Novak Djokovic Kembali ke Basel Setelah 15 Tahun, Tekuk Humbert dan Incar Tiket Final ATP
Inforiau – 29 Oktober 2026 | Petenis Serbia Novak Djokovic membuktikan bahwa usianya hanyalah angka. Kembali ke ajang Swiss Indoors di Basel untuk pertama kalinya sejak 2011, petenis berusia 39 tahun itu langsung menunjukkan kelasnya dengan mengalahkan wakil Prancis, Ugo Humbert, dalam pertarungan tiga set yang menegangkan.
Dalam laga babak pertama yang berlangsung Rabu, Novak Djokovic menang 4-6, 6-3, 6-4 setelah bertarung selama dua jam tiga puluh menit. Kemenangan ini menjadi pembuka yang manis bagi mantan petenis nomor satu dunia tersebut, yang datang ke Basel dengan misi besar: mengamankan tempat di Final ATP di Turin.
Awal Berat Menghadapi Petenis Kidal
Laga tidak berjalan mulus bagi Novak Djokovic. Pukulan datar dan pengambilan bola lebih awal dari Humbert, seorang petenis kidal, sempat merepotkan sang legenda. Djokovic bahkan kehilangan servisnya pada gim ketiga dan harus merelakan set pertama dengan skor 4-6.
Namun, juara 24 gelar Grand Slam itu tiba-tiba menaikkan level permainannya setelah kehilangan set pembuka. Ia mulai menemukan ritme dan mengendalikan jalannya pertandingan hingga akhirnya memastikan tiket ke babak 16 besar.
Bagi Novak Djokovic, ini adalah penampilan keempatnya di Basel, tetapi yang pertama sejak 2011. Ia menjuarai turnamen ini pada 2009 saat debut, lalu menjadi finalis pada 2010. Ia sempat menambahkan turnamen ini ke kalendernya secara mendadak setelah penundaan ekshibisi Six Kings Slam di Arab Saudi.
Perburuan Poin Menuju Turin
Keputusan Novak Djokovic tampil di Basel bukan tanpa alasan. Ia tengah membutuhkan poin untuk memastikan tempat di antara delapan peserta Final ATP yang akan digelar 15-22 November di Turin. Saat ini ia berada di posisi ke-10 klasemen Race, di luar zona kualifikasi, dan masih akan berlaga di Masters 1000 Paris pekan depan.
Novak Djokovic menargetkan kualifikasi ke-19 sepanjang kariernya ke ajang penutup musim tersebut. Dengan status unggulan keempat, jalan menuju final tidak akan mudah. Di babak kedua, ia akan menghadapi petenis Jerman Jan-Lennard Struff, finalis di Brussels pekan lalu. Meski demikian, rekor pertemuan berpihak kepada Djokovic dengan delapan kemenangan tanpa pernah kehilangan lebih dari satu set.
Potensi lawan berat menanti di babak semifinal, di mana ia kemungkinan bertemu unggulan teratas Ben Shelton, yang baru saja mencapai final Grand Slam pertamanya di US Open. Djokovic unggul 1-0 dalam rekor pertemuan setelah kemenangan dramatis di semifinal US Open 2023.
Soal Pensiun: Bukan Hal yang Membuat Marah
Di tengah persiapan turnamen, Novak Djokovic kembali dihujani pertanyaan soal masa depannya. Dalam wawancara dengan media Serbia, Sportal, ia mengaku tidak marah dengan spekulasi yang beredar mengenai pensiun.
“Selama masih ada orang, akan selalu ada spekulasi. Itu sudah menjadi sifat manusia, dan bukan hanya di sini, tetapi di mana-mana. Orang suka mengkritik dan menilai dengan informasi yang kurang, tetapi saya tidak marah soal itu,” ujarnya.
Meski begitu, Novak Djokovic mengakui bahwa akhir kariernya kini semakin dekat. Ia tetap percaya diri bisa bersaing di level tertinggi dan ingin menikmati bermain selama mungkin. Musim ini ia telah memenangi China Open di Beijing pada Oktober, gelar pertamanya di musim 2026 sekaligus trofi ke-102 sepanjang karier.
Mengejar Rekor Federer di Tanah Basel
Kemenangan di Basel memiliki makna historis tersendiri bagi Novak Djokovic. Dengan 102 gelar, ia kini hanya terpaut satu trofi dari mantan rivalnya, Roger Federer, yang mengoleksi 103 gelar. Menariknya, Federer meraih gelar ke-103 justru di Basel pada 2019.
Legenda tenis Jimmy Connors menyebut satu kata yang menghubungkan dirinya, Federer, dan Djokovic, yakni “konsistensi”. Ketiganya memang dikenal karena panjangnya karier dan kemampuan bertahan di level elite. Djokovic memimpin dengan 24 gelar major dan 428 pekan di peringkat satu dunia, sementara Federer dan Connors masing-masing lima kali mengakhiri tahun sebagai nomor satu.
Dengan semangat juang yang masih membara, Novak Djokovic terus membuktikan bahwa ia belum siap menyerahkan takhta. Basel bisa menjadi panggung berikutnya untuk menambah koleksi trofinya sekaligus mempertegas statusnya sebagai salah satu petenis terhebat sepanjang sejarah.
