Dendam Carlos Tevez Terbongkar: Janji Palsu Alex Ferguson yang Mengubah Sejarah Derby Manchester
Inforiau – 31 Oktober 2026 | Keputusan Carlos Tevez meninggalkan Manchester United dan bergabung dengan Manchester City pada musim panas 2009 masih menjadi salah satu saga transfer paling kontroversial dalam sejarah rivalitas dua klub sekota. Bertahun-tahun kemudian, bomber asal Argentina itu akhirnya membuka suara mengenai alasan mendasar di balik keputusannya yang membakar amarah publik Old Trafford. Dalam sebuah percakapan hangat bersama mantan rekan setimnya, Rio Ferdinand, Tevez mengungkap bahwa Alex Ferguson sempat memberikan janji manis untuk mempermanenkan statusnya yang kala itu masih berstatus pemain pinjaman dari West Ham United.
Tevez menghabiskan dua musim di Manchester United, yakni pada 2007/2008 dan 2008/2009, dengan torehan 34 gol dalam 99 pertandingan. Ia turut membantu Setan Merah meraih dua trofi Premier League serta menjadi juara Liga Champions pada 2007/2008. Namun, di balik kesuksesan itu, hubungan Tevez dengan Alex Ferguson mulai merenggang menjelang akhir masa peminjamannya.
Menurut pengakuan Tevez, Alex Ferguson bahkan sempat menegaskan bahwa kedatangan Dimitar Berbatov pada awal musim 2008/2009 tidak akan menggeser posisinya. Manajer legendaris asal Skotlandia itu meminta Tevez tetap tenang karena posisinya aman dan kontrak permanennya segera diurus.
“Fergie memberi tahu, ‘Carlos, sekarang saya akan membayar kontrak Anda dan Anda akan tetap di Manchester,'” ungkap Tevez dalam podcast Rio Ferdinand, mengenang situasi di akhir musim 2007/2008.
Namun, janji tinggal janji. Enam bulan berlalu tanpa adanya kepastian kontrak permanen. Situasi Tevez justru kian memburuk karena ia mulai lebih sering ditepikan ke bangku cadangan. Dalam pikiran sang striker, Alex Ferguson mulai menyingkirkannya agar nilai jualnya di pasaran bisa ditekan.
“Saya pikir Ferguson, sejak hari kami berbicara, punya waktu hingga enam bulan untuk menepati janjinya. Dia malah tidak melakukannya. Sebaliknya, dia mulai membiarkan saya duduk di bangku cadangan. Dalam pikiran saya, dia mulai menyingkirkan saya agar bisa merendahkan nilai saya. Dan itulah yang paling menyakiti saya,” ujar Tevez.
Rasa kecewa dan dikhianati itulah yang memicu dendam membara dalam diri penyerang berjuluk El Apache tersebut. Keputusan bergabung dengan Manchester City pada akhirnya diakui secara jujur sebagai tindakan pembalasan atas perlakuan tidak adil yang ia terima selama berada di bawah naungan Manchester United.
“United adalah tempat yang luar biasa bagiku. Namun, City, bagiku, seperti sebuah bentuk balas dendam. Aku tidak mendapatkan kembali apa yang sudah kuberikan,” tegas Tevez.
Kepindahan kontroversial itu terbukti sukses membuat tensi derby Manchester membara hingga ke titik tertinggi. Selama membela City, Tevez mencetak 73 gol dalam 148 pertandingan dan mempersembahkan trofi Premier League musim 2011/12, yang sekaligus mengakhiri dominasi panjang Manchester United.
Di sisi lain, sejak ditinggal pensiun Alex Ferguson pada 2013, Manchester United diketahui telah menghabiskan sekitar 97 juta poundsterling atau setara Rp2,3 triliun untuk kompensasi pemecatan pelatih. David Moyes menjadi manajer pertama yang diberhentikan setelah era Ferguson dengan kompensasi 5,2 juta poundsterling, disusul Louis van Gaal yang menerima 8,4 juta poundsterling. Terbaru, Michael Carrick disebut berpotensi menelan biaya kompensasi hingga 11,875 juta poundsterling atau sekitar Rp287,7 miliar jika kontraknya diputus lebih awal.
Kisah Tevez dan Alex Ferguson menjadi pengingat pahit bahwa di balik gemerlap trofi, janji yang tak ditepati bisa meninggalkan luka mendalam. Bagi Tevez, Manchester City bukan sekadar pelabuhan karier baru, melainkan panggung pembuktian bahwa Manchester United telah membuat kesalahan besar dengan membiarkannya pergi. Sementara bagi publik Old Trafford, saga ini abadi sebagai salah satu pengkhianatan paling menyakitkan dalam sejarah rivalitas kedua klub.
