Leylah Fernandez Terhenti di Final Japan Open, Shnaider Rebut Gelar Usai Duel Tiga Set Sengit
Inforiau – 01 November 2026 | Petualangan leylah fernandez di turnamen Pan Pacific Open atau Japan Open 2026 di Tokyo harus berakhir dengan pil pahit. Petenis asal Laval, Quebec, Kanada itu gagal meraih gelar keduanya musim ini setelah takluk dari unggulan ketiga asal Rusia, Diana Shnaider, dalam pertarungan tiga set yang berlangsung selama dua jam 19 menit pada laga puncak, Minggu (1/11/2026).
Bertanding di hadapan penonton Tokyo, Shnaider membuka keunggulan dengan memenangkan set pertama 6-4. Namun, leylah fernandez menunjukkan karakter bertandingnya yang gigih. Finalis US Open 2021 itu bangkit dan merebut set kedua dengan skor ketat 7-5, memaksa laga berlanjut ke set penentu. Sayangnya, di set ketiga, Shnaider tampil lebih bertenaga dan menutup pertandingan dengan kemenangan 6-2.
Statistik pertandingan menunjukkan sejumlah catatan menarik. Leylah fernandez tercatat melakukan lima unforced error dan lima double fault, sementara Shnaider hanya mencatat dua ace tanpa double fault. Shnaider juga mendominasi permainan servis dengan memenangkan 11 dari 15 service game, sedangkan Fernandez hanya mampu mengamankan sembilan dari 15 service game. Dari sisi return, petenis Rusia itu memenangkan enam dari 15 game, berbanding empat dari 15 milik Fernandez.
Jalan Panjang Menuju Final
Meski gagal di partai puncak, perjalanan leylah fernandez menuju final Japan Open patut diapresiasi. Ia melangkah ke laga puncak setelah menaklukkan petenis Uzbekistan kelahiran Rusia, Kamilla Rakhimova, dengan skor 7-5, 6-3 pada babak semifinal Jumat lalu. Dalam laga tersebut, Fernandez sempat tertinggal lebih dulu di kedua set sebelum akhirnya bangkit dan menemukan solusi permainan.
Keberhasilan ini memperpanjang momentum positif petenis berusia 24 tahun tersebut di rangkaian tur Asia. Sebelumnya, ia sukses merebut gelar pertamanya musim ini di Singapura pada September dengan mengalahkan Talia Gibson. Pekan lalu, ia juga menembus final turnamen Ningbo, meski harus mengakui keunggulan petenis nomor satu dunia, Elena Rybakina.
“Saya bangga dengan ketangguhan mental saya. Pertandingan seperti ini tidak mudah. Saya senang bisa menemukan solusi dan tetap tenang ketika menghadapi situasi sulit,” ujar Fernandez usai laga semifinal.
Ia menilai keberhasilannya sepanjang tur Asia tidak terlepas dari keputusan bersama timnya untuk memperbanyak kesempatan bertanding setelah tersingkir pada babak ketiga US Open. Menurutnya, pengalaman menghadapi tekanan dalam pertandingan nyata tidak bisa sepenuhnya diciptakan dalam latihan.
“Kami sepakat bahwa hal yang paling saya butuhkan adalah lebih banyak pertandingan, menghadapi situasi sulit dan momen-momen tidak nyaman, serta belajar tetap kuat dalam kondisi tersebut,” katanya.
Shnaider dan Rekor Pertemuan
Di sisi lain, Shnaider melaju ke final setelah melewati pertarungan ketat melawan petenis Slovakia berusia 18 tahun, Mia Pohankova, dengan kemenangan 6-4, 7-6 (9/7). Petenis peringkat ke-13 dunia itu tampil impresif sepanjang turnamen, termasuk mengalahkan Alexandra Eala dan Aliaksandra Sasnovich di babak-babak sebelumnya.
Menariknya, rekor pertemuan kedua pemain memihak Shnaider. Ia memimpin 3-2 atas Fernandez dan telah memenangkan tiga pertemuan terakhir mereka, termasuk dua duel pada 2026 di Adelaide dan Charleston. Kemenangan di Tokyo ini mempertegas dominasi Shnaider atas leylah fernandez dalam beberapa pertemuan terakhir.
Laga final ini juga sempat diwarnai catatan menarik lainnya. Rybakina, yang memastikan diri sebagai petenis nomor satu dunia pada akhir musim, mundur dari pertandingan semifinal karena cedera leher. Ini membuat Fernandez mendapat jalan pintas menuju semifinal, meski akhirnya langkahnya tetap terhenti di partai puncak.
Perspektif dan Langkah Selanjutnya
Bagi leylah fernandez, kekalahan ini tentu menjadi pelajaran berharga. Meski gagal meraih gelar, penampilannya sepanjang tur Asia menunjukkan konsistensi yang semakin matang. Ia telah mencapai tiga final WTA tahun ini dan berpeluang besar mengakhiri musim dengan peringkat yang lebih baik.
Sementara itu, bagi Shnaider, gelar di Tokyo menjadi penutup musim yang manis sekaligus membawanya kembali ke ambang 10 besar dunia. Kemenangan ini juga menjadi jawaban atas performanya yang sempat naik-turun sepanjang tahun.
Dengan berakhirnya Japan Open, perhatian kini beralih ke sisa kalender tenis musim ini. Fernandez dijadwalkan masih tampil di beberapa turnamen penutup, sementara Shnaider berharap momentum kemenangan ini bisa dibawa ke musim depan. Terlepas dari hasil akhir, duel sengit di Tokyo telah menampilkan dua petenis kidal berbakat yang siap bersaing di papan atas dunia.
