Pemprov DKI Gelar Simulasi Gempa di Sekolah dan Kantor, 112 Sekolah dan 10 Kantor Terlibat
Inforiau – 22 Oktober 2026 | Pemprov DKI Gelar Simulasi Gempa di Sekolah dan Kantor menjadi langkah strategis Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana gempa bumi. Kegiatan tersebut menyasar 112 sekolah dan 10 kantor pemerintahan yang ada di wilayah ibu kota, dengan melibatkan aparatur sipil negara (ASN) serta petugas gedung. Simulasi yang digelar pada Rabu (21/10/2026) ini dirancang untuk melatih respons darurat seluruh peserta sekaligus memastikan proses evakuasi berjalan sesuai prosedur yang telah ditetapkan.
Melalui kegiatan ini, Pemprov DKI Gelar Simulasi Gempa di Sekolah dan Kantor tidak sekadar menjadi seremoni tahunan, melainkan upaya nyata membangun budaya siaga bencana di lingkungan pendidikan dan perkantoran. Peserta dilatih mengenali tanda-tanda awal gempa, mengambil posisi aman, hingga melakukan evakuasi teratur menuju titik kumpul. Pelatihan semacam ini dinilai krusial mengingat Jakarta merupakan wilayah yang memiliki risiko gempa, baik dari sesar lokal maupun dampak gempa dari zona megathrust di selatan Jawa.
Di Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, sejumlah ASN tampak antusias mengikuti rangkaian latihan. Mereka dilatih langkah kesiapsiagaan ketika gempa terjadi, mulai dari berlindung di bawah meja yang kokoh, melindungi kepala, hingga bergerak cepat menuju jalur evakuasi yang telah ditentukan. Petugas gedung pun berperan penting dalam mengarahkan peserta agar tidak terjadi kepanikan yang berpotensi menimbulkan korban.
Sementara itu, Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Pusat menekankan pentingnya pengulangan simulasi agar para pegawai kembali memahami prosedur operasional standar atau SOP saat menghadapi keadaan darurat. Pengulangan dinilai efektif karena setiap pegawai, termasuk yang baru bergabung, perlu memiliki pemahaman yang sama tentang tindakan yang harus dilakukan ketika bencana terjadi.
Sekretaris Kota Administrasi Jakarta Pusat, Denny Ramdany, menjelaskan bahwa latihan tersebut bertujuan memastikan pegawai mengetahui tindakan yang harus dilakukan apabila terjadi gempa bumi di lingkungan kantor wali kota. Menurutnya, kesiapsiagaan bukan hanya tanggung jawab tim tanggap bencana, tetapi seluruh penghuni gedung. Dengan demikian, setiap individu memiliki peran dalam meminimalkan risiko dan mempercepat proses evakuasi.
Langkah Pemprov DKI Gelar Simulasi Gempa di Sekolah dan Kantor juga menjadi bagian dari upaya penguatan sistem mitigasi bencana secara menyeluruh. Sekolah dipilih sebagai sasaran utama karena merupakan tempat berkumpulnya banyak siswa dalam waktu bersamaan. Anak-anak termasuk kelompok rentan saat terjadi gempa, sehingga pembiasaan evakuasi sejak dini sangat diperlukan. Guru dan tenaga kependidikan dilatih menjadi pengarah evakuasi yang mampu menenangkan siswa serta memastikan seluruh peserta didik keluar gedung dengan aman.
Adapun rangkaian simulasi umumnya mencakup beberapa tahapan penting yang perlu dipahami masyarakat, antara lain:
- Mengenali tanda peringatan dini dan instruksi resmi dari petugas berwenang.
- Melakukan langkah drop, cover, and hold on saat guncangan terjadi.
- Menghindari jendela, rak kaca, dan benda yang berpotensi jatuh.
- Melakukan evakuasi melalui jalur yang telah ditentukan menuju titik kumpul.
- Melakukan pemeriksaan dan pendataan peserta setelah evakuasi selesai.
Selain itu, simulasi juga menguji kesiapan perangkat pendukung seperti alarm peringatan, jalur evakuasi, titik kumpul, serta koordinasi antar petugas. Evaluasi dilakukan setelah kegiatan agar kekurangan yang ditemukan dapat segera diperbaiki. Dengan begitu, setiap simulasi menghasilkan peningkatan kualitas prosedur, bukan sekadar pengulangan tanpa perbaikan.
Bagi lingkungan perkantoran, kesiapsiagaan menghadapi gempa memiliki tantangan tersendiri karena melibatkan banyak pegawai, tamu, serta dokumen dan peralatan penting. Latihan rutin membantu ASN dan petugas gedung memahami pembagian peran, misalnya siapa yang bertugas mengarahkan evakuasi, memeriksa ruangan, dan melakukan komunikasi dengan pihak berwenang. Koordinasi yang baik akan mempercepat pengambilan keputusan saat situasi darurat benar-benar terjadi.
Partisipasi sekolah dan kantor pemerintahan diharapkan menjadi contoh bagi institusi lain, termasuk sektor swasta dan masyarakat umum. Kesiapsiagaan bencana merupakan investasi jangka panjang yang manfaatnya tidak terlihat pada situasi normal, tetapi sangat menentukan ketika bencana datang. Semakin sering latihan dilakukan, semakin cepat pula respons yang terbentuk.
Secara keseluruhan, langkah Pemprov DKI Gelar Simulasi Gempa di Sekolah dan Kantor menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam melindungi warga, khususnya pelajar dan pegawai, dari risiko bencana gempa. Keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari jumlah peserta, tetapi juga dari meningkatnya pemahaman dan kesiapan seluruh pihak. Dengan pelatihan yang berkelanjutan, evaluasi yang konsisten, serta dukungan semua elemen, Jakarta dapat menjadi kota yang lebih tangguh dan aman menghadapi ancaman gempa bumi di masa mendatang.
