Pau Cubarsí, Sang Menara Muda Barcelona yang Siap Redam Mbappé di El Clásico
Inforiau – 26 Oktober 2026 | Nama Pau Cubarsí kembali menjadi sorotan menjelang El Clásico antara Barcelona dan Real Madrid di Spotify Camp Nou. Di usia 19 tahun, bek tengah kelahiran Estanyol, Girona, itu kini menjadi tumpuan lini belakang Blaugrana, terutama saat menghadapi laga sebesar El Clásico. Pau Cubarsí bukan lagi sekadar talenta muda dari La Masia, melainkan pilar utama yang dipercaya Hansi Flick untuk menjaga pertahanan Barcelona.
Pertemuan Barcelona kontra Real Madrid pada pekan ke-10 LaLiga menjadi panggung besar bagi Pau Cubarsí. Barcelona datang sebagai pemuncak klasemen dengan 27 poin, sementara Madrid berada di posisi ketiga dengan 21 poin, terpaut empat angka dari Atlético Madrid. Laga ini diprediksi berjalan ketat, dan performa Pau Cubarsí di jantung pertahanan akan menjadi kunci bagi Barcelona untuk meredam agresivitas lini serang Madrid.
Dari Estanyol hingga Panggung Dunia
Perjalanan Pau Cubarsí menuju level elite terbilang luar biasa. Ia lahir di Estanyol, sebuah desa kecil di provinsi Girona yang berpenduduk kurang dari 200 jiwa dan tidak memiliki lapangan bola maupun sekolah. Orang tuanya, Robert dan Gloria, mendaftarkannya ke klub sepak bola Vilablareix saat ia masih kecil. Sejak awal, Cubarsí sudah bermain sebagai bek, meski rekan-rekannya mengenangnya sebagai pemain yang agresif dan selalu mencetak gol ketika menyerang.
Pada 2018, di usia 11 tahun, Pau Cubarsí bergabung dengan La Masia, akademi Barcelona yang telah melahirkan nama-nama besar seperti Lionel Messi, Xavi Hernández, Andrés Iniesta, Carles Puyol, Pep Guardiola, dan Cesc Fàbregas. Di sana ia tumbuh bersama generasi 2007 yang juga melahirkan Lamine Yamal, Marc Bernal, dan Xavi Espart. Kedekatannya dengan Yamal bukan rahasia lagi; keduanya telah melewati hampir semua kategori usia bersama dan kini menjadi tulang punggung Barcelona maupun tim nasional Spanyol.
Rekor dan Pengakuan di Usia Muda
Musim ini menjadi musim penuh pencapaian bagi Pau Cubarsí. Ia membantu Barcelona menjuarai LaLiga di bawah asuhan Hansi Flick dan turut mengantar Spanyol menjadi juara Piala Dunia 2026. Atas capaian tersebut, ia masuk dalam daftar nominasi Ballon d’Or dan menjadi salah satu favorit peraih Trofi Kopa untuk pemain muda terbaik. Menurut Transfermarkt, nilai pasarnya mencapai 100 juta euro, menyamai William Saliba, menjadikannya bek tengah paling bernilai di dunia saat ini.
Di usia 19 tahun, Cubarsí sudah mencatat sekitar 160 pertandingan profesional. Prekocokan itu terbilang langka untuk seorang bek tengah, terlebih di level sebesar Barcelona. Pengamat di La Masia menilai kecerdasannya membaca permainan, umpan-umpan terobosannya, serta kemampuannya mengantisipasi pergerakan lawan sebagai keunggulan utamanya. Tak heran, sebelum menembus tim utama, ia sempat dibandingkan dengan Gerard Piqué.
Tantangan El Clásico dan Duel Kontra Mbappé
Menjelang laga, Pau Cubarsí mengaku siap menghadapi tekanan. Ia menyebut El Clásico sebagai salah satu pertandingan terbesar di dunia yang selalu menyimpan tensi dan emosi tinggi. Secara khusus, ia menyoroti duel melawan Kylian Mbappé sebagai ujian terberat. Menurutnya, tidak ada rahasia khusus selain tetap waspada dan fokus selama 90 menit, karena Mbappé adalah pemain yang bisa membuat perbedaan dalam sekejap.
Ia juga berpesan kepada Lamine Yamal agar tampil lepas tanpa beban. Cubarsí yakin rekannya itu akan menunjukkan performa spektakuler karena kualitasnya sudah dikenal luas. Pernyataan tersebut menunjukkan kedewasaan Cubarsí sebagai pemimpin di lini belakang, meski usianya masih sangat muda.
Krisis di Lini Belakang Barcelona
Namun, tugas Pau Cubarsí tidaklah ringan. Barcelona dilanda krisis bek tengah akibat cedera yang menimpa Jules Koundé, Eric García, dan Andreas Christensen. Flick pun terpaksa mengandalkan Cubarsí dan Gerard Martín sebagai satu-satunya duet bek tengah yang tersedia. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran, terutama setelah penampilan kurang impresif melawan Paris Saint-Germain, di mana lini belakang Barcelona beberapa kali kewalahan.
Kritik pun muncul terhadap Gerard Martín yang dinilai belum konsisten di laga-laga besar. Hal ini membuat Cubarsí kerap harus menutupi kekurangan rekannya, berbeda ketika ia berduet dengan bek berpengalaman seperti Aymeric Laporte atau Íñigo Martínez. Meski demikian, Flick tak memiliki banyak pilihan dan tetap memberi kepercayaan kepada keduanya.
Manajemen Barcelona dikabarkan tengah menyiapkan solusi untuk bursa transfer Januari. Sejumlah nama masuk dalam daftar incaran, termasuk Nico Schlotterbeck, Arthur Días, Castello Lukeba, Alessandro Bastoni, dan Ruud Nijstad. Kehadiran bek anyar diharapkan bisa meringankan beban Cubarsí dan menjaga stabilitas pertahanan Barcelona di paruh kedua musim.
Sinergi dengan Joan Garcia dan Gerard Martín
Di sisi lain, kehadiran Gerard Martín sebagai bek kidal memberi keuntungan tersendiri bagi Pau Cubarsí. Kombinasi dua bek dengan kaki berbeda memudahkan Barcelona dalam membangun serangan dari belakang dan menghindari tekanan awal lawan. Sinergi ini juga membantu kiper Joan Garcia, yang membutuhkan bek tengah responsif dalam mengantisipasi bola dan mengatur garis pertahanan tinggi.
Barcelona sendiri tengah menyiapkan perpanjangan kontrak Gerard Martín yang akan berakhir pada Juni 2028. Langkah ini diambil untuk mengapresiasi perkembangan sang pemain sekaligus menjaga kesinambungan proyek pertahanan yang tengah dibangun Flick. Dengan kontrak baru, duet Cubarsí dan Martín diharapkan semakin matang dan solid.
Kesimpulan
Pau Cubarsí menjelma menjadi simbol regenerasi Barcelona. Dari desa kecil di Girona hingga menjadi bek termahal di dunia, perjalanannya membuktikan bahwa La Masia masih menjadi ladang talenta terbaik. Menghadapi Real Madrid dan Mbappé di El Clásico menjadi ujian sesungguhnya bagi Pau Cubarsí. Jika mampu tampil gemilang, bukan tidak mungkin ia akan membawa Barcelona meraih kemenangan penting sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu bek muda terbaik dunia.
