Kebakaran Besar di Lahan Gambut: Bara Tersembunyi, 10 Relawan Gugur, dan Perjuangan Panjang di Enam Provinsi
Inforiau – 24 Oktober 2026 | Kebakaran besar yang melanda kawasan hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia masih belum sepenuhnya teratasi hingga akhir Oktober 2026. Bencana ekologis yang nyaris selalu berulang setiap musim kemarau ini tidak hanya mengganggu aktivitas dan kesehatan masyarakat, tetapi juga telah memakan korban jiwa serta menyulitkan ribuan personel di lapangan. Persoalan menjadi semakin pelik karena sebagian titik api berada di lahan gambut, yang menyimpan bara di bawah permukaan dan sulit dipadamkan dengan cara biasa.
Guru Besar Bidang Ilmu Tanah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P., menegaskan bahwa kebakaran besar di kawasan gambut membutuhkan strategi pemadaman khusus. Gambut terbentuk dari akumulasi sisa tumbuhan yang terurai tidak sempurna dalam kondisi jenuh air. Ketika muka air tanah turun akibat kemarau panjang atau sistem drainase kanal, kelembapan tanah gambut menghilang sehingga tumpukan bahan organik menjadi sangat rentan terbakar.
“Begitu gambut mengalami penurunan muka air, gambut bisa memiliki lapisan serasah kering hingga beberapa meter,” ungkap Gunawan, Kamis (22/10/2026).
Kondisi tersebut membuat api menjalar ke dalam lapisan tanah dan meninggalkan bara tersembunyi. Kemunculan asap tipis dari permukaan tanah menjadi indikasi bahwa proses pembakaran di bawah tanah masih berlangsung. Oleh karena itu, upaya pemadaman tidak cukup hanya menyasar api yang tampak di permukaan. Penanganan memerlukan penyiraman masif dan mendalam agar menjangkau lapisan tanah terbawah, disertai pemantauan berkala untuk mengantisipasi titik api susulan.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 12 Oktober 2026, total area karhutla yang berada dalam penanganan satuan tugas mencapai 639,23 hektare. Penanganan terfokus di enam provinsi prioritas, yaitu Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, dan Riau. BNPB juga mencatat kebakaran di area lahan mineral, seperti yang terjadi di Taman Nasional Tanjung Puting seluas 513,89 hektare.
Di balik upaya pemadaman yang tak kenal lelah, deretan korban jiwa terus bertambah. Hingga Jumat (23/10/2026), tercatat 10 relawan meninggal dunia saat menangani kebakaran besar ini. Enam orang gugur di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Jawa Timur, tiga orang di Kalimantan Tengah, dan satu orang di Kalimantan Selatan.
BNPB mencatat lima korban di kawasan TNBTS, yaitu Sukaris (Petugas Balai Besar TNBTS), Hendra Rony Wagiyanata (Manggala Agni Pemula, Balai Besar TNBTS), Wisnu Yuda Pratama (Petugas keamanan DW Security, PT Mitra Indo Permai), Sefriel Ardiansyah (Petugas DW Engineering, PT Mitra Indo Permai), dan Munawi (Relawan pemadam kebakaran). Korban keenam adalah Suraji, petugas DW Security Artotel PT Mitra Indo Permai, yang meninggal setelah menjalani perawatan medis usai membantu pemadaman di perbukitan Desa Ngadirejo, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.
Pemakaman Suraji dihadiri keluarga, warga setempat, serta sejumlah pejabat dan unsur terkait, termasuk Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto, Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahya Nugraha beserta jajaran, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo R. Oemar Sjarief, dan unsur Forkopimka Lumbang. Kapolres Probolinggo AKBP Asmida Rizki Siregar melalui Kapolsek Lumbang AKP Yuliyana menyampaikan rasa kehilangan dan menekankan pentingnya aspek keselamatan bagi seluruh personel.
“Kami mengajak semua pihak untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan, memastikan keselamatan petugas selama proses penanganan karhutla, serta memperkuat kepedulian bersama dalam menjaga kawasan hutan agar terhindar dari kebakaran,” ujar Yuliyana.
Di Kalimantan Tengah, tiga relawan yang gugur adalah Akhmad Rizani (Ketua Tim Serbu Api Kelurahan Palangka, Kota Palangka Raya), Ahmadin alias Itam Madin (Relawan Damkar Huma Singgah Itah, Kotawaringin Barat), dan Aries Sutio Luthfil Hadi (Anggota Masyarakat Peduli Api, Kotawaringin Barat). Sementara di Kalimantan Selatan, gugur Nurdin alias Amang Udin (Relawan Damkar Kayu Bulan, Regu 03, Barito Kuala).
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan apresiasi atas keberangkatan dan kepedulian para relawan. Menurutnya, keterlibatan mereka sangat membantu mengoptimalkan operasi pemadaman di lapangan.
“Terima kasih kami atas kontribusi nyata dalam menyelamatkan komunitas maupun alam sekitar dari bahaya kebakaran. Saya yakin dengan pengorbanan tugas tenaga serta waktu yang telah disumbangkan, penanganan karhutla dapat dengan cepat diatasi,” kata Berton.
Dukungan bagi para pejuang karhutla juga datang dari masyarakat. Jumat (23/10/2026) pagi, Bobon Santoso bersama 10 anggota timnya mendirikan dapur umum di Camppeat, Desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Mereka menyiapkan sekitar 3.000 porsi makanan siap santap setiap hari selama dua hari pelaksanaan di Kalteng.
“Kami datang ke sini untuk membantu petugas dan relawan yang masih berjuang di lapangan. Penanganan karhutla ini sudah berlangsung cukup lama, bahkan hampir empat bulan,” ujar Bobon.
Tim tersebut juga menyalurkan 12 ribu botol air mineral berukuran 1,5 liter, paket obat-obatan, vitamin, serta perlengkapan logistik pendukung. Aksi kemanusiaan itu dijadwalkan berlangsung empat hari di Pulau Borneo, dengan dua hari pertama di Kalimantan Tengah dan dua hari berikutnya di Kalimantan Selatan, didukung jajaran Kodam XXII/Tambun Bungai.
Berikut ringkasan situasi penanganan kebakaran besar hingga akhir Oktober 2026:
- Total area karhutla dalam penanganan satgas: 639,23 hektare (data BNPB per 12 Oktober 2026).
- Enam provinsi prioritas: Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, dan Riau.
- Kebakaran lahan mineral di Taman Nasional Tanjung Puting: 513,89 hektare.
- Relawan gugur: 10 orang (6 di TNBTS, 3 di Kalimantan Tengah, 1 di Kalimantan Selatan).
Kompleksitas penanganan kebakaran besar di lahan gambut menuntut pendekatan yang berbeda dari kebakaran permukaan biasa. Selain penyiraman mendalam, pemantauan berkelanjutan menjadi kunci agar bara yang tersembunyi tidak kembali menyulut api baru. Sinergi antara pemerintah, TNI, relawan, dan masyarakat sipil pun menjadi tulang punggung dalam menghadapi bencana yang berlangsung hampir empat bulan ini.
Ke depan, pengendalian muka air tanah di kawasan gambut, penguatan keselamatan personel, serta kesadaran bersama untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar menjadi prasyarat penting. Tanpa langkah tersebut, kebakaran besar berpotensi terus berulang setiap musim kemarau, membawa dampak ekologis, kesehatan, dan sosial yang semakin berat bagi masyarakat Indonesia.
