PL Dipermalukan: Agresi Kapasitas Flávio Bolsonaro ke Lula Tetap Terpampang di Media Sosial Partai
Inforiau – 25 Oktober 2026 | Partai Liberal (pl) kembali menjadi sorotan setelah akun resmi Instagram mereka tetap mempertahankan unggahan yang berisi sindiran bernuansa diskriminatif terhadap Presiden Luiz Inácio Lula da Silva. Unggahan tersebut menampilkan pernyataan Flávio Bolsonaro, kandidat presiden dari pl, yang menyinggung kondisi fisik Lula yang kehilangan satu jari tangan kiri akibat kecelakaan kerja puluhan tahun lalu. Kontroversi ini mencuat justru setelah Flávio menyampaikan permintaan maaf secara terbuka dalam debat presiden yang disiarkan TV Globo pada Jumat malam.
Peristiwa bermula ketika debat membahas usulan Lula untuk menyediakan transportasi umum gratis pada akhir pekan. Flávio, yang menolak kebijakan itu, menggunakan kondisi fisik lawannya sebagai bahan serangan. Pernyataannya memancing tawa dari sebagian pendukung senator tersebut di dalam studio. Sikap itu langsung menuai reaksi keras dari Lula, yang menuntut permintaan maaf dan mengaitkan insiden tersebut dengan realitas ribuan pekerja Indonesia yang mengalami mutilasi dan kecelakaan kerja akibat kelalaian pengusaha.
“Anda harus minta maaf. Rakyat pekerja sedang menyaksikan. Ribuan pekerja mengalami kecelakaan karena kelalaian pengusaha,” tegas Lula dalam perdebatan tersebut. Presiden juga menolak disebut dengan cara demikian oleh seseorang yang ia sebut sebagai “miliciano”, sebuah julukan yang kini menjadi salah satu poros serangan kampanye petahana.
Permintaan Maaf yang Tak Sejalan dengan Tindakan Partai
Di hadapan publik, Flávio tampak mengalah. Ia menyatakan tidak bermaksud menyinggung dan menyampaikan permintaan maaf secara langsung. “Lula, jika saya menyinggung Anda, saya benar-benar minta maaf. Saya tidak ingin menyinggung Anda,” ujarnya saat itu. Namun, sikap tersebut tidak diikuti oleh aparat partai. Hingga berita ini diturunkan, unggahan bernada agresi kapasitas itu masih terpampang di akun resmi pl, memicu kritik bahwa permintaan maaf hanya bersifat pencitraan sesaat.
Pengamat politik menilai langkah pl mempertahankan konten tersebut sebagai sinyal bahwa strategi kampanye memang mengandalkan provokasi untuk menarik perhatian basis pendukung. Hal ini diperkuat oleh agenda penutupan kampanye Flávio pada Sabtu (24/10), yang berlangsung di Belo Horizonte dan Rio de Janeiro. Di Praça da Liberdade, para pendukung berkumpul sejak pagi, disusul motokonvoi dari Praça do Papa. Ini menjadi penampilan publik pertama Flávio setelah debat panas tersebut.
Serangan “Miliciano” dan Bayang-Bayang Masa Lalu
Julukan “miliciano” yang dilontarkan Lula bukan tanpa dasar. Istilah itu merujuk pada rekam jejak Flávio selama menjabat di Majelis Legislatif Rio de Janeiro (Alerj). Ia pernah memberikan Medali Tiradentes kepada mantan kapten PM Adriano da Nóbrega, yang kemudian disebut sebagai pemimpin “Escritório do Crime”, kelompok milisi yang dikaitkan dengan pembunuhan berbayar. Ibu dan mantan istri Adriano juga sempat bekerja di kantor Flávio di Alerj.
Selain itu, Flávio tercatat menolak pembentukan CPI Milisi di Alerj pada 2008 dan pernah memberikan penghormatan kepada Ronald Paulo Alves Pereira, mantan mayor PM yang kemudian divonis terlibat dalam pembunuhan anggota dewan Marielle Franco. Ia juga pernah menyuarakan legalisasi milisi di forum legislatif. Sang senator membantah semua keterkaitan dengan aktivitas milisi dan mengaku tidak mengetahui perilaku kriminal para penerima penghormatan tersebut.
Di sisi lain, federasi Partai PT telah mengajukan gugatan ke Mahkamah Pemilu (TSE) terhadap Thiago Medina, anggota dewan terpilih dari pl di Pernambuco. Medina dituduh menyebarkan video yang menyiratkan adanya pembayaran “di luar jalur” dari Daniel Vorcaro kepada Instituto Lula. PT menuntut penghapusan video dan hak jawab, dengan alasan tudingan tersebut melampaui batas kebebasan berekspresi dan tidak didukung bukti. Polisi Federal menyatakan Vorcaro tidak memberikan kesaksian dengan isi yang dituduhkan, sementara Kejaksaan Agung menegaskan komunikasi terkait kerja sama hanya berlangsung melalui pengacara.
Rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa kontestasi politik menjelang putaran kedua tidak hanya berlangsung di panggung debat, tetapi juga di ruang digital. Akun resmi pl menjadi medan tempur narasi yang mempertaruhkan etika dan martabat politik. Ketika permintaan maaf diucapkan di depan kamera tetapi konten ofensif dibiarkan beredar, publik berhak mempertanyakan sejauh mana komitmen partai terhadap politik yang beradab.
Yang paling dirugikan tentu bukan hanya Lula sebagai individu, melainkan juga jutaan pekerja yang setiap hari menghadapi risiko kecelakaan kerja. Kondisi fisik seorang pekerja yang kehilangan jari akibat tugasnya seharusnya menjadi pengingat akan pentingnya keselamatan kerja, bukan bahan lelucon politik. Sampai kapan pun, menjaga martabat pekerja dan menghormati lawan politik adalah ukuran kedewasaan demokrasi yang tidak boleh dikorbankan demi elektabilitas sesaat.
