Inforiau – 28 Oktober 2026 | Pebalap Spanyol Marc Márquez tiba di Sirkuit Internasional Sepang dengan posisi sebagai pemimpin klasemen MotoGP, membawa keunggulan 10 poin atas rival terdekatnya, Jorge Martín. Situasi ini menjadi modal berharga bagi pebalap berusia 33 tahun tersebut untuk memantapkan langkah menuju gelar juara dunia kesepuluhnya, sekaligus melampaui rekor Valentino Rossi yang selama ini menjadi rival abadinya.
Keunggulan tersebut diraih Marc Márquez setelah kemenangan dramatis di balapan sprint Grand Prix Australia. Dalam balapan singkat yang disebut sebagai salah satu yang paling mendebarkan dalam beberapa musim terakhir, Martín terjatuh di tikungan kedelapan pada putaran kedelapan, sehingga membalikkan situasi klasemen. Kini Marc Márquez mengoleksi 365 poin, sementara Martín tertinggal dengan 355 poin.
Balapan Utama Australia Dibatalkan
Sayangnya, momentum tersebut tidak bisa dimaksimalkan sepenuhnya. Balapan utama pada hari Minggu di Phillip Island terpaksa dibatalkan akibat cuaca buruk yang melanda kawasan tersebut. Hujan deras memaksa panitia menunda dan akhirnya menganulir seluruh balapan di tiga kelas, sehingga Marc Márquez kehilangan peluang untuk memperbesar jarak keunggulannya, terutama karena Martín dinyatakan tidak layak membalap akibat cedera.
Meski demikian, pebalap berjuluk ’93’ itu tetap optimistis menyambut seri berikutnya. Sepang dinilai sebagai sirkuit yang lebih bersahabat bagi motor Ducati dibandingkan Aprilia yang ditunggangi Martín. Sepanjang sejarah, dalam empat tahun terakhir, kemenangan di Sepang selalu diraih oleh pembalap Ducati, mulai dari Francesco Bagnaia pada 2022 dan 2024, Enea Bastianini pada 2023, hingga Álex Márquez pada 2025.
Rekam Jejak Marc Márquez di Sepang
Namun, catatan historis Marc Márquez di Sepang tidak sepenuhnya mulus. Ia baru meraih dua kemenangan di sirkuit sepanjang 5,54 kilometer dengan 15 tikungan tersebut, yakni pada 2014 dan 2018. Selain itu, ia mencatat empat podium, dua kemenangan dan dua posisi kedua pada 2013 dan 2019, serta tiga kali terjatuh pada 2015, 2016, dan 2024.
Meski begitu, performa Marc Márquez musim ini tergolong impresif. Ia menjadi pembalap dengan koleksi kemenangan terbanyak, baik di balapan utama maupun sprint, dengan masing-masing enam dan sembilan kemenangan. Ia diikuti Marco Bezzecchi dengan lima kemenangan di balapan utama, sementara Martín hanya mengoleksi empat kemenangan dengan satu kemenangan di balapan panjang.
Cuaca Hujan Jadi Faktor Penentu
Prakiraan cuaca menunjukkan hujan akan mengguyur Sepang sepanjang akhir pekan. Kondisi ini justru menguntungkan Marc Márquez yang dikenal sebagai spesialis balapan basah. Pada sesi kualifikasi terakhir di Australia, ia bahkan meraih pole position dengan selisih lebih dari satu detik dari pesaing terdekatnya.
Sementara itu, kondisi fisik Martín menjadi tanda tanya besar. Pebalap asal Madrid tersebut mengalami fraktur pada tulang radius lengan kanannya, hanya enam hari sebelum balapan di Sepang. Ia menolak menjalani operasi agar tetap bisa berjuang hingga akhir musim, namun jelas tidak akan berada dalam kondisi prima. Bahkan, ada keraguan apakah ia mampu tampil di kedua balapan akhir pekan ini.
Jika hujan turun, Martín akan semakin kesulitan karena balapan basah menuntut tenaga dan konsentrasi ekstra, sesuatu yang sulit dilakukan dengan cedera yang masih segar. Kondisi ini membuka peluang besar bagi Marc Márquez untuk meraih poin maksimal, yakni 37 poin dari sprint dan balapan utama.
Peluang Matematis dan Skenario Gelar
Marc Márquez sendiri menyadari pentingnya seri ini. Ia menyebut Sepang sebagai sirkuit yang menuntut secara fisik karena cuaca panas dan lembap. “Balapan Sabtu di Australia memberi saya kepercayaan diri besar, tetapi kami harus tetap fokus: tujuan kami adalah terus menjadi protagonis dan mengelola setiap sesi dengan sebaik mungkin,” ujarnya.
Peluang Marc Márquez untuk mengunci gelar semakin terbuka jika Grand Prix Qatar, yang dijadwalkan berlangsung pekan berikutnya, benar-benar dibatalkan. Dengan satu seri berkurang, ia berpotensi menjadi juara secara matematis pada Grand Prix Portugal, salah satu dari sedikit sirkuit yang belum pernah ia menangi.
Sementara itu, Francesco Bagnaia berharap bisa bangkit di Sepang setelah musim yang suram baginya. Ia menyebut Sepang sebagai salah satu sirkuit favoritnya di luar Eropa dan bertekad bekerja keras sejak sesi latihan Jumat untuk kembali menemukan performa terbaiknya.
Persaingan di kelas Moto2 juga memanas. Izan Guevara memenangi tiga balapan terakhir dan kini hanya terpaut 5,5 poin dari pemimpin klasemen, Manu González. Di kelas Moto3, gelar juara sudah dipastikan menjadi milik Máximo Quiles yang unggul 134 poin atas David Almansa.
Dengan segala faktor yang ada, mulai dari keunggulan poin, kondisi fisik rival, karakter sirkuit, hingga prakiraan cuaca, Marc Márquez berada di posisi yang sangat menguntungkan. Sepang bisa menjadi panggung penentuan bagi Marc Márquez untuk memantapkan langkah menuju gelar juara dunia kesepuluhnya dan menutup perjalanan panjang di dunia balap motor dengan catatan sejarah yang gemilang.
