Paris Jadi Panggung Akhir Musim Tenis Dunia: Alcaraz Incar Rekor, Jódar Kejutkan, dan Djokovic Masih Berburu Tiket
Inforiau – 02 November 2026 | Ibu kota Prancis kembali menjadi pusat perhatian dunia. Ajang Masters 1.000 terakhir tahun ini resmi bergulir di Paris, dan seperti biasa, kota yang identik dengan Menara Eiffel itu menyajikan drama olahraga yang tak kalah memikat dari gemerlapnya dunia mode dan kuliner. Mulai 2 hingga 8 November, lapangan keras di Paris menjadi medan pertempuran terakhir bagi para petenis elite yang masih memperebutkan tiket ke ATP Finals di Turin.
Carlos Alcaraz tiba di Paris dengan moral membumbung tinggi. Pekan lalu, petenis muda Spanyol itu baru saja menaklukkan Wina dan mengangkat trofi juara. Lebih dari sekadar gelar, ia mengaku menemukan kembali sejumlah elemen permainan yang sempat hilang: kepercayaan diri, soliditas, dan ritme kompetitif. Musim ini memang terasa berbeda bagi Alcaraz, yang lebih banyak menghabiskan waktu di pinggir lapangan karena cedera ketimbang bertanding. Namun, ketika ia tersenyum dan menikmati permainan, tenis seolah berada dalam genggamannya.
Di Paris, Alcaraz tidak akan mendapat jalan mudah. Ia akan menghadapi pemenang duel antara Alex Michelsen dan Jiri Lehecka pada laga pembuka. Jika lolos, nama-nama seperti Brandon Nakashima dan Matteo Berrettini sudah menanti. Perempat final berpotensi mempertemukannya dengan Arthur Fils atau Taylor Fritz, dua petenis yang tengah berjuang keras merebut satu tempat di Turin. Sementara itu, babak semifinal menyimpan skenario menarik: bentrokan melawan Daniil Medvedev, sebelum partai puncak berpotensi mempertemukannya dengan Alexander Zverev, yang sejak Senin resmi menyandang status nomor satu dunia dan menjadi unggulan teratas di turnamen ini.
Namun, ada satu nama yang membuat Paris musim ini terasa spesial: Rafa Jódar. Petenis muda Madrid itu tengah berjuang menembus ATP Finals, dan turnamen di Paris menjadi kesempatan emasnya. Yang menarik, Jódar berada di jalur yang sama dengan Alcaraz. Jika keduanya mampu melewati rintangan masing-masing, babak semifinal di Paris bisa menjadi panggung pertemuan pertama mereka dalam laga resmi. Bagi Alcaraz, ini adalah peluang menembus babak semifinal yang belum pernah ia capai di Paris. Bagi Jódar, ini adalah kesempatan mengonfirmasi tempatnya di Copa de Maestros. Sebuah hadiah manis bagi keduanya.
Jódar sendiri harus melewati ujian berat lebih dulu. Pada Senin sekitar pukul 12.30 waktu setempat, ia akan berhadapan dengan Alejandro Tabilo, petenis yang pernah ia kalahkan di Basel. Setelah itu, Casper Ruud atau pemain dari babak kualifikasi menanti. Di babak 16 besar, Flavio Cobolli mungkin menjadi lawan, sebelum Medvedev menghadang di perempat final. Semua itu demi satu mimpi: bertemu Alcaraz di semifinal Paris.
Di sisi lain undian, Novak Djokovic juga masih memburu tiket ke Turin. Petenis Serbia itu akan memulai langkahnya di Paris melawan Valentin Vacherot, yang baru saja menjuarai Basel dan tengah dalam performa terbaiknya. Jika lolos, Djokovic sudah ditunggu Zverev di perempat final. Tantangan yang tidak ringan, bahkan bagi seorang mantan nomor satu dunia.
Nama Alejandro Davidovich juga patut diperhitungkan. Setelah pulih dari masalah yang membuatnya absen di ATP 500 Basel, ia datang ke Paris dengan semangat untuk menutup musim dengan hasil gemilang, menyusul gelar juara di Shanghai beberapa waktu lalu. Sementara itu, Dani Mérida dijadwalkan menghadapi Alexander Blockx pada laga hari ini.
Paris memang tak pernah kehabisan pesona. Selain menjadi saksi perjuangan para petenis, kota ini juga dikenal sebagai surga bagi para pencinta kuliner dan gaya hidup. Presenter cuaca sekaligus figur publik Tatiana Silva, misalnya, membagikan salah satu alamat favoritnya di Paris melalui unggahan di Instagram pada 31 Oktober. Ia menyebut sebuah kedai teh dan toko kelontong bernama Kosyuen, yang terletak tak jauh dari Taman Tuileries dan Louvre. Tempat yang buka sejak 1968 itu menjadi langganannya untuk menikmati onigiri dan sencha. Bagi Silva, yang mengaku sangat mencintai Jepang dan teh, Paris selalu punya sudut-sudut hangat yang membuatnya merasa pulang.
Sementara dari dunia selebritas, Paris Hilton juga mencuri perhatian. Dalam sesi foto Halloween keluarganya, ia tampil memesona sebagai Morticia Addams dari The Addams Family, mengenakan gaun beludru Cristallini bernuansa gotik dengan potongan dada rendah dan cape dramatis. Bersama sang suami, Carter Reum, yang tampil sebagai Gomez, serta kedua anak mereka, Phoenix dan London, Hilton mengubah perayaan Halloween menjadi pertunjukan mode yang mewah. Nama Paris seolah selalu berhasil menarik perhatian, baik di lapangan tenis maupun di karpet merah.
Dengan segala dinamika yang ada, Masters 1.000 Paris tahun ini bukan sekadar turnamen penutup. Ia adalah panggung bagi ambisi, kebangkitan, dan cerita-cerita manusia yang terjalin di salah satu kota paling ikonik di dunia. Alcaraz ingin membuktikan bahwa ia masih penguasa lapangan, Jódar ingin mengukir sejarah, dan Djokovic menolak menyerah dalam perburuan tiket terakhir. Sementara di luar lapangan, Paris terus memancarkan daya tariknya melalui kuliner, mode, dan kehidupan yang tak pernah tidur. Semua mata kini tertuju ke Paris, menantikan siapa yang akan tersenyum di akhir pekan nanti.
