Mati Listrik Melanda dari Makassar hingga Palangka Raya: Ribuan Ayam Mati hingga Warga Kehilangan Nyawa
Inforiau – 01 November 2026 | Gelombang mati listrik kembali menghantam sejumlah wilayah di Indonesia dalam beberapa hari terakhir, memicu dampak yang jauh melampaui ketidaknyamanan rumah tangga. Mulai dari pemadaman bergilir di Makassar hingga insiden di Palangka Raya yang berujung kerugian ekonomi besar, persoalan pasokan listrik kembali menjadi sorotan publik. Bahkan, dalam peristiwa nahas di Lumajang, kondisi listrik yang padam turut memperumit upaya pertolongan warga terhadap korban bencana.
PT PLN (Persero) menjadwalkan pengaturan beban atau pemadaman listrik bergilir di sejumlah wilayah Makassar, Sulawesi Selatan, pada Minggu (1/11/2026). Pemadaman melalui Unit Layanan Pelanggan (ULP) Mattoanging, Daya, Karebosi, dan Panakkukang itu berlangsung mulai pukul 08.30 WITA, dengan sebagian wilayah dijadwalkan padam hingga Senin (2/11/2026) dini hari pukul 01.00 WITA.
PLN menyebut pengaturan beban dilakukan bersamaan dengan pemeliharaan instalasi ketenagalistrikan demi menjaga keandalan sistem. Waktu dan durasi mati listrik pun berbeda-beda sesuai jaringan serta wilayah layanan masing-masing ULP. “Dalam rangka menjaga keandalan sistem dan layanan kelistrikan, PLN melakukan pengaturan beban pada beberapa wilayah akibat pemeliharaan instalasi ketenagalistrikan yang akan dilaksanakan,” demikian keterangan PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara (UID Sulselrabar).
Di wilayah ULP Mattoanging, pengaturan beban dibagi dalam tujuh kelompok waktu, mulai pagi hingga malam. Tahap yang tercantum berlangsung pukul 08.30-12.30, 09.30-13.30, 15.30-19.30, dan 16.30-20.30 WITA, sementara sejumlah titik lain berpotensi terdampak hingga melewati tengah malam. Wilayah yang masuk daftar antara lain Jalan Andi Jemma, Bonto Langkasa, Bonto Sunggu, sekitar RS Ananda, RS Labuang Baji, Jalan Dr Ratulangi, serta sejumlah kawasan permukiman, perkantoran, pusat belanja, dan jaringan komunikasi.
ULP Daya menjadwalkan pengaturan beban bertahap mulai pukul 08.30 hingga 19.30 WITA. Area terdampak mencakup Perumahan Bukit Khatulistiwa Perintis, Nusa Tamalanrea Indah, Griya Alam Permai, serta Bumi Tamalanrea Permai (BTP) Blok A-J dan L. Jadwal sore hingga malam juga menyasar Perumahan Puri Asri, Citraland Cluster F dan G, Perumnas Sudiang, Mangga 3, Family Garden Residence, Megah Nusa Madani, dan Grand Rahmani Residence.
Di bawah layanan ULP Karebosi, pemadaman berlangsung dalam enam tahap mulai pukul 08.30 hingga 20.30 WITA. Sejumlah objek yang perlu mengantisipasi gangguan pasokan antara lain Universitas Muslim Indonesia, Gedung DPRD Sulsel, Gedung Keuangan, dan Hotel Novotel. Ruas jalan yang masuk daftar meliputi Jalan Mesjid Raya, Jalan Lobak, Jalan Kandea, sebagian Jalan Urip Sumoharjo, Jalan Inspeksi Kanal, Bawakaraeng, Veteran Utara, Maccini Gusung, dan sekitarnya.
Sementara itu, ULP Panakkukang mengumumkan pengaturan beban dalam 10 tahap, mulai pukul 08.30 WITA hingga pukul 01.00 WITA pada Senin dini hari. Jadwal ini mencakup wilayah Jalan Yusuf Dg Ngawing, Raya Pendidikan, Mappala, Tamalate, Emmy Saelan, Boulevard, Pettarani, Toddopuli, dan Baruga.
Dampak paling keras dari mati listrik justru terjadi di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Ribuan bangkai ayam dilemparkan ke halaman Kantor PLN UP3 Palangka Raya, Jalan A Yani, Jumat (30/10/2026), sebagai bentuk protes atas pemadaman listrik yang terus berulang dan menyebabkan kerugian besar. Aksi yang digelar Aliansi Gerakan Palangka Raya Gelap itu menjadi gambaran langsung dampak pemadaman listrik terhadap kehidupan ekonomi masyarakat.
Bagi para peternak, listrik bukan sekadar kebutuhan penerangan, melainkan penopang utama kelangsungan usaha. Sekitar 2.000 ekor ayam dilaporkan mati setelah pemadaman listrik menyebabkan sistem sirkulasi udara di dalam kandang berhenti beroperasi. Suhu kandang yang meningkat membuat ribuan ternak tersebut tidak mampu bertahan.
Salah seorang perwakilan peternak, Satrio (35), mengatakan pemadaman berlangsung tiba-tiba dan cukup lama sehingga membuat kondisi kandang menjadi panas. Matinya sistem ventilasi menyebabkan ayam-ayam yang dipelihara mati secara massal. “Ayam-ayam kami mati karena tidak ada sirkulasi udara akibat pemadaman yang terjadi tiba-tiba dan berlangsung lama. Kerugian ini sangat berat bagi kami,” ungkapnya.
Satrio menegaskan, persoalan listrik di Palangka Raya tidak bisa lagi dipandang sebagai gangguan kenyamanan rumah tangga. Bagi pelaku usaha peternakan, kestabilan pasokan listrik berkaitan langsung dengan keselamatan ternak dan keberlangsungan produksi. Kerugian yang ditanggung peternak juga tidak berhenti pada kematian ribuan ayam. Modal untuk membeli bibit, biaya pakan, serta biaya pemeliharaan yang telah dikeluarkan ikut terancam hilang, sementara rencana penjualan ayam yang seharusnya menjadi sumber pendapatan pun berantakan.
Persoalan mati listrik juga bersinggungan dengan peristiwa bencana di Lumajang, Jawa Timur. Dua orang meninggal dunia, yakni Imron Rosadi (40) dan anaknya Hilya (9), karena rumah yang ditempati tertimpa tanah longsor di Desa Tamanayu, Kecamatan Pronojiwo, Sabtu (31/10/2026). Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang Isnugroho menyebut longsor terjadi akibat curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah tersebut sejak Jumat siang hingga Sabtu dini hari.
Pada pukul 02.10 WIB dilaporkan terjadi bencana tanah longsor yang menimpa rumah Imron Rosadi. Namun, warga sekitar belum berani menuju lokasi kejadian untuk memberi pertolongan karena hujan masih deras, kabut tebal, dan listrik padam. Setelah cuaca mulai reda pada pukul 04.30 WIB, warga mendatangi lokasi dan menemukan dua korban dalam kondisi meninggal akibat tertimpa material longsor.
Longsor diperkirakan memiliki panjang titik sekitar 8 meter dengan ketinggian 10 meter. Material tersebut menimpa bangunan dapur, kamar belakang, dan kamar mandi rumah korban. Pagar rumah milik Soleman juga runtuh dan menimpa rumah korban, sementara longsor menyebabkan kerusakan bagian dapur yang tertimbun tanah milik Wardi, tetangga korban.
Rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa mati listrik bukan sekadar persoalan teknis sesaat. Di Makassar, pemeliharaan instalasi memaksa ribuan pelanggan menyesuaikan aktivitas. Di Palangka Raya, gangguan pasokan menghancurkan usaha peternakan warga. Di Lumajang, ketiadaan listrik bahkan menjadi salah satu faktor yang memperlambat upaya pertolongan di tengah bencana.
Para peternak di Palangka Raya mendesak manajemen PLN memberikan penjelasan terbuka mengenai penyebab pemadaman yang terus berulang. Mereka menuntut solusi konkret agar gangguan pasokan listrik tidak kembali menimbulkan kerugian serupa. Menurut Satrio, berbagai keluhan sebelumnya telah disampaikan, tetapi peternak belum mendapatkan kejelasan yang memuaskan.
Di sisi lain, PLN menegaskan bahwa pengaturan beban di Makassar merupakan bagian dari upaya menjaga keandalan sistem. Meski demikian, transparansi jadwal dan komunikasi yang lebih baik kepada pelanggan dinilai krusial, terutama bagi sektor usaha yang sangat bergantung pada pasokan listrik stabil.
Dari rangkaian kejadian tersebut, dapat disimpulkan bahwa persoalan mati listrik menuntut perhatian serius dari semua pihak. Pemeliharaan jaringan memang penting untuk keandalan jangka panjang, tetapi dampaknya terhadap ekonomi warga, keselamatan ternak, hingga proses evakuasi bencana perlu dimitigasi dengan perencanaan yang matang. Sosialisasi jadwal pemadaman, penyediaan pasokan cadangan bagi sektor rentan, serta respons cepat terhadap keluhan pelanggan menjadi kunci agar kejadian serupa tidak terus berulang dan merugikan masyarakat.
