Film Laut Bercerita Akhirnya Tayang: Kisah Kelam Aktivis 1998 yang Wajib Ditunggu
Inforiau – 29 Oktober 2026 | Setelah penantian panjang, film laut bercerita akhirnya resmi tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai Kamis, 29 Oktober 2026. Karya adaptasi dari novel best seller karya Leila S. Chudori yang terbit pada 2017 ini digarap oleh sutradara Yosep Anggi Noen dan diproduksi oleh Pal8 Pictures bersama sejumlah mitra produksi. Novelnya sendiri tercatat laris hingga 500.000 eksemplar, menjadikan film laut bercerita salah satu adaptasi sastra paling dinanti tahun ini.
Film berdurasi 135 menit ini membawa penonton menyelami masa kelam menjelang berakhirnya Orde Baru. Cerita berpusat pada Biru Laut Wibisana, seorang mahasiswa Sastra Inggris Universitas Gadjah Mada yang diperankan Reza Rahadian. Bersama sahabat-sahabatnya, ia bergabung dengan kelompok studi Winatrama yang aktif memperjuangkan kebebasan berekspresi serta menyebarkan buku-buku yang dicekal pemerintah pada masa itu.
Perjalanan Biru Laut dan Winatrama
Laut digambarkan sebagai pribadi cerdas dan berani, buah didikan orang tua yang suportif. Ayahnya seorang jurnalis, sementara ibunya ibu rumah tangga yang pandai memasak tengkleng, makanan kesukaan Laut. Kehangatan keluarga itu ditunjukkan lewat kebiasaan makan bersama setiap hari Minggu.
Bersama Kasih Kinanti (Kinan), Daniel Tambunan, Sunu Dyantoro, dan Alex Perazon, Laut semakin aktif menyuarakan keadilan, termasuk mendampingi persoalan-petani. Namun, situasi politik yang penuh tekanan membuat aktivitas mereka berisiko besar. Pada suatu malam di Jakarta, Biru Laut dan beberapa rekannya disergap empat laki-laki tak dikenal, lalu diculik, disekap, diinterogasi, dipukul, digantung, dan disetrum selama berbulan-bulan untuk membongkar dalang di balik gerakan mahasiswa.
Beberapa aktivis dibebaskan, sementara Laut dan sederet temannya hilang tanpa jejak. Peristiwa ini menjadi titik balik yang menyoroti kehancuran batin keluarga yang ditinggalkan.
Dua Sudut Pandang dalam Film Laut Bercerita
Sebagaimana novelnya, film laut bercerita dibangun dari dua bagian penting. Pertama, sudut pandang Laut sebagai tokoh utama korban penculikan aktivis pada 1998. Kedua, sudut pandang Asmarajati, adik Laut yang diperankan Yunita Siregar, yang menceritakan kondisi setelah kakaknya menghilang. Asmara Jati menjadi simbol yang merawat harapan dan kekuatan, terus mencari jawaban atas keberadaan sang kakak.
Deretan pemain papan atas turut memeriahkan film ini, antara lain Christine Hakim dan Arswendy Bening Swara sebagai orang tua Biru Laut, Dian Sastrowardoyo sebagai Kasih Kinanti, Eva Celia sebagai Ratih Anjani, Kevin Julio sebagai Daniel Tumbuan, Dewa Dayana sebagai Sunu Dyantoro, serta Ben Nugroho sebagai Alex Perazon. Yosep Anggi Noen juga menulis skenario bersama Leila S. Chudori untuk menyesuaikan cerita dengan format layar lebar.
Pemutaran Perdana dan Momentum Sumpah Pemuda
Sebelum tayang di Tanah Air, film laut bercerita telah menggelar pemutaran perdana dunia di Busan International Film Festival 2026. Pemilihan jadwal tayang pada penghujung Oktober juga berdekatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober, momentum yang sejalan dengan tema perjuangan generasi muda.
Di Surabaya, film ini tayang perdana di sejumlah bioskop, termasuk CGV Marvell City, dengan harga tiket reguler mulai Rp 26.000. Antusiasme penonton terlihat dari ramainya jadwal tayang di berbagai kota.
Merawat Ingatan lewat Sinema
Dengan memadukan drama keluarga dan latar perjuangan mahasiswa, film laut bercerita menghadirkan kisah tentang kehilangan, keberanian, serta upaya mempertahankan ingatan terhadap mereka yang memperjuangkan keadilan. Poster resminya membawa napas tentang merawat ingatan bahwa di balik setiap nama, ada keluarga yang masih menunggunya pulang.
Sebagai penutup, film laut bercerita bukan sekadar adaptasi sastra, melainkan cermin sejarah yang mengajak penonton merefleksikan masa kelam bangsa dan pentingnya menjaga memori kolektif. Bagi pecinta film bernuansa sejarah dan kemanusiaan, karya ini layak masuk daftar tontonan wajib.
