Obama Serang Trump: Perang Iran Bikin Harga Meledak, Oval Office Mirip Restoran Cepat Saji
Inforiau – 26 Oktober 2026 | Mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama kembali menjadi sorotan publik setelah melontarkan kritik tajam terhadap pemerintahan Donald Trump dalam rangkaian kampanye menjelang pemilihan paruh waktu (midterm) 2026. Dalam pidatonya di Cleveland, Ohio, dan Detroit, Michigan, pada Sabtu (24/10/2026), Obama menuding kebijakan luar negeri Trump, khususnya perang melawan Iran, sebagai biang keladi melonjaknya harga barang di seluruh negeri. Kritik yang disampaikan Obama ini langsung memantik reaksi keras dari pendukung Trump dan menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Obama menegaskan bahwa masalah nuklir Iran sejatinya telah selesai pada masa pemerintahannya melalui diplomasi, bukan kekuatan militer. Ia merujuk pada Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang disepakati pada 2015, di mana Iran setuju membatasi pengayaan uranium dan menerima inspeksi internasional sebagai imbalan atas pelonggaran sanksi ekonomi.
“Iran tidak memiliki senjata nuklir karena saya telah menetapkan sebuah kesepakatan yang diakui oleh semua pihak mampu mencegah mereka memperoleh senjata nuklir. Dan saya tidak perlu meluncurkan satu pun rudal untuk mencapainya. Saya hanya perlu melakukan diplomasi,” kata Obama di hadapan pendukungnya.
Namun, Trump menarik diri dari JCPOA pada 2018 selama masa jabatan pertamanya, dengan alasan kesepakatan itu tetap membiarkan Iran memperkaya uranium hingga mendekati ambang batas pembuatan senjata nuklir. Keputusan itu kemudian berujung pada eskalasi konflik, termasuk serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026.
Menurut Obama, dampak perang tersebut kini dirasakan langsung oleh rakyat Amerika. Ia menyoroti posisi Iran yang memiliki hak veto atas Selat Hormuz, jalur strategis tempat minyak didistribusikan ke pasar dunia. “Inilah alasan mengapa harga minyak naik. Inilah alasan mengapa harga bahan bakar diesel naik. Inilah alasan mengapa harga hampir semua barang mengalami kenaikan,” ujarnya.
Kritik Obama tidak berhenti pada isu ekonomi dan luar negeri. Ia juga menyindir gaya kepemimpinan Trump yang dinilainya penuh kekacauan. “Pemerintahan Trump ditandai oleh ketidakmampuan yang belum pernah terlihat di era modern,” tegas Obama, seraya menyebut dua tahun terakhir sebagai masa penuh “kekacauan, kekejaman, dan korupsi”.
Salah satu pernyataan Obama yang paling menyita perhatian adalah sindirannya terhadap renovasi Oval Office. “Ada emas di mana-mana. Sepertinya Saddam Hussein membuka sebuah Cheesecake Factory,” celetuk Obama, merujuk pada gaya dekorasi mewah yang dianggap berlebihan.
Pernyataan tersebut langsung memicu kemarahan pendukung Trump. Sejumlah kritikus menuduh Obama arogan dan merendahkan kelas menengah. “Cheesecake Factory punya makanan enak, dan itu tempat yang terjangkau bagi orang Amerika,” tulis komentator konservatif Laura Loomer di media sosial. Sementara itu, pembawa acara CNN Scott Jennings menyebut Obama “tak terkalahkan dalam sikap merendahkan orang biasa”.
Di sisi lain, kehadiran Obama dalam kampanye midterm bertujuan memobilisasi pemilih Demokrat yang dinilai merindukan era kepemimpinannya. Menurut analis politik Erick Allen, banyak warga merasa lebih merindukan masa Obama dibandingkan era Biden. Survei menunjukkan Partai Demokrat berpeluang merebut kembali DPR dan memiliki kans besar di Senat, meski sejumlah analis mengingatkan potensi underestimate terhadap suara Republik.
Di tengah hiruk-pikuk kampanye, beredar pula foto viral yang diklaim menunjukkan Obama berjalan bersama seorang wanita misterius di New York City. Namun, penelusuran fakta membuktikan klaim itu keliru. Foto tersebut sebenarnya menampilkan T.J. Holmes dan Amy Robach, mantan pembawa acara ABC, yang memiliki kemiripan fisik dengan Obama dari sudut tertentu.
Dengan gaya retorika yang tajam, Obama sekali lagi membuktikan bahwa ia masih menjadi magnet politik yang kuat bagi Partai Demokrat. Kritiknya terhadap perang Iran dan kebijakan ekonomi Trump menyentuh persoalan nyata yang dihadapi masyarakat, sekaligus mempertegas perbedaan visi antara diplomasi dan konfrontasi militer. Bagi pendukungnya, Obama adalah pengingat akan kepemimpinan yang tenang dan terukur. Bagi lawan politiknya, ia adalah provokator yang tak sungkan menyerang. Apa pun itu, pesan Obama jelas: harga yang dibayar rakyat akibat perang dan ketidakseriusan pemerintah saat ini terlalu mahal untuk diabaikan.
