Outlook Global Berubah: Bank Yunani Pangkas Risiko Kredit, tapi Tekanan Suku Bunga Mengintai
Inforiau – 21 Oktober 2026 | Outlook perekonomian global memasuki fase baru yang penuh tantangan. Bank-bank di Yunani mencatat penurunan biaya risiko kredit tercepat di Eropa, namun lembaga pemeringkat Morningstar DBRS memperingatkan bahwa outlook sektor perbankan Eropa bisa kembali tertekan oleh kenaikan suku bunga dalam 12 hingga 18 bulan ke depan. Peringatan ini muncul di tengah beragamnya outlook dari berbagai belahan dunia, mulai dari sektor telekomunikasi India yang stabil hingga pasar saham Amerika Serikat yang justru diprediksi lebih cerah oleh JPMorgan.
Menurut analisis Morningstar DBRS, bank-bank di Yunani, Italia, Spanyol, dan Portugal mencatat penurunan biaya risiko kredit paling tajam sejak 2024, melanjutkan tren yang dimulai pada 2022. Rata-rata biaya risiko kredit sektor perbankan Eropa turun menjadi 25 basis poin pada paruh pertama 2026, dari 30 basis poin pada 2025, 28 pada 2024, 36 pada 2023, dan 49 pada 2019. Di antara empat bank terbesar Yunani, National Bank of Greece mencatat biaya risiko kredit terendah, disusul Piraeus, Eurobank, dan Alpha Bank.
Meski demikian, bank-bank Yunani dan Spanyol masih mencatat biaya risiko kredit agregat tertinggi di antara negara-negara yang diteliti, diikuti oleh bank-bank Inggris dan Prancis. Analisis tersebut menemukan tanda-tanda pembalikan arah, dengan 29 dari 53 bank dalam sampel melaporkan biaya risiko kredit yang lebih tinggi pada paruh pertama 2026 dibandingkan 2025, sementara hanya enam bank yang mencatat pembalikan bersih atas provisi. Biaya kredit terus menurun di Eropa selatan dan Irlandia, tetapi mulai naik di Eropa utara dan tengah, termasuk Inggris, Prancis, Belanda, dan Swedia. Di Austria dan Belgia, biaya risiko kredit hampir dua kali lipat pada paruh pertama 2026 dibandingkan 2025.
Morningstar DBRS menilai bahwa memburuknya kualitas aset yang diperkirakan terjadi setelah kenaikan suku bunga pada 2022-2023 tidak terwujud. Kerugian kredit tetap terbatas bahkan setelah suku bunga utama Bank Sentral Eropa mencapai puncaknya di 4 persen. Ketahanan ini didukung oleh neraca bank yang lebih kuat, standar pemberian pinjaman yang lebih ketat, pinjaman rumah tangga yang lebih rendah, dan pasar tenaga kerja yang tangguh, meskipun tekanan terkonsentrasi pada properti komersial, bisnis dengan utang tinggi, dan sektor-sektor tertentu.
Di Australia, outlook inflasi justru memburuk. Deputi Gubernur Reserve Bank of Australia (RBA) Andrew Hauser menyatakan bahwa kebijakan moneter yang lebih ketat mulai memperlambat ekonomi, tetapi outlook inflasi masih memburuk, sebagian due to tingginya harga minyak. Brent diperdagangkan di atas 110 dolar AS per barel, naik dari 102 dolar AS saat bank sentral terakhir bertemu tiga pekan lalu dan menaikkan suku bunga untuk keempat kalinya tahun ini. Angka itu lebih dari 35 persen lebih tinggi dari perkiraan RBA pada Agustus. Hauser mengaku tidak yakin apakah suku bunga perlu dinaikkan lagi pada November. Pasar kini memperkirakan sekitar 50 persen peluang kenaikan suku bunga menjadi 4,85 persen bulan depan, naik dari 30 persen pada awal pekan, dan kenaikan lagi sepenuhnya diperkirakan pada Maret tahun depan.
Di sektor telekomunikasi India, outlook justru stabil. Gaurav Malhotra, Executive Director di Axis Capital Ltd, menilai sektor ini siap tumbuh stabil dengan dukungan kenaikan tarif, peningkatan pelanggan ke layanan bernilai lebih tinggi, dan permintaan broadband yang meningkat. “Semua hambatan regulasi yang pernah dihadapi sektor ini sudah terlewati. Kami melihat struktur pasar yang sangat stabil dengan dua pemain besar dan satu pemain ketiga yang relatif lebih kecil,” ujarnya. Axis Capital memperkirakan ARPU Bharti Airtel tumbuh sekitar 7-8 persen per tahun selama tiga tahun ke depan, didorong oleh premiumisasi dan kenaikan tarif reguler setiap dua tahun.
Sementara itu, di Amerika Serikat, JPMorgan Asset Management justru menaikkan outlook imbal hasil jangka panjangnya untuk saham AS. Dalam laporan Long-Term Capital Market Assumptions 2027 yang dirilis 19 Oktober 2026, JPMorgan menaikkan ekspektasi imbal hasil tahunan saham berkapitalisasi besar AS selama 10-15 tahun ke depan menjadi 7,5 persen, naik 0,8 poin persentase dari 6,7 persen pada tahun sebelumnya. Kenaikan outlook ini kontras dengan prediksi Goldman Sachs setahun lalu yang memperkirakan imbal hasil saham AS akan lebih rendah dari masa lalu. Meski demikian, kekhawatiran seputar pendanaan investasi AI masih membayangi pasar, tercermin dari yield obligasi CoreWeave yang melonjak di atas 15 persen dan aksi jual obligasi yang didukung pusat data.
Di sektor otomotif, General Motors (GM) menaikkan outlook keuangannya untuk 2026 setelah membukukan pendapatan kuartal ketiga sebesar 50 miliar dolar AS, naik 2,9 persen dari periode yang sama tahun lalu. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham melonjak menjadi 3,3 miliar dolar AS dari 1,3 miliar dolar AS, sementara laba sebelum bunga dan pajak yang disesuaikan naik hampir 22 persen menjadi 4,1 miliar dolar AS. GM kini memperkirakan laba bersih setahun penuh antara 8,9 miliar dan 9,5 miliar dolar AS, mempersempit rentang sebelumnya 8,4 miliar hingga 9,8 miliar dolar AS. Perusahaan juga menaikkan outlook arus kas bebas otomotif yang disesuaikan menjadi 11,5 miliar hingga 12,5 miliar dolar AS, dan mengumumkan program pembelian kembali saham baru senilai 20 miliar dolar AS.
Secara keseluruhan, outlook perekonomian global pada paruh kedua 2026 menunjukkan gambaran yang beragam. Di satu sisi, perbaikan biaya risiko kredit di Eropa selatan dan stabilitas sektor telekomunikasi India memberikan harapan. Di sisi lain, tekanan inflasi di Australia, kekhawatiran pendanaan AI di pasar saham AS, dan potensi kenaikan biaya kredit di Eropa utara menjadi risiko yang perlu diwaspadai. Pelaku pasar dan pembuat kebijakan dituntut untuk tetap waspada dan adaptif dalam menghadapi dinamika outlook yang terus berubah ini.
