Kebuntuan Pemilu Israel: Netanyahu Terjegal, Blok Arab Jadi Penentu Takdir Pemerintahan
Inforiau – 28 Oktober 2026 | Hasil israeli elections terbaru meninggalkan Israel dalam situasi politik yang belum pernah terjadi sebelumnya. Proyeksi dari tiga stasiun televisi utama—Channel 11, 12, dan 13—menunjukkan tidak ada pemenang jelas dalam pemilihan parlemen yang digelar Selasa lalu. Partai Likud pimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tetap menjadi partai terbesar dengan perolehan 24 hingga 25 kursi di Knesset yang beranggotakan 120 orang, namun blok kanan-religius yang dipimpinnya hanya mengumpulkan sekitar 50 kursi, jauh dari ambang mayoritas 61 kursi.
Di sisi lain, blok oposisi yang terdiri dari Partai Yashar pimpinan mantan Kepala Staf IDF Gadi Eisenkot, B’Yachad, Yisrael Beytenu, dan Partai Demokrat diproyeksikan meraih 50 hingga 53 kursi. Eisenkot, yang menawarkan diri sebagai alternatif hawkish terhadap Netanyahu, langsung menyatakan niatnya untuk menggantikan pemerintahan saat ini. “Saya akan segera bekerja untuk melaksanakan kehendak pemilih,” tegasnya. Sementara itu, pemimpin oposisi Yair Lapid menilai hasil israeli elections ini sebagai “kekalahan telak bagi blok Netanyahu.”
Yang paling mengejutkan dalam israeli elections kali ini adalah lonjakan partisipasi pemilih yang mencapai 74,3 persen pada pukul 20.00 waktu setempat—tertinggi dalam lebih dari 50 tahun terakhir. Data Komite Pemilihan Pusat menunjukkan angka ini melampaui 70,63 persen pada pemilu 2022. Bahkan pada pukul 18.00, partisipasi sudah mencapai 66,7 persen, naik 9 poin dari periode yang sama pada pemilu sebelumnya. Antusiasme luar biasa ini terutama datang dari komunitas Arab-Israel, yang selama ini sering merasa terpinggirkan.
Blok Arab, yang terdiri dari Partai Raam dan Daftar Bersama (gabungan Hadash, Taal, dan Balad), diproyeksikan meraih 17 hingga 18 kursi—menjadikan mereka sebagai kingmaker dalam pembentukan koalisi. Ketua Raam, Mansur Abbas, menyatakan bahwa tingginya partisipasi mencerminkan transformasi “frustrasi dan keputusasaan menjadi harapan” di kalangan warga Arab. “Pemerintahan Netanyahu telah memperlakukan warga Arab dengan buruk, dan komunitas Arab merespons dengan cara yang tepat,” ujarnya kepada Channel 12. Ia berharap kamp Eisenkot dan Raam dapat bersama-sama membentuk mayoritas.
Namun, jalan menuju koalisi tidaklah mulus. Untuk membentuk pemerintahan, Eisenkot memerlukan dukungan partai-partai Arab—baik sebagai mitra koalisi formal maupun melalui persetujuan diam-diam terhadap pemerintahan minoritas. Sayangnya, sebagian besar pemimpin oposisi menolak kemitraan formal dengan faksi Arab, dengan pengecualian Ketua Partai Demokrat Yair Golan. Ilmuwan politik Israel, Elizabeth Tsurkov, menulis di platform X bahwa oposisi dapat membentuk pemerintahan yang didukung partai Arab “jika mereka mengatasi rasisme mereka.”
Di sisi lain, Netanyahu menghadapi tekanan internal yang berat. Dua partai kecil sayap kanan—People of Israel pimpinan Ofer Winter dan The Reservists-Economic pimpinan Yoaz Hendel—diproyeksikan gagal melewati ambang batas 3,25 persen, semakin mempersempit jalannya menuju mayoritas. Bahkan Channel 14, jaringan yang biasanya mendukung Netanyahu, memperkirakan koalisinya hanya meraih 60 kursi—masih kurang satu kursi dari mayoritas. Dalam pidato video mendesaknya, Netanyahu memperingatkan bahwa mobilisasi besar-besaran partai Arab dan rival dapat menghadirkan “pemerintahan sayap kiri.” Ia mengimbau pendukung Likud untuk segera mencoblos dan tidak membuang suara pada partai-partai kecil.
Eisenkot membalas dengan tuduhan bahwa Netanyahu menggunakan “trik, kebohongan, dan intimidasi” untuk mendorong partisipasi. “Jika seseorang di pemerintahan memiliki sedikit rasa tanggung jawab, mereka akan memulai pagi ini di sini,” katanya saat mengunjungi komunitas yang diserang pada 7 Oktober. Ia menyerukan kepada seluruh warga Israel untuk memilih guna menyingkirkan “pemerintahan terburuk yang pernah dikenal Israel.”
Pemilu ini adalah yang pertama sejak tragedi 7 Oktober 2023, dan berlangsung di tengah perpecahan tajam mengenai akuntabilitas keamanan, kepemimpinan, dan masa depan institusi demokrasi. Sekitar 330.000 pemilih muda Israel—banyak di antaranya menghadapi wajib militer di bawah bayang-bayang perang—untuk pertama kalinya memberikan suara mereka. Di Kiryat Shmona, sebuah kubu Netanyahu dekat perbatasan Lebanon, seorang pria terlihat menendang dan merobek poster Eisenkot, sementara di Tel Aviv, keluarga korban dan mantan sandera mengheningkan cipta untuk mengenang mereka yang telah tiada.
Dengan konfigurasi politik yang terfragmentasi, pembentukan pemerintahan bisa memakan waktu berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan, dan tidak menutup kemungkinan pemilu baru akan digelar. Analis dari International Crisis Group memperingatkan bahwa “dalam jangka pendek, prospek Netanyahu untuk menggunakan kekuasaannya bahkan sebagai perdana menteri sementara untuk melancarkan perang melawan Iran masih terbuka.”
Kebuntuan dalam israeli elections ini menegaskan bahwa lanskap politik Israel telah berubah secara fundamental. Partisipasi rekor dan munculnya blok Arab sebagai kekuatan penentu sinyal bahwa publik menginginkan perubahan. Namun, tanpa mayoritas yang jelas, Israel kini berdiri di persimpangan yang tidak pasti—menunggu siapa yang akan berhasil merangkai puzzle kekuasaan di Knesset. Apa pun hasilnya, israeli elections kali ini akan dikenang sebagai momen ketika suara rakyat memecah kebuntuan, tetapi belum memberikan jawaban.
