IHSG Saham Terpuruk ke 5.179, 25 Saham Mentok ARB dan Demo Mahasiswa Bayangi Pasar
Inforiau – 28 Oktober 2026 | Pasar modal Indonesia kembali dilanda tekanan tajam. Perdagangan ihsg saham pada sesi I Rabu (28/10/2026) berakhir memerah setelah Indeks Harga Saham Gabungan terpuruk 87,06 poin atau 1,65% ke level 5.179,06. Sepanjang sesi, indeks bergerak di rentang 5.167 hingga 5.256, mencerminkan kuatnya tekanan jual yang belum mampu dibendung pelaku pasar.
Pelemahan ini memperpanjang tren negatif yang sudah terlihat sejak awal pekan. Sehari sebelumnya, ihsg saham juga ditutup melemah di level 5.266 setelah turun 1,99%, dengan nilai transaksi mencapai Rp17,57 triliun. Saat itu tercatat 100 saham menguat dan 611 saham melemah, menggambarkan dominasi sentimen negatif di hampir seluruh lini pasar.
Tekanan Global dan Domestik Datang Bersamaan
Sejumlah faktor disebut menjadi pemicu koreksi. Dari sisi global, pelaku pasar menanti keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Fed, yang dijadwalkan diumumkan pada Kamis (29/10) dini hari waktu Indonesia. Konsensus memperkirakan suku bunga ditahan di kisaran 3,75%-4,00%, namun perhatian investor tertuju pada pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh soal prospek inflasi dan pasar tenaga kerja. Sikap yang lebih hawkish berpotensi memperkuat dolar AS dan menekan aset berisiko, termasuk saham negara berkembang seperti Indonesia.
Dari dalam negeri, minat lelang Surat Utang Negara merosot tajam. Total penawaran yang masuk hanya Rp31,09 triliun, anjlok 52,1% dibanding lelang sebelumnya dan menjadi yang terendah sejak November 2024. Yield rata-rata tenor 10 tahun justru melonjak ke 7,54%, tertinggi sejak November 2022. Pemerintah hanya menyerap Rp20,65 triliun, di bawah target indikatif Rp30 triliun. Kombinasi lemahnya permintaan dan naiknya yield ini dikhawatirkan memicu arus modal keluar sehingga menambah beban bagi ihsg saham dan nilai tukar rupiah.
Sentimen lain datang dari rencana aksi demonstrasi mahasiswa dan elemen masyarakat sipil. Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai demonstrasi berpotensi menambah tekanan jangka pendek, meski besarnya dampak bergantung pada skala aksi, durasi, dan respons pemerintah.
“Besarnya dampak akan bergantung pada skala aksi, durasi, dan respons pemerintah. Aksi demo juga tidak otomatis memicu aksi jual asing,” ujar Elandry.
Menurutnya, investor global mempertimbangkan kombinasi faktor, termasuk stabilitas politik, pelemahan rupiah, ketidakpastian MSCI, serta kondisi ekonomi global. Jika aksi berlangsung kondusif dan tidak mengganggu aktivitas ekonomi, dampaknya berpotensi lebih terbatas.
Seluruh Sektor Memerah, Infrastruktur Paling Terpukul
Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan seluruh sektor saham berakhir di zona merah pada penutupan sesi I. Sektor infrastruktur memimpin pelemahan dengan ambrol 3,83%, disusul sektor perindustrian 3,41%, energi 3,22%, barang baku 3,1%, dan barang konsumsi primer 2,26%. Saham-saham blue chip yang tergabung dalam LQ45 juga terpangkas 1,33%.
Sebanyak 16,62 miliar lembar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi Rp7,41 triliun dan frekuensi 921.678 transaksi. Tercatat 131 saham naik, 553 saham turun, dan 104 saham stagnan. Yang paling mencolok, sebanyak 25 saham mentok batas auto rejection bawah (ARB) dan masuk daftar top losers, termasuk saham dua emiten milik Haji Isam.
Pada perdagangan sesi I sebelumnya, saham-saham pemberat indeks antara lain BBRI, BMRI, TLKM, BREN, dan MORA. Sementara saham penekan koreksi mencakup BBCA, AMMN, TPIA, MDKA, dan PGAS. Pelemahan ihsg saham ini kontras dengan bursa Asia yang justru kompak menguat, dengan Shanghai naik 0,63%, Straits Times 0,01%, Nikkei 1,09%, dan Hang Seng 0,35%.
Strategi Investor di Tengah Volatilitas
Di tengah meningkatnya volatilitas, Elandry menyarankan investor tetap selektif dan tidak terburu-buru mengambil keputusan berdasarkan sentimen sesaat. Strategi wait and see dinilai tepat ketika arah pergerakan ihsg saham belum menunjukkan kepastian. Bagi investor berhorizon jangka menengah-panjang, koreksi dapat dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap pada saham berfundamental kuat, valuasi menarik, dan likuiditas baik.
“Tidak perlu terburu-buru masuk sekaligus, tetap perhatikan diversifikasi dan batas risiko. Kuncinya adalah membedakan tekanan sentimen jangka pendek dengan perubahan fundamental perusahaan,” pungkasnya.
Secara keseluruhan, pergerakan ihsg saham dalam beberapa hari terakhir menunjukkan pasar masih dibayangi ketidakpastian eksternal dan domestik. Keputusan The Fed, hasil lelang surat utang, serta perkembangan aksi demonstrasi akan menjadi penentu arah indeks dalam waktu dekat. Investor disarankan mencermati setiap katalis secara cermat sebelum mengambil posisi, sambil tetap menjaga disiplin risiko di tengah pasar yang masih rentan terhadap gejolak.
