Prabowo MSCI Dasco: Ketika Nasionalisme Politik Berhadapan dengan Realitas Pasar Modal
Inforiau – 25 Oktober 2026 | Isu Prabowo MSCI Dasco menjadi salah satu drama ekonomi-politik paling menyita perhatian sepanjang Oktober 2026. Ketika Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan rencana konsultasi untuk menurunkan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market, guncangan hebat langsung menerpa Bursa Efek Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok lebih dari 11 persen dalam sehari, memicu kepanikan investor dan gelombang aksi jual. Di tengah badai itu, nama Prabowo MSCI Dasco muncul sebagai poros narasi: Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad sama-sama menyuarakan sikap tegas bahwa Indonesia tidak gentar menghadapi tekanan lembaga pemeringkat global tersebut.
Seruan “Buy Indonesia” dan Langkah Politik di Tengah Kepanikan Pasar
Ketika pasar dilanda aksi jual, Dasco memilih langkah yang sarat makna. Melalui akun Instagram pribadinya @sufmi_dasco pada Selasa (20/10/2026), politisi Partai Gerindra itu menyerukan kepada seluruh pihak untuk “Buy Indonesia”. Ia menegaskan bahwa meski uang keluar dan rating bertubi-tubi menghantam, fundamental yang kuat serta langkah yang tepat akan membawa Indonesia melewati tekanan tersebut.
“Kita menghormati rating, tetapi kita independen dan bersatu untuk Indonesia,” ujar Dasco dalam unggahannya. Beberapa hari sebelumnya, saat MSCI mengumumkan kajian penurunan klasifikasi, Dasco termasuk pejabat tinggi yang langsung mendatangi Bursa Efek Indonesia. Ia mendesak otoritas bursa dan regulator segera melakukan pembenahan untuk menjawab kekhawatiran internasional terkait transparansi struktur kepemilikan saham dan praktik perdagangan.
Dalam unggahan terpisah pada Minggu (25/10/2026), Dasco kembali mengisyaratkan bahwa Indonesia mampu menentukan arah dan penilaian pasar modalnya sendiri melalui kebersamaan dan semangat nasionalisme. “Di Bursa kita, bersama akan kita buat dan tentukan rating kita sendiri,” tulisnya. Ia menegaskan Indonesia akan tetap bersatu, bergerak, dan berjuang menuju bangsa yang unggul di tengah berbagai tantangan.
Kepastian Politik dari Level Tertinggi
Optimisme Dasco berbarengan dengan sikap tegas Presiden Prabowo Subianto. Sehari sebelum IHSG rebound, dalam Sidang Kabinet Paripurna di Jakarta (21/10/2026), Kepala Negara menegaskan bahwa Indonesia tidak akan gentar menghadapi ancaman penurunan klasifikasi pasar modal oleh MSCI. Kepastian politik dari level tertinggi ini menjadi katalis penting bagi pasar.
Data BEI menunjukkan, meski IHSG sempat dibuka melemah ke posisi 5.247,98 dan menyentuh level terendah 5.185,53, tekanan jual berangsur mereda. Pada perdagangan Kamis (22/10/2026), IHSG berhasil membalikkan keadaan dengan menguat 1,70 persen ke level 5.419,00 pada sesi I, setelah sempat mencapai level tertinggi 5.422,59. Kombinasi seruan Prabowo MSCI Dasco menjadi jembatan antara keyakinan politik dan sentimen pasar yang sempat rapuh.
Peringatan Ekonom: Efek Domino hingga ke Masyarakat Kecil
Namun, tidak semua pihak menyambut baik narasi resistensi tersebut. Ekonom Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Y. Sri Susilo, menilai pidato Presiden Prabowo yang menolak rekomendasi MSCI adalah keliru secara ekonomi. Menurutnya, sikap mengabaikan rekomendasi MSCI tidak tepat dan berpotensi merugikan iklim investasi.
“Tidak tepat timing-nya, tidak pas substansinya, dan itu kontraproduktif. MSCI itu didengar oleh bursa pasar modal lain di banyak negara,” kata Sri saat dihubungi, Kamis (22/10/2026). Ia menambahkan bahwa Indonesia memang tidak perlu takut kepada MSCI, tetapi rekomendasinya harus diperhatikan dan dijalankan.
Sri mengingatkan bahwa pelemahan pasar saham akibat resistensi pemerintah membawa efek domino yang memukul kehidupan masyarakat kecil. Anggapan bahwa masyarakat kecil aman dari gejolak pasar modal dinilainya terlalu menyederhanakan masalah. Penurunan IHSG menggerus nilai kekayaan perusahaan, yang berujung pada pembatalan ekspansi dan penyerapan tenaga kerja.
- Ekspansi tertunda: perusahaan tidak dapat memperluas usaha sehingga rencana penyerapan tenaga kerja batal.
- Pengetatan kredit: bank menjadi lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan untuk menjaga risiko keuangan.
- Akses modal UMKM terhambat: pencairan pinjaman usaha rakyat di tingkat bawah berisiko tertunda.
Dinamika Kawasan yang Tetap Bergeliat
Ironisnya, gejolak di pasar modal Indonesia terjadi saat aktivitas investasi di kawasan ASEAN justru tumbuh pesat. Sepanjang 2026, volume merger dan akuisisi di ASEAN meningkat lebih dari 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai sekitar US$140 miliar, sementara gabungan penerbitan di pasar modal ekuitas dan utang melampaui US$180 miliar. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa kepercayaan investor global sangat dipengaruhi oleh stabilitas regulasi dan transparansi pasar.
Kesimpulan
Dinamika Prabowo MSCI Dasco memperlihatkan tarik-menarik antara semangat nasionalisme politik dan realitas pasar modal yang saling terhubung secara global. Di satu sisi, kepastian politik dari Presiden dan DPR berhasil menenangkan pasar dan memicu rebound IHSG. Di sisi lain, para ekonom mengingatkan bahwa mengabaikan rekomendasi lembaga pemeringkat internasional berisiko menimbulkan efek domino yang pada akhirnya dirasakan masyarakat luas. Ke depan, keseimbangan antara kedaulatan pasar dan kepatuhan terhadap standar internasional akan menjadi kunci bagi Indonesia dalam menjaga kepercayaan investor sekaligus melindungi ekonomi rakyat. Isu Prabowo MSCI Dasco pun menjadi pelajaran berharga bahwa retorika politik dan kebijakan ekonomi harus berjalan seiring, bukan saling bertabrakan.
