kursi karena aturan penyiaran dan operasional UEFA. Kursi-kursi para direktur tersebut dialokasikan kepada suporter yang lahir pada 1950 atau lebih awal, mereka yang telah mengikuti Como di setiap divisi dan setiap era klub.
Stadion Giuseppe Sinigaglia, yang berkapasitas sekitar 12 ribu kursi dan berdiri hanya beberapa langkah dari tepi Danau Como, menjadi saksi momen bersejarah ketika Como 1907 mengalahkan Manchester United dengan skor 4-1 pada 21 Oktober 2026 dalam pertandingan yang berlangsung di tengah hujan dan angin kencang. Suporter Como 1907 menyebut malam itu sebagai pengalaman yang tidak pernah dibayangkan seumur hidup mereka.
Perjalanan Mirwan Suwarso sebelum memimpin Como 1907 juga menunjukkan keahlian yang mendalam di berbagai industri. Lulusan Purdue University ini telah membangun karier di industri periklanan, film, industri kreatif, dan bisnis media olahraga. Pengalaman lintas industri ini ternyata sangat berharga dalam mengelola klub sepak bola modern yang membutuhkan pemahaman bisnis yang komprehensif.
Pencapaian Como 1907 di bawah kepemimpinan Mirwan Suwarso telah melampaui ekspektasi. Klub berhasil promosi ke Serie A pada 2024, kemudian finis di posisi keempat klasemen akhir musim 2025/2026 dengan 71 poin, dan yang paling membanggakan adalah lolos ke Liga Champions untuk pertama kalinya dalam sejarah klub. Ini merupakan transformasi yang luar biasa dari sebuah klub yang sebelumnya menghadapi masalah finansial menjadi klub bisnis olahraga dengan jangkauan internasional.
Keputusan teknis di lapangan diserahkan sepenuhnya kepada Cesc Fabregas, mantan pemain Arsenal dan Barcelona yang kini menjadi pelatih kepala. Sementara Mirwan Suwarso dan timnya fokus pada aspek bisnis dan relasi dengan kota Como. Kolaborasi antara visi bisnis yang jelas dan keahlian teknis di lapangan inilah yang menjadi kunci kesuksesan Como 1907 dalam beberapa tahun terakhir.
Dengan produktivitas pemain-pemain seperti Douvikas, Baturina, dan Nico Paz yang telah mengumpulkan total 15 gol per 30 Oktober 2026, Como 1907 terus membuktikan bahwa investasi besar-besaran telah membuahkan hasil yang nyata. Namun, lebih dari sekadar angka, Como 1907 telah menunjukkan bahwa sebuah klub sepak bola dapat tumbuh dan berkembang dengan tetap mempertahankan nilai-nilai lokal, keterlibatan komunitas, dan komitmen terhadap aksesibilitas olahraga untuk semua kalangan.
Kisah Como 1907 menjadi inspirasi bagi klub-klub lain di Eropa bahwa kesuksesan tidak hanya diukur dari jumlah trofi atau kemenangan besar, tetapi juga dari dampak positif yang dibawa kepada komunitas lokal dan keberlanjutan model bisnis yang diterapkan. Transformasi yang dilakukan Mirwan Suwarso membuktikan bahwa dengan visi yang jelas, kepemimpinan yang kuat, dan komitmen terhadap nilai-nilai lokal, sebuah klub dari kota kecil dapat bersaing di level tertinggi sepak bola Eropa sambil tetap menjaga identitas dan akarnya.
