Marc Guehi Tolak Berlutut Lagi, Bintang Man City Tegaskan Sikap Kontroversial di Tengah Sorotan Liga Inggris
Inforiau – 24 Oktober 2026 | Perdebatan soal gestur berlutut sebagai simbol antirasisme kembali memanas di jagat sepak bola Inggris. Bintang Manchester city, Marc Guehi, untuk kedua kalinya berturut-turut menolak melakukan gerakan take the knee jelang pertandingan Premier League akhir pekan ini. Sikap tegas bek timnas Inggris itu menjadi sorotan utama ketika sang juara bertahan melakoni laga sengit melawan Aston Villa di Villa Park, Sabtu (24/10/2026).
Guehi, yang pekan lalu menyatakan bahwa gestur berlutut telah ‘kehilangan maknanya’, kembali memilih tetap berdiri dan bertepuk tangan saat inisiatif ‘No Room for Racism’ digelar sebelum kick-off. Ia tak sendirian. Sejumlah pemain lain seperti Issa Diop (Ipswich Town), Ainsley Maitland-Niles (Everton), Dominic Calvert-Lewin (Leeds), serta Rayan dan Tyler Adams (Bournemouth) juga mengambil sikap serupa pada dua pekan yang disediakan liga untuk mendukung gerakan tersebut.
Langkah Guehi menuai perhatian luas karena ia merupakan pilar penting di lini belakang city sekaligus figur yang diharapkan menjadi teladan. Di sisi lain, Diop bahkan menjadi satu-satunya pemain dari 22 orang di lapangan yang tetap berdiri saat Ipswich menjamu Nottingham Forest di Portman Road pada Jumat malam. Keputusan para pemain ini memicu diskusi hangat di kalangan penggemar maupun pengamat soal efektivitas simbol perlawanan terhadap diskriminasi di dunia olahraga.
Di tengah hiruk-pikuk itu, Manchester city tetap fokus menatap agenda penting lainnya. Klub asuhan Enzo Maresca tersebut dikabarkan siap menghidupkan kembali perburuan bek kanan Chelsea, Malo Gusto, pada bursa transfer Januari mendatang. Langkah ini muncul setelah Chelsea menurunkan harga permintaan yang sebelumnya mencapai angka rekor dunia sebesar £70 juta, melebihi rekor bek kanan termahal milik Achraf Hakimi sebesar £57 juta.
Menurut laporan yang beredar, manajemen city memandang pemain berusia 23 tahun itu sebagai tambahan jangka panjang yang ideal dengan ruang berkembang masih luas. Gusto sendiri masih terikat kontrak di Stamford Bridge hingga Juni 2030, namun persaingan ketat di posisi bek kanan di bawah asuhan Xabi Alonso—dengan keberadaan Reece James, Marco Palestra, Josh Acheampong, hingga Pedro Neto—bisa mendorong Chelsea melepasnya bila tawaran menarik datang.
Meski demikian, rencana belanja city di musim dingin masih bergantung pada hasil kasus pelanggaran aturan finansial yang tengah bergulir. Potensi sanksi olahraga dari persidangan tersebut dapat membatasi kemampuan klub mendaftarkan pemain baru dan menciptakan ketidakpastian tersendiri.
Sementara itu, dinamika di dalam kota-kota Inggris turut menambah warna cerita akhir pekan ini. Di Liverpool, sebuah pub bersejarah di pusat city bernama Doctor Duncan’s di St John’s Lane tetap menyambut para pengunjung selama lebih dari 120 tahun. Bangunan yang pertama kali dibuka pada 1901 sebagai gedung Pearl Assurance itu dirancang oleh arsitek kenamaan asal Liverpool, Alfred Waterhouse, dan kini dikenal lewat suasana berkarakter, pilihan bir kerajinan, serta komunitas pelanggan setianya di bawah asuhan manajer umum Kai Lye.
Dari kawasan Timur Tengah, ketegangan juga mewarnai sejumlah kota. Israel memberlakukan penutupan luas dan memindahkan warga di kota Hebron, Tepi Barat, pada Sabtu setelah serangan penembak Palestina menewaskan dua tentara. Ratusan keluarga meninggalkan kawasan Deir Baha, sementara semua gerbang masuk dan keluar kota ditutup bagi kendaraan. Di saat yang sama, serangan udara menewaskan empat orang di Yaman, dan seorang komandan senior militer Iran menegaskan negaranya tidak akan membiarkan kapal perang Amerika Serikat memasuki Teluk Persia.
Kembali ke lapangan hijau, pertandingan antara city dan Aston Villa berlangsung sengit. Manajer Enzo Maresca berambisi mempertahankan catatan sempurna di awal musim, sementara Villa memberikan perlawanan keras. Sejumlah peluang emas tercipta, termasuk sepakan Josko Gvardiol yang ditepis Zion Suzuki dan tembakan Jeremy Doku yang melebar. Atmosfer di Villa Park terasa kian panas seiring jalannya pertandingan.
Isu take the knee sendiri terus menjadi cermin kompleksnya persoalan rasisme di sepak bola. Liga memang memberi ruang bagi para pemain untuk memilih, namun keputusan Guehi dan sejumlah rekannya menunjukkan pergeseran cara pandang generasi pemain terhadap simbol-simbol perlawanan. Publik kini menanti bagaimana klub, liga, dan para pemain akan merespons dinamika ini ke depan, sembari berharap pesan antirasisme tetap tersampaikan tanpa memecah belah.
Dari hiruk-pikuk transfer, ketegangan geopolitik, hingga denyut kehidupan pub bersejarah di jantung city, akhir pekan ini menegaskan bahwa sepak bola tak pernah lepas dari konteks sosial yang lebih luas. Sikap tegas Marc Guehi menjadi pengingat bahwa perdebatan soal makna simbol justru membuka ruang refleksi lebih dalam bagi dunia olahraga.
