Pasar Saham Israel Terjun Bebas, Hasil Pemilu Guncang Stabilitas Politik dan Ekonomi
Inforiau – 29 Oktober 2026 | Hasil israeli election results yang belum tuntas langsung mengguncang pasar keuangan Israel. Bursa Tel Aviv ditutup melemah tajam pada Rabu (28/10) setelah penghitungan suara sementara menunjukkan blok Perdana Menteri Benjamin Netanyahu unggul namun gagal meraih mayoritas parlemen yang jelas, memicu ketidakpastian atas pembentukan pemerintahan berikutnya.
Indeks acuan TA-35 yang melacak 35 perusahaan terkemuka ditutup anjlok 1,81 persen, sementara indeks TA-125 yang lebih luas turun 2,46 persen. Indeks TA-90 yang melacak 90 perusahaan di luar TA-35 terjun 4,47 persen, dan indeks TA-Banks-5 yang memantau lima bank besar Israel merosot 4,85 persen. Kerugian bahkan sempat lebih dalam pada beberapa titik sesi perdagangan.
Analis senior harian Yedioth Ahronoth, Gad Lior, menilai aksi jual dipicu ketidakpastian politik dan kekhawatiran bahwa pemerintahan pimpinan Netanyahu kembali gagal menjawab tantangan ekonomi, terutama tingginya biaya hidup. Ia menambahkan kekhawatiran akan perang baru dengan Iran turut membebani sentimen investor.
Sementara itu, syikal Israel melemah terhadap mata uang utama dunia, turun 1,62 persen terhadap dolar AS menjadi 3,128 syikal per dolar berdasarkan kurs resmi Bank of Israel. CEO grup finansial Prico, Joseph Freiman, menyebut pergeseran israeli election results membalikkan penguatan syikal sebelumnya. Sebagian besar proyeksi pada hari pemilu mengunggulkan blok oposisi pimpinan mantan panglima militer Gadi Eisenkot, namun seiring berjalannya penghitungan suara, blok Netanyahu perlahan memimpin dan memicu pembalikan sentimen pasar valuta.
Dengan lebih dari 85 persen suara terhitung, blok Netanyahu memimpin dengan 53 kursi dibandingkan 48 kursi blok oposisi. Namun Netanyahu masih jauh dari 61 kursi yang dibutuhkan untuk mengamankan mayoritas di parlemen beranggotakan 120 orang dan membentuk pemerintahan baru.
Di sisi lain, partai-partai yang dipimpin warga Arab menandakan kesediaan membantu membentuk pemerintahan alternatif untuk menggulingkan Netanyahu. Ketua Joint List, Yousef Jabareen, menyatakan aliansinya siap membantu mencopot pemerintahan Netanyahu yang mencakup Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Itamar Ben-Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich. Ia menyebut dukungan terhadap partai Arab dalam pemilu kali ini sebagai sesuatu yang historis.
Dengan sebagian besar suara terhitung, Joint List dan partai Islam konservatif Ra’am diproyeksikan meraih gabungan 19 kursi di Knesset. Anggota parlemen senior Arab, Ahmad Tibi, juga mengonfirmasi bahwa Joint List tengah bernegosiasi dengan blok oposisi soal pembentukan pemerintahan alternatif. Namun Eisenkot belum secara publik menjelaskan posisinya terkait kemungkinan kemitraan tersebut, sehingga ketidakpastian masih menyelimuti.
Partisipasi tinggi pemilih Palestina di Israel pun tak lepas dari persoalan bertahan hidup. Di lingkungan Ajami, Jaffa, seorang pemilih menyatakan kekhawatiran bahwa jika pemerintahan ini tidak diganti, mereka akan kehilangan segalanya. Sebelumnya, Komite Pemilu Pusat Israel sempat memutuskan mendiskualifikasi kedua partai Arab, meski akhirnya keduanya diizinkan ikut setelah banding ke Mahkamah Agung.
Dari sisi Amerika Serikat, hasil israeli election results yang menemui jalan buntu membuat Presiden Donald Trump menghadapi ketidakpastian berkepanjangan soal siapa yang akan memimpin sekutu terdekat Washington di Timur Tengah. Meski Trump telah mendukung Netanyahu melawan aliansi pesaing pimpinan Eisenkot, tak ada pihak yang diproyeksikan memiliki jalur pasti untuk membentuk pemerintahan baru setelah pemilu pertama Israel sejak serangan 7 Oktober 2023.
Panggung tampaknya disiapkan untuk perundingan koalisi yang melelahkan, atau kemungkinan pemilu ulang, sementara Netanyahu tetap berkuasa sebagai pelaksana tugas. Mantan penasihat Timur Tengah Aaron David Miller menilai politik Israel bisa berantakan dan dari perspektif AS, kejelasan akan sangat baik, tetapi itu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.
Secara keseluruhan, rangkaian israeli election results ini menegaskan bahwa ketidakpastian politik berdampak langsung pada pasar keuangan, nilai tukar, dan arah kebijakan luar negeri. Tanpa mayoritas yang jelas, Israel menghadapi masa perundingan koalisi yang panjang dan berisiko, sementara investor, warga, dan mitra internasional menanti dengan cemas siapa yang akhirnya memegang kendali pemerintahan.
