Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto Bongkar 243 Tersangka Karhutla hingga Sindikat Narkoba 1 Ton
Inforiau – 24 Oktober 2026 | Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto kembali menjadi sorotan publik setelah melaporkan sejumlah capaian besar dalam penegakan hukum kepada Presiden Prabowo Subianto. Dalam laporan tersebut, Kapolri mengungkap penetapan ratusan tersangka kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Langkah ini menegaskan komitmen institusi Polri dalam menindak pelaku perusakan lingkungan, baik perorangan maupun korporasi.
Menurut paparan Kapolri, sebanyak 243 orang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus karhutla. Total ada 286 laporan yang ditangani oleh 13 Kepolisian Daerah (Polda) dengan luas lahan terbakar mencapai 5.856 hektare untuk kasus perorangan. Sementara itu, penanganan kasus korporasi mencatat 100 laporan yang ditangani 10 Polda serta Direktorat Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri. Sebanyak 13 korporasi ditetapkan sebagai tersangka dengan luas lahan terbakar mencapai sekitar 29.534,99 hektare.
Peran seorang jenderal polisi dalam mengawal kasus sebesar ini menjadi krusial. Suyudi menegaskan bahwa penegakan hukum tidak pandang bulu, termasuk terhadap perusahaan besar yang terbukti bertanggung jawab atas kebakaran lahan. Presiden Prabowo sebelumnya juga menegaskan bahwa perusahaan asing pun turut bertanggung jawab atas karhutla di Indonesia, sehingga penanganan hukum harus dilakukan secara menyeluruh.
Sinergi Kapolri dan Kepala BNN
Di sisi lain, jenderal polisi yang kini merangkap sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) itu menunjukkan kinerja nyata dalam pemberantasan narkoba. Saat menghadiri pengungkapan kasus kapal MT Global 168 yang diduga membawa satu ton narkoba jenis ketamine di Perairan Belawan, Sumatera Utara, Suyudi mengaku bahagia masih dipercaya memegang dua jabatan strategis tersebut.
“Saya sangat berbahagia karena saya bisa berbicara dalam kapasitas saya sebagai Kapolri sekaligus juga sebagai Kepala BNN,” ujarnya dalam sambutannya. Dalam pengungkapan itu, polisi menangkap delapan orang tersangka, terdiri dari tujuh Warga Negara Indonesia dan satu Warga Negara Asing.
Suyudi mengakui bahwa Sumatera Utara belakangan ini menjadi wilayah dengan kasus tindak pidana narkoba tertinggi berdasarkan data Badan Pusat Statistik dan Badan Riset dan Inovasi Nasional. Meski demikian, ia meminta jajarannya tidak berkecil hati karena pengungkapan kasus juga tercatat banyak. Ia menekankan pentingnya langkah pencegahan dari hulu sebagai upaya memutus mata rantai peredaran narkoba.
Mutasi dan Penanganan Kasus Internal
Sebagai pemimpin institusi, jenderal polisi bintang empat ini juga aktif melakukan penyegaran organisasi. Melalui surat telegram tertanggal 10 Oktober 2026, Kapolri memutasi Brigjen Pol I Made Agus Prasatya sebagai Direktur Registrasi dan Identifikasi (Dirregident) Korlantas Polri. Made Agus sebelumnya menjabat sebagai Direktur Penegakan Hukum Korlantas Polri sejak Juni 2026 dan dikenal konsisten menghadirkan inovasi pelayanan kepada masyarakat.
Kadiv Humas Polri Irjen Johnny Eddizon Isir menyatakan bahwa penempatan personel dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan organisasi, kompetensi, kapabilitas, rekam jejak, dan integritas. Rotasi ini menjadi bagian dari upaya menjaga profesionalisme tubuh Polri di bawah kepemimpinan seorang jenderal polisi.
Meski demikian, sejumlah persoalan internal masih menjadi perhatian publik. Terkait insiden polisi tembak polisi di Pondok Cabe yang menewaskan Bharatu Laurentius Valdo Fernandez Lawai oleh juniornya, Bharada Andika Rahmadani, Suyudi menegaskan bahwa kasus tersebut telah ditangani Propam Polri. Bharada Andika telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan, sementara penyidik Polda Metro Jaya masih mendalami motif penembakan.
Di tengah berbagai dinamika tersebut, sosok jenderal polisi Suyudi Ario Seto diuji untuk menjaga kepercayaan publik. Mulai dari penegakan hukum lingkungan, pemberantasan narkoba, hingga pembenahan internal institusi, semuanya menjadi cermin kualitas kepemimpinan Polri.
Secara keseluruhan, rangkaian langkah yang dilaporkan Kapolri kepada Presiden menunjukkan arah penegakan hukum yang tegas dan menyeluruh. Penetapan ratusan tersangka karhutla, pengungkapan sindikat narkoba satu ton, serta penataan organisasi menandakan bahwa Polri berupaya hadir di tengah masyarakat. Publik kini menantikan kelanjutan proses hukum yang transparan dan berkeadilan, agar setiap keputusan yang diambil seorang jenderal polisi benar-benar membawa manfaat bagi bangsa dan negara.
