Harga Minyak Dunia Meledak ke US$ 116, Ketegangan Iran-AS Bikin Pasar Panik
Inforiau – 24 Oktober 2026 | Harga minyak dunia kembali mencuri perhatian pasar global setelah melonjak ke level tertinggi dalam hampir enam bulan terakhir. Pada perdagangan Jumat (23/10/2026), harga minyak mentah acuan Brent ditutup melesat 3,14 persen ke posisi US$ 116,72 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 3,82 persen ke level US$ 103,27 per barel. Kenaikan tajam harga minyak ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah yang kembali memanas.
Posisi penutupan tersebut menjadi yang tertinggi sejak 29 April 2026. Sepanjang pekan perdagangan 19-23 Oktober, Brent tercatat melonjak 6,24 persen, sedangkan WTI menguat 1,83 persen. Dengan demikian, kedua acuan minyak dunia itu sama-sama membukukan penguatan mingguan selama tiga pekan berturut-turut, memperpanjang tren positif yang sudah berlangsung sejak beberapa waktu lalu.
Eskalasi Konflik Jadi Pemicu Utama
Lonjakan harga minyak tidak terlepas dari situasi keamanan di Timur Tengah yang kian membara. Ekspektasi bahwa Amerika Serikat akan kembali melancarkan serangan terhadap Iran dalam beberapa pekan mendatang menjadi katalis utama. Presiden AS Donald Trump pada Rabu menyatakan Washington tidak sedang bernegosiasi dengan Iran dan sesuatu akan terjadi “dalam waktu yang relatif dekat”. Pernyataan itu muncul setelah pejabat AS menyampaikan bahwa AS dan Israel memiliki rencana untuk kembali menyerang Iran setelah pemilihan paruh waktu pada 3 November 2026.
Ketegangan semakin memuncak setelah televisi Iran melaporkan tujuh kapal tanker di Selat Hormuz diserang dan terkena ranjau laut. Empat kapal diklaim diserang Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), sedangkan tiga lainnya meledak akibat ranjau yang dipasang di sekitar selat strategis tersebut. Trump pun menuduh Iran menyebarkan laporan palsu untuk menghambat pasokan minyak dan menaikkan harga minyak global menjelang pemilu paruh waktu AS.
“Iran melakukan segala yang mereka bisa untuk menaikkan harga minyak menjelang pemilihan paruh waktu AS. Mereka bahkan mengarang cerita tentang serangan palsu, ranjau, dan segala macam hal lainnya,” tulis Trump di Truth Social. Sebaliknya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan Selat Hormuz masih ditutup hingga AS menyetujui seluruh syarat perdamaian Teheran.
Serangan Houthi Guncang Fasilitas Energi Saudi
Selain ketegangan AS-Iran, serangkaian serangan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran terhadap wilayah Arab Saudi turut memperparah kekhawatiran pasar. Serangan pesawat nirawak terhadap ladang minyak Shaybah menewaskan dua orang dan melukai dua lainnya. Serangan di Bandara Internasional King Fahd, Dammam, juga menewaskan sedikitnya dua orang dan melukai delapan orang. Raksasa minyak Saudi Aramco bahkan meminta karyawannya mengosongkan kantor pusat di Dhahran dan bekerja dari jarak jauh.
Kepala Angkatan Darat Iran menyatakan militernya siap sepenuhnya menghadapi “perang asimetris” setelah memperkuat kemampuan tempurnya. Sementara itu, Departemen Luar Negeri AS memerintahkan personel non-esensial untuk meninggalkan Arab Saudi akibat eskalasi serangan yang terus terjadi.
Tekanan pada Pasokan Diesel Global
Tekanan terhadap harga minyak juga datang dari sisi pasokan. Serangan Ukraina terhadap kilang diesel Rusia memperburuk ketersediaan bahan bakar di pasar internasional. Peningkatan ekspor dari Teluk Arab belakangan ini dinilai belum cukup untuk memastikan distribusi energi telah pulih secara permanen. Analis Citigroup memperingatkan bahwa peningkatan arus pengiriman selama beberapa hari belum tentu mencerminkan normalisasi pasokan secara menyeluruh, karena bisa saja hanya mencerminkan penarikan inventaris atau pelepasan barel yang sebelumnya ditimbun.
Kepala Strategi Investasi Wealth Club, Susannah Streeter, menyebut serangan Houthi terhadap fasilitas di Arab Saudi meningkat sepanjang pekan ini, sementara pelayaran di Selat Hormuz masih menghadapi bahaya akibat proyektil yang terus diluncurkan. Pialang Interactive Investor, Richard Hunter, menambahkan bahwa laporan mengenai kemungkinan serangan baru AS terhadap Iran, alih-alih menempuh jalur diplomasi, telah mendorong kenaikan harga minyak. “Apa yang banyak dianggap akan menjadi konflik singkat kini memasuki bulan kedelapan,” ujarnya.
Sepanjang 2026, harga minyak tercatat telah melonjak lebih dari 85 persen. Pada Februari, Brent masih berada di level US$ 72 per barel sebelum meroket akibat ancaman Teheran untuk menyerang instalasi minyak, kabel bawah laut, hingga fasilitas kecerdasan buatan apabila AS dan Israel kembali melancarkan serangan. Kini, dengan harga minyak yang bertahan di atas US$ 116 per barel, pasar energi global berada di titik krusial yang sangat bergantung pada perkembangan geopolitik Timur Tengah.
Ke depan, arah pergerakan harga minyak akan sangat dipengaruhi oleh hasil pemilihan paruh waktu AS, respons militer Iran, serta efektivitas pengamanan Selat Hormuz oleh CENTCOM. Selama ketegangan belum mereda, volatilitas harga minyak diperkirakan akan tetap tinggi dan berpotensi menekan perekonomian global, terutama negara-negara pengimpor energi seperti Indonesia yang harus mewaspadai dampak terhadap subsidi dan inflasi.
