Inforiau – 28 Oktober 2026 | Dunia sepak bola Inggris kembali diguncang oleh kisah dongeng yang hanya bisa terjadi di kompetisi domestik seperti fa cup dan Carabao Cup. Pada Selasa malam, 27 Oktober 2026, Fleetwood Town—klub League Two yang menduduki peringkat 18 di kasta keempat—menorehkan salah satu kejutan terbesar dalam sejarah sepak bola Inggris dengan menyingkirkan Arsenal, juara bertahan Premier League, melalui adu penalti 5-3 setelah bermain imbang 1-1 di Highbury Stadium. Kemenangan ini membawa Fleetwood untuk pertama kalinya melangkah ke perempat final Carabao Cup, sekaligus menempatkan nama mereka sejajar dengan kisah-kisah legendaris dalam tradisi fa cup yang penuh kejutan.
Arsenal datang sebagai tim yang baru saja finis sebagai runner-up Liga Champions musim lalu, hanya kalah lewat adu penalti di partai final. Namun, jarak 84 peringkat di piramida sepak bola Inggris seolah sirna di hadapan determinasi skuad asuhan Mikel Arteta yang tampil jauh dari standar. Fleetwood, yang saat itu berada di posisi ke-19 kasta keempat dan hanya menang dua kali dari sembilan laga sejak undian, justru membuka keunggulan lebih dulu melalui Aaron Loupalo-Bi pada menit ke-21. Viktor Gyokeres sempat menyamakan kedudukan setelah jeda, tetapi Arsenal gagal menambah gol dan harus bermain dengan 10 pemain sejak menit ke-86 setelah remaja Max Dowman dikartu merah akibat menendang balik usai benturan keras dengan Harrison Neal.
Di babak adu penalti, kiper Fleetwood, Jay Lynch, menjadi pahlawan dengan menepis eksekusi Bruno Guimaraes, sebelum Conor Haughey mencetak penalti penentu yang memicu euforia di lapangan dan tribun. Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Arsenal, yang dikenal memiliki hubungan rumit dengan League Cup—belum juara sejak musim 1992/93 dan telah kalah di tujuh final, empat di antaranya pada abad ini. Bagi Arteta dan para pemainnya, kegagalan ini terasa lebih menyakitkan karena datang melawan tim kasta keempat yang sedang tidak dalam performa terbaik.
Kejutan Fleetwood bukanlah fenomena tunggal dalam sejarah kompetisi domestik Inggris. Tradisi fa cup telah lama menjadi panggung bagi tim-tim kecil untuk menantang raksasa. Pada 1992, Wrexham—yang saat itu terpaut 90 peringkat di bawah Arsenal—menyingkirkan The Gunners di putaran ketiga fa cup lewat gol telat Steve Watkin setelah Mickey Thomas menyamakan kedudukan melalui tendangan bebas. Kejutan serupa terjadi pada 2015 ketika Bradford City, tim kasta ketiga, menumbangkan Chelsea 4-2 di Stamford Bridge. Kisah-kisah ini menegaskan bahwa dalam fa cup, status dan peringkat sering kali kehilangan makna di hadapan semangat dan keberanian tim underdog.
Fenomena kejutan juga bergema di ajang Piala FA versi wanita dan kompetisi di benua lain. Nantwich Town Women, tim Tier 5, menutup perjalanan impresif mereka di Adobe Women’s FA Cup dengan kepala tegak setelah kalah 3-0 dari Milton Keynes Dons Women di Putaran Pertama. Meski tersingkir, pencapaian mencapai putaran tersebut sebagai tim kasta kelima tetap menjadi kebanggaan tersendiri, terlebih laga itu menjadi penampilan ke-50 bagi Katie Greenwood yang telah menyumbang 14 gol dan 12 assist. Sementara itu, di Ghana, Preliminary Round MTN FA Cup 2026/27 pada 23-25 Oktober menyajikan drama serupa, mulai dari kemenangan mengejutkan Yapei FC atas Real Tamale United hingga adu penalti dramatis yang membawa Okwawu United, Nania FC, dan WAFA melaju ke babak 64 besar.
Bagi Fleetwood, kemenangan atas Arsenal adalah pencapaian terbesar dalam sejarah klub. Bagi Arsenal, ini adalah pengingat pahit bahwa sepak bola tidak mengenal status di atas kertas. Dan bagi para penggemar, malam itu menjadi bukti bahwa pesona fa cup dan kompetisi domestik lainnya terletak pada kemungkinan tak terbatas yang selalu terbuka bagi tim mana pun, sekecil apa pun namanya. Ketika wasit meniup peluit akhir dan para pemain Fleetwood berlarian merayakan, sejarah kembali mencatat bahwa di sepak bola, keajaiban selalu punya tempat—dan Piala domestik adalah rumahnya.
Kejutan ini seharusnya menjadi cermin bagi klub-klub besar untuk tidak pernah meremehkan lawan, sekaligus menjadi inspirasi bagi tim-tim kecil bahwa mimpi besar bisa diwujudkan di atas lapangan. Sebab pada akhirnya, kompetisi seperti fa cup bukan sekadar tentang trofi, melainkan tentang cerita-cerita yang membuat sepak bola tetap dicintai sepanjang masa.
