Kapal Pesiar Villa Vie Odyssey Tinggalkan Kamboja Tanpa Penumpang, 200 Wisatawan Terdampar
Inforiau – 05 November 2026 | Sebuah kapal pesiar mewah asal Amerika Serikat yang menjanjikan petualangan mengelilingi dunia selama tiga setengah tahun harus mengakhiri perjalanannya secara mendadak. Villa Vie Odyssey cruise ship, milik perusahaan berbasis Florida bernama Villa Vie Residences, meninggalkan pelabuhan Sihanoukville di Kamboja pada akhir Oktober lalu dengan hanya awak kapal di atas dek, meninggalkan sekitar 200 penumpang yang telah membayar ratusan ribu dolar untuk tinggal di atas kapal.
Insiden dramatis ini dimulai ketika Villa Vie Odyssey cruise ship yang sedang berlabuh di Sihanoukville untuk pemberhentian terjadwal tiba-tiba memerintahkan seluruh penumpangnya untuk meninggalkan kapal dalam waktu kurang dari 24 jam pada tanggal 28 Oktober. Keputusan yang mengejutkan ini diambil setelah perusahaan mengumumkan penghentian operasional pada 27 Oktober, mengutip peningkatan biaya bahan bakar yang drastis sebagai alasan utama.
Menurut Tang Sochetkresna, direktur Departemen Pariwisata Provinsi Preah Sihanouk, Villa Vie Odyssey cruise ship akhirnya meninggalkan pelabuhan Sihanoukville pada akhir hari Selasa, 4 November, dengan hanya sekitar 50 anggota awak di atas kapal. Tidak ada penumpang yang tersisa di atas kapal saat keberangkatan tersebut. Dari 200 penumpang yang dievakuasi, sekitar 100 orang masih berada di Sihanoukville, sementara sisanya telah menyebar ke berbagai negara di kawasan Asia Tenggara dan negara-negara lainnya.
Kapal yang sebelumnya bernama Braemar ini diakuisisi oleh Villa Vie Residences dari Fred. Olsen Cruise Lines pada tahun 2023. Setelah direnovasi besar-besaran pada 2024, kapal berkapasitas 650 penumpang ini dijadikan konsep unik sebagai rumah mengapung yang menawarkan gaya hidup permanen atau jangka panjang di laut. Beberapa penumpang dilaporkan telah menjual semua harta benda mereka untuk menjalani sisa hidup mereka di atas kapal ini.
Harga tiket untuk menginap di Villa Vie Odyssey cruise ship sangat premium. Kabin interior dimulai dari $100,000 dengan biaya bulanan sekitar $1,750 per orang untuk dua penghuni. Namun, beberapa penumpang membayar jauh lebih mahal, dengan beberapa suite mencapai $300,000 hingga $439,999 seumur hidup. Penumpang mayoritas berasal dari Amerika Serikat.
Krisis keuangan yang mengakibatkan penghentian operasional Villa Vie Odyssey cruise ship bermula dari lonjakan biaya bahan bakar yang tidak terduga. Biaya bahan bakar bulanan per kabin yang sebelumnya rata-rata $1,800 melonjak drastis menjadi $6,000 hingga $8,000 di beberapa wilayah Asia. Perusahaan mengaitkan peningkatan ekstrem ini dengan konflik di Iran yang dimulai pada akhir Februari 2026. Meskipun Villa Vie Residences telah mengambil langkah-langkah signifikan untuk mengurangi konsumsi bahan bakar, termasuk memperlambat jadwal perjalanan dan menghabiskan lebih banyak waktu di pelabuhan, upaya tersebut tidak cukup untuk mengimbangi kenaikan biaya operasional yang luar biasa.
Ketika Villa Vie Odyssey cruise ship tiba di Kamboja, dokumen internal yang dikaji oleh media menunjukkan bahwa perusahaan telah mengalami kesulitan keuangan selama setidaknya tiga bulan sebelumnya. Komunikasi internal juga mengungkapkan bahwa Villa Vie Residences telah mencari kontribusi keuangan tambahan dari penghuni untuk mendukung operasional. Beberapa penghuni melaporkan bahwa mereka mengalami penundaan pemeliharaan kapal dan pemotongan layanan selama berbulan-bulan sebelum pengumuman penghentian operasional.
Pada 1 November, perusahaan pemberi pinjaman yang bernama Ness, Risan & Partners AS, sebuah firma investasi swasta berbasis Norwegia, mengambil alih kontrol atas Villa Vie Odyssey cruise ship. Pemberi pinjaman ini sekarang bertanggung jawab atas semua biaya operasional kapal, termasuk gaji awak, bahan bakar, operasional kapal, dan keamanan. Penghuni diberi waktu hingga akhir pekan untuk mengumpulkan barang-barang pribadi mereka sebelum akses ke kapal dibatasi. Banyak penghuni melaporkan bahwa mereka tidak dapat membawa semua barang berharga mereka dari kapal.
Shirine Thomas, seorang penghuni dari Wilmington, North Carolina, mengatakan kepada media bahwa dia menyesal tidak dapat membawa semua barangnya. “Ada banyak hal di kapal yang ingin saya bawa, tetapi waktu yang diberikan sangat terbatas,” ujarnya setelah mengumpulkan beberapa barang terakhir.
Mary Ann Demsar, seorang guru sekolah menengah pensiunan berusia 67 tahun dari Ontario, Kanada, mengungkapkan frustrasinya terhadap kurangnya komunikasi dari manajemen Villa Vie. “Kami tidak mendapatkan indikasi yang jelas dari pemilik Villa Vie tentang apa yang akan terjadi. Satu-satunya informasi yang kami terima adalah dari pemerintah Kamboja yang sangat membantu,” katanya.
Setelah mengambil alih, pemberi pinjaman merancang rencana untuk memindahkan Villa Vie Odyssey cruise ship ke Singapura, pusat maritim utama Asia Tenggara, di mana kapal dapat ditawarkan untuk lelang. Namun, tidak ada jadwal penjualan atau lelang yang telah dijadwalkan secara resmi. Pendiri dan ketua eksekutif Villa Vie, Mike Petterson, menyatakan bahwa perusahaan sedang mencari mitra operasional dan mengusulkan pengaturan restrukturisasi yang dapat memungkinkan perusahaan untuk mendapatkan kembali kontrol atas kapal. Proses ini diperkirakan dapat memakan waktu antara 30 hingga 90 hari.
Sekelompok penghuni berusaha membeli kapal secara bersama-sama, dengan 169 penghuni yang bersedia menginvestasikan dana tambahan. Namun, usaha ini gagal ketika pemberi pinjaman menolak untuk menyediakan pembiayaan untuk proposal tersebut. Petterson mengakui bahwa persiapan kapal telah menelan biaya $15 juta lebih dari yang dianggarkan, berkontribusi pada krisis keuangan perusahaan.
Perusahaan mempertimbangkan proses kebangkrutan Bab 11 dan memperkirakan bahwa prosedur ini dapat memerlukan sekitar $3 juta selama 60 hari pertama. Villa Vie juga mempertimbangkan pembiayaan debtor-in-possession dan kontribusi penghuni lebih lanjut sebagai bagian dari rencana restrukturisasi yang mungkin. Sebelum krisis saat ini, perusahaan induk Villa Vie, Residential Cruise Holdings, sedang mengejar akuisisi kapal pesiar lain dan mengembangkan dua proyek pesiar residensial tambahan. Perusahaan sekarang menyatakan bahwa prioritas utamanya adalah menyelesaikan situasi yang melibatkan Villa Vie Odyssey cruise ship.
Masa depan Villa Vie Odyssey cruise ship tetap tidak pasti. Sementara itu, penghuni yang telah menginvestasikan ratusan ribu dolar untuk hidup di laut harus menghadapi kemungkinan kehilangan investasi mereka sepenuhnya. Beberapa penghuni telah mengekspresikan kekhawatiran bahwa jaminan perusahaan tentang masa depan kapal dapat menciptakan harapan yang tidak realistis, mengingat kondisi keuangan yang sangat sulit saat ini.
