Jawa Tengah Bidik Investasi Rp110 Triliun, Gubernur Luthfi: Kami Optimistis!
Inforiau – 23 Oktober 2026 | Jawa Tengah terus memantapkan posisinya sebagai salah satu magnet investasi utama di Indonesia. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan optimisme bahwa realisasi investasi di provinsi ini akan menembus Rp110 triliun hingga akhir 2026. Keyakinan tersebut disampaikan saat membuka Forum Investasi Jawa Tengah yang dirangkai dengan detikJateng-Jogja Awards 2026 di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang, Jumat (23/10/2026).
“Kami optimistis, sebentar lagi ada perusahaan dari Vietnam akan masuk. Kami optimistis bahwa 2026 nanti bisa menyamai capaian tahun lalu, yaitu Rp110 triliun,” ujar Luthfi di hadapan para investor, kepala daerah, dan pemangku kepentingan.
Data yang dipaparkan menunjukkan tren positif. Sepanjang 2025, realisasi investasi Jawa Tengah mencapai Rp88,50 triliun atau naik 28 persen dibanding tahun sebelumnya, dengan penyerapan sekitar 326 ribu tenaga kerja. Pada triwulan I 2026, realisasi investasi tercatat Rp23,02 triliun dan menyerap 92 ribu tenaga kerja. Angka itu terus melaju hingga triwulan II menjadi Rp59,94 triliun, lalu triwulan III menembus Rp72,54 triliun.
Menurut Gubernur, capaian tersebut merupakan buah kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Berbagai forum bisnis dan investasi, kerja sama antardaerah, hingga sister province dan sister city dengan negara sahabat menjadi instrumen penting. “Forum-forum bisnis dan investasi seperti ini dapat mempertemukan dunia usaha, kawasan industri, serta pemangku kebijakan. Salah satu contoh, kami punya Central Java Investment Business Forum yang sehari bisa menghasilkan investasi sampai Rp19 triliun,” tuturnya.
Peran kepala daerah juga menjadi kunci. Mereka didorong bertindak sebagai manajer pemasaran wilayah, termasuk menyiapkan kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus baru. Saat ini terdapat sekitar tujuh kawasan industri eksisting di Kota Semarang, Demak, Kendal, Batang, dan Brebes. Sekitar 12 kawasan baru tengah disiapkan untuk menumbuhkan pusat pertumbuhan ekonomi baru di Jawa Tengah.
Acara di KEK Batang tersebut juga dihadiri sejumlah tokoh, antara lain Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Sudaryanto, Kapolda Jawa Tengah Irjen Roy Hardi Siahaan, Bupati Kebumen Lilis Nuryani, Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra, serta sejumlah kapolres dan perwakilan perusahaan. Hadir pula Wakil Ketua Tim Pelaksana Dewan KEK Budi Santoso yang mewakili Wamenko Perekonomian, jajaran detikcom, dan pelaku usaha.
Dalam forum itu, detikJateng-Jogja Awards 2026 mengangkat tema “Jawa Tengah Gerbang Investasi Indonesia: Sinergi Pemerintah, Investor, dan Kawasan Industri Menuju Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan”. Penghargaan diberikan kepada tokoh dan program inovasi pembangunan yang dinilai berkontribusi nyata bagi kemajuan Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Di sisi lain, Jawa Tengah juga menghadapi tantangan serius. Polda Metro Jaya membongkar dua pabrik Tramadol ilegal di Kecamatan Gatak dan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, pada 15 Oktober 2026. Sebanyak 16 orang ditetapkan sebagai tersangka. Salah satu pabrik di Kartasura disebut mampu memproduksi jutaan butir per hari dengan omzet sekitar Rp3 miliar. Ironisnya, pabrik tersebut hanya memiliki izin pembuatan kertas dan botol, bukan izin farmasi, serta tidak memiliki izin edar BPOM. Polisi masih memburu bos pemilik pabrik.
Meski demikian, iklim investasi di Jawa Tengah tetap dijaga. Gubernur Luthfi menegaskan komitmennya menjamin keamanan investor dari praktik premanisme dan pungutan liar. Ia juga menyatakan siap “jemput bola” kepada puluhan investor Vietnam yang berminat menanamkan modal.
Dengan fundamental ekonomi yang kuat, dukungan infrastruktur kawasan industri, serta sinergi pemerintah dan dunia usaha, Jawa Tengah optimistis menutup 2026 dengan capaian investasi Rp110 triliun. Keberhasilan ini diharapkan tidak hanya menciptakan lapangan kerja, tetapi juga memperkokoh pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di Jawa Tengah.
