Lo Kheng Hong Borong Saham ABMM 8 Kali di Oktober, Kepemilikan Tembus 5,7%
Inforiau – 28 Oktober 2026 | Investor kawakan Tanah Air, Lo Kheng Hong, kembali menunjukkan aksi akumulasi sahamnya di pasar modal. Sepanjang Oktober 2026, pria yang dijuluki Warren Buffett Indonesia ini tercatat delapan kali memborong saham PT ABM Investama Tbk (ABMM), emiten batu bara yang selama ini menjadi salah satu portofolio favoritnya. Langkah Lo Kheng Hong tersebut membuat kepemilikannya di ABMM kini mencapai 156,79 juta saham atau setara 5,70% dari total saham beredar perseroan.
Berdasarkan data transaksi kepemilikan saham, pembelian terbaru dilakukan pada Jumat, 23 Oktober 2026, sebanyak 35.700 saham. Transaksi itu meningkatkan kepemilikan Lo Kheng Hong dari sebelumnya 156.762.700 saham atau 5,69% menjadi 156.798.400 saham atau 5,70%. Sebelum transaksi tersebut, ia juga membeli 275.000 saham ABMM pada Senin, 19 Oktober 2026. Pembelian itu menjadi transaksi dengan jumlah saham terbesar di antara delapan akumulasi yang tercatat sepanjang bulan ini.
Rangkaian pembelian saham ABMM oleh Lo Kheng Hong sebenarnya sudah berlangsung sejak awal Oktober. Pada 16 Oktober, ia membeli 93.200 saham. Sehari sebelumnya, 15 Oktober, ia menambah 120.400 saham. Adapun pada 14 Oktober, ia membeli 10.000 saham. Pada 7 Oktober, Lo Kheng Hong tercatat dua kali membeli saham ABMM, masing-masing sebanyak 40.000 saham dan 10.000 saham. Sementara itu, pada 5 Oktober, ia membeli 50.000 saham emiten batu bara tersebut.
Dengan demikian, berdasarkan delapan transaksi yang tercatat, Lo Kheng Hong mengakumulasi sebanyak 634.300 saham ABMM sepanjang Oktober ini. Kepemilikannya meningkat dari 156.164.100 saham pada awal periode transaksi menjadi 156.798.400 saham per Jumat lalu. Aksi akumulasi ini menjadi sinyal kuat bahwa investor senior tersebut masih melihat prospek jangka panjang yang menarik dari emiten yang bergerak di sektor energi dan pertambangan batu bara itu.
Di tengah aksi akumulasi saham tersebut, ABM Investama mencatatkan peningkatan laba bersih pada semester I 2026. Perseroan membukukan laba bersih sebesar US$ 39,4 juta, naik 41,9% dibandingkan US$ 27,7 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kendati demikian, pendapatan konsolidasian perseroan tercatat relatif stagnan. ABMM membukukan pendapatan sebesar US$ 506,2 juta pada semester I 2026, turun tipis 0,1% dibandingkan US$ 506,9 juta pada semester I 2025.
Di sisi lain, adjusted earnings before interest, taxes, depreciation, and amortization (EBITDA) perseroan meningkat 6,4% menjadi US$ 346,9 juta dari US$ 326 juta pada periode yang sama tahun lalu. Dari sisi operasional, volume coal getting atau pengambilan batu bara meningkat 14% menjadi 17,9 juta ton, dibandingkan 15,7 juta ton pada semester I 2025. Akan tetapi, volume overburden removal atau pemindahan lapisan tanah penutup turun 12,7% menjadi 98 juta bcm dari 112,2 juta bcm. Penjualan bahan bakar juga menyusut 26,5% menjadi 141,9 juta liter, dibandingkan 193 juta liter pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja keuangan ABMM yang tercatat pada semester I 2026 menunjukkan kombinasi antara efisiensi laba dan tantangan pada sisi pendapatan. Meski pendapatan sedikit menurun, laba bersih perseroan justru melonjak signifikan. Hal ini tidak lepas dari peningkatan EBITDA yang mencerminkan kemampuan perseroan dalam mengelola biaya operasional di tengah fluktuasi harga komoditas batu bara global.
Langkah Lo Kheng Hong yang terus menambah kepemilikan saham ABMM menjadi perhatian pelaku pasar. Sebagai investor yang dikenal dengan strategi value investing, setiap pergerakan portofolionya sering kali menjadi acuan bagi investor ritel. Akumulasi yang dilakukan secara bertahap sepanjang Oktober menunjukkan pendekatan sistematis dan keyakinan terhadap fundamental emiten dalam jangka panjang.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari manajemen ABMM maupun dari pihak Lo Kheng Hong terkait aksi korporasi tersebut. Namun, publikasi kepemilikan saham yang transparan memberikan gambaran bahwa investor senior ini masih aktif memantau dan menambah posisinya di emiten batu bara yang dinilai memiliki valuasi menarik.
Secara keseluruhan, aksi delapan kali pembelian saham ABMM oleh Lo Kheng Hong sepanjang Oktober 2026 menjadi cerminan strategi akumulasi jangka panjang yang konsisten. Dengan kepemilikan kini mencapai 5,70%, posisinya sebagai salah satu pemegang saham signifikan di ABM Investama semakin kokoh. Kinerja laba bersih yang melonjak 41,9% pada semester I 2026 turut menjadi fondasi yang memperkuat keyakinan investor terhadap prospek emiten di sektor energi ini, meskipun tantangan pada sisi pendapatan dan volume operasional masih perlu dicermati ke depan.
Editor: Abuzar Samad
