Palermo Bangkit: Dari Romantisme Kematian hingga Kemenangan Bersejarah di Serie B
Inforiau – 02 November 2026 | Kota Palermo kembali menjadi sorotan dalam sepekan yang penuh warna, memperlihatkan dua sisi kehidupan yang kontras namun saling melengkapi. Di tengah refleksi menjelang peringatan Hari Arwah atau 2 November, warga Palermo merenungkan makna hidup dan kematian, sementara di lapangan hijau, klub kebanggaan kota ini merayakan kemenangan penting yang membawa mereka menjauh di puncak klasemen Serie B.
Renungan tentang Palermo sebagai kota yang hidup dan mati datang dari sebuah tesis sarjana muda bernama Marta Citarrella. Perempuan kelahiran 2005 itu menulis karya ilmiah berjudul ‘Miti e santi dell’antimafia: prospettiva semiotica sull’impiego del nuovo muralismo nell’educazione alla legalità’ di Universitas Bologna. Dalam tesisnya, ia menyoroti bagaimana seni mural antimafia dapat menjadi alat pendidikan hukum yang efektif, sekaligus mengingatkan bahaya mengkultuskan para pahlawan antimafia sebagai sosok suci yang tak terjangkau.
“Saya lahir di Palermo pada 2005, hanya tiga belas tahun setelah tragedi 1992. Tumbuh besar, saya belajar bahwa untuk memenangkan pertempuran melawan kejahatan terorganisir, setiap orang harus mengambil perannya,” tulis Marta dalam pengantar tesisnya. Ia mengaku terinspirasi oleh Peppino Impastato dan seruan Paolo Borsellino agar masyarakat berbicara tentang mafia di mana pun berada.
Pesan moral itu bergema kuat. Marta mengingatkan bahwa tokoh-tokoh seperti Giovanni Falcone dan Paolo Borsellino memang layak dihormati, tetapi jika diperlakukan sebagai santo, mereka berisiko kehilangan peran sebagai sumber inspirasi. “Risikonya adalah mereka berubah menjadi tokoh dalam gambar suci, tempat orang berlutut memohon kebaikan yang abstrak dan tak terjangkau,” ujarnya.
Di sisi lain, dunia olahraga memberikan kabar gembira bagi warga Palermo. Dalam laga pekan kesepuluh Serie B, tim berjuluk Rosanero itu mengalahkan Vicenza dengan skor 3-1 di kandang sendiri. Kemenangan ini membawa Palermo menjauh enam poin dari kejaran Modena di posisi kedua.
Pertandingan berjalan dramatis. Vicenza sempat unggul cepat pada menit kedua melalui Brighenti yang memanfaatkan situasi sepak pojok, dan gol itu disahkan setelah tinjauan VAR. Palermo sempat mencetak gol melalui Johnsen pada menit ke-37, namun dianulir karena offside. Beruntung, tujuh menit berselang Johnsen menebusnya dengan menyamakan kedudukan menjadi 1-1.
Pada babak kedua, Vavassori menjadi bintang. Ia mencetak gol kedua Palermo pada menit ke-51 memanfaatkan umpan Segre, lalu menutup pertandingan dengan gol indah pada menit ke-85 setelah melewati bek lawan dari sisi kiri dan melepaskan tembakan melengkung ke tiang jauh. Dua gol Vavassori plus satu gol Johnsen memastikan tiga poin penuh bagi Palermo.
Hasil ini mempertegas ambisi Palermo untuk kembali ke Serie A. Dengan raihan poin yang terus bertambah, tekanan kepada para pesaing semakin besar. Sementara itu, hasil lain di Serie B juga menarik: Ascoli ditahan imbang 0-0 oleh Arezzo, Avellino mengalahkan Pisa 2-0, Empoli bermain imbang 2-2 dengan Juve Stabia, dan Hellas Verona menghancurkan Carrarese dengan skor 3-0.
Menariknya, semangat kebangkitan Palermo tidak hanya terasa di stadion. Kota ini juga tengah bersiap menyambut peristiwa besar lainnya, meski dalam konteks yang berbeda. Otoritas setempat menyiapkan pengamanan ekstra dan rekayasa lalu lintas di kawasan Palermo dan Recoleta menjelang kunjungan Paus Leo XIV ke Argentina. Pembatasan kendaraan dan pengamanan ketat akan diberlakukan mulai 4 November hingga 16 November, dengan warga diminta menunjukkan dokumen domisili untuk melintasi kawasan tertentu.
Dari refleksi filosofis tentang hidup dan mati, semangat anak muda yang menolak lupa pada sejarah kelam, hingga kemenangan dramatis di lapangan hijau, Palermo menunjukkan wajah kota yang dinamis. Kota ini bukan sekadar tempat bersejarah, melainkan panggung bagi harapan yang terus tumbuh. Sebagaimana ditulis dalam tesis Marta, ada jiwa-jiwa yang tidak merusak dan, bahkan dari kejauhan, kembali menaburkan perspektif baru. Palermo, dengan segala kontradiksinya, tetap melangkah maju.
