Larissa Chou Memilih Mencintai Diri Sendiri: Kisah di Balik Perceraian Kedua dan Perjuangan Iman yang Menggetarkan
Inforiau – 01 November 2026 | Keputusan Larissa Chou untuk kembali menjalani hidup sendiri setelah perceraian keduanya menjadi sorotan publik. Ibu dua anak ini secara terbuka menegaskan bahwa tidak ada seorang perempuan pun yang bercita-cita mengakhiri ikatan pernikahan. Baginya, keputusan untuk kembali sendiri diambil demi mencari ketenangan dan kebahagiaan hidup yang lebih hakiki.
“Kalau boleh jujur, tidak ada perempuan yang ingin hidup sendiri. Jadi ketika kita memutuskan untuk memilih hidup sendiri, berarti sebenarnya jauh lebih bahagia saat sendiri sepertinya,” ujar Larissa Chou dalam sebuah podcast di kanal YouTube Oki Setiana Dewi.
Perempuan berdarah Tionghoa ini menyatakan bahwa setiap orang memiliki hak untuk memperoleh perlakuan yang baik serta dihargai dalam sebuah ikatan rumah tangga. Ia memegang prinsip bahwa perjuangan dalam pernikahan semestinya berjalan dua arah, bukan hanya dibebankan pada satu pihak saja.
“Karena menurut Rissa, hidup hanya satu kali. Rissa layak untuk dicintai dengan baik, dibahagiakan, diperjuangkan, dan diusahakan karena Rissa juga melakukan hal itu,” tuturnya.
Keputusan Berat yang Diambil Setelah Pertimbangan Batin
Keputusan berpisah akhirnya diambil setelah melalui berbagai pertimbangan batin yang panjang. Larissa Chou merasa bahwa kelangsungan rumah tangganya kala itu sudah berada di titik yang tidak lagi membawa kebaikan bersama. Alih-alih terus memaksakan diri bertahan dalam situasi yang penuh kesedihan, ia memilih untuk menyelamatkan kondisi emosionalnya.
“Jadi saat Rissa merasa ini sudah tidak baik, lebih banyak air matanya dan takutnya malah lebih banyak mudaratnya, jadinya tidak berkah. Rissa pengin kan rumah tangga yang sama-sama berjuang. Jadi saat Rissa merasa sepertinya Rissa sudah tidak kuat, Rissa enggak mau lebih menyakiti diri sendiri,” terangnya.
Baginya, mencintai pasangan tidak boleh sampai mengorbankan keutuhan diri sendiri. Prinsip tersebut menjadi pegangan kuat Larissa Chou dalam mengambil keputusan besar tersebut.
“Karena ketika kita mencintai seseorang, bukan berarti harus mengorbankan diri sendiri. Jadi Rissa ngerasa Rissa akan lebih memilih diri Rissa sendiri walaupun Rissa harus sakit, tapi setidaknya tidak berkepanjangan,” tegasnya.
Perjuangan Menjadi Mualaf yang Tak Terlupakan
Di balik kisah perceraiannya, Larissa Chou juga berbagi cerita tentang perjalanan spiritualnya sebagai seorang mualaf. Ujian hidup yang bertubi-tubi sempat membuat keistiqomahan sebagai seorang muslimah bergoncang. Rasa sepi dan beratnya memikul tanggung jawab sebagai orang tua tunggal sempat membuatnya teringat pada penerimaan hangat dari keluarga besarnya.
“InsyaAllah dengan sisa iman yang masih saya punya. Jangan berekspektasi tinggi karena saya juga sedang berjuang,” kata Larissa Chou.
Meski sempat merasa terpuruk dan kecewa, ia akhirnya memilih untuk tetap bertahan memeluk agama Islam. Salah satu pendorong terbesar adalah mengingat kembali pengorbanan serta penolakan besar dari keluarga ketika ia pertama kali memutuskan menjadi mualaf pada 2016.
“Jadi kalau Rissa ingat pas perjuangan masuk Islam itu sampai diusir dari rumah. Rissa waktu itu sampai ribut sama orang tua besar, sampai sempat diusir dari rumah walaupun akhirnya diterima kembali,” kenangnya.
Perjalanan awal memahami ajaran agama juga dilalui ibu dua anak itu dengan penuh keterbatasan secara mandiri. Ia mengaku sempat mengandalkan konten di internet hanya untuk mencari tahu tata cara pelaksanaan ibadah salat.
“Dulu ingat banget awal belajar salat aja tuh dari YouTube. Jadi Rissa kira tuh seluruh salat itu empat rakaat. Subuh juga Rissa kira empat rakaat, karena belajarnya waktu itu dari YouTube sampai akhirnya panggil guru ngaji,” ujarnya.
Pelajaran Hidup dari Sebuah Perjalanan Panjang
Mengingat kembali seluruh proses panjang tersebut membuat Larissa Chou sadar bahwa langkah mundur bukanlah jalan keluar. Setiap perjuangan, baik dalam rumah tangga maupun dalam memeluk keyakinan, telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih kuat dan menghargai diri sendiri.
Kisah Larissa Chou menjadi cermin bagi banyak perempuan bahwa memilih mencintai diri sendiri bukanlah bentuk keegoisan. Sebaliknya, hal itu merupakan wujud tanggung jawab terhadap kesehatan emosional dan kebahagiaan hidup yang hanya sekali. Keputusannya untuk berpisah dan tetap teguh dalam iman menunjukkan bahwa ketenangan batin jauh lebih berharga daripada bertahan dalam situasi yang menyakitkan.
Melalui pengalaman hidupnya, ia mengajarkan bahwa perjuangan dalam hubungan haruslah seimbang, dan harga diri seorang perempuan tidak boleh dipertaruhkan demi mempertahankan ikatan yang sudah tidak lagi membawa kebaikan.
