Prabowo Tantang MSCI, Pasar Modal Indonesia Tetap Tegar di Tengah Tekanan
Inforiau – 25 Oktober 2026 | Isu MSCI pasar modal Indonesia kembali memanas setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengusulkan penurunan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Presiden Prabowo Subianto merespons tegas ancaman tersebut. Ia menegaskan Indonesia tidak gentar dan menilai pernyataan MSCI hanya bertujuan menakut-nakuti. Sikap kepala negara itu menjadi sorotan publik sepekan terakhir, terlebih ketika pasar keuangan domestik menunjukkan gejolak yang cukup sensitif.
Ancaman MSCI ini bukan kali pertama muncul. Namun, reaksi pemerintah kali ini terbilang cepat. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto langsung mengimbau investor untuk tetap tenang dan rasional. Menurutnya, MSCI bukan satu-satunya lembaga penyedia indeks global yang menjadi acuan investasi. Ada S&P dan FTSE Russell yang juga memiliki metodologi penilaian tersendiri. “MSCI bukan satu-satunya rating. Banyak rating lain, ada S&P, FTSE Russell. Jadi, yang satu tidak bisa mendikte yang lain,” ujar Airlangga di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Jumat (23/10/2026).
Pernyataan Airlangga tersebut menegaskan bahwa persoalan MSCI pasar modal tidak boleh dilihat secara sempit. FTSE Russell, misalnya, membagi pasar saham global ke dalam empat tingkatan: Developed, Advanced Emerging, Secondary Emerging (posisi Indonesia saat ini), dan Frontier. Sementara S&P melalui S&P Dow Jones Indices juga menjadi rujukan vital bagi pengelola dana besar. Dengan demikian, investor memiliki alternatif acuan selain MSCI.
Meski demikian, pemerintah tidak menutup mata terhadap kritik yang mendasari usulan MSCI. Airlangga mengapresiasi langkah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam mereformasi pasar modal, terutama perbaikan tata kelola perdagangan saham dan peningkatan porsi saham yang beredar di publik atau free float. Ia mengakui masih ada sejumlah emiten yang belum memenuhi ketentuan free float minimal 15 persen. “Ini bukan kaitannya dengan fundamental ekonomi, bukan juga dengan fundamental emiten, tetapi lebih kepada governance daripada trading market, khusus untuk saham yang free float,” jelasnya.
Di sisi lain, mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal meminta pemerintah menjaga disiplin komunikasi. Menurutnya, pernyataan pejabat publik dapat memengaruhi sentimen pasar dan persepsi investor. Ia mengusulkan kebijakan satu pintu dalam menyampaikan informasi terkait MSCI. Hanya pejabat tertentu yang seharusnya berbicara mewakili pemerintah, seperti Ketua OJK, Menteri Keuangan, atau pimpinan Bursa Efek Indonesia (BEI). Dino juga meminta para pendengung atau buzzer tidak menyebarkan spekulasi dan teori konspirasi yang menyudutkan MSCI. “Upaya menyerang lembaga tersebut melalui narasi konspirasi tidak akan memengaruhi independensinya dalam menilai pasar modal Indonesia,” tulisnya melalui akun Instagram pribadinya, Sabtu (24/10/2026).
Menariknya, di tengah tekanan sentimen negatif, langkah Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) masuk ke pasar saham justru dinilai menjadi katalis positif. Pengamat pasar modal Hendra Wardana menilai aksi beli Danantara dapat membantu memperbaiki sentimen dan meningkatkan kepercayaan investor. Saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti BMRI, BBRI, BBNI, TLKM, dan ANTM ikut menopang rebound Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). “Aksi beli Danantara dapat membantu memperbaiki sentimen, meningkatkan kepercayaan investor, dan memberikan tambahan permintaan terhadap saham-saham yang dinilai memiliki valuasi menarik,” ujar Hendra, Sabtu (24/10/2026).
Namun, Hendra mengingatkan agar investor tetap proporsional. Keberlanjutan kenaikan harga bergantung pada fundamental perusahaan, prospek laba, arus kas, kebijakan dividen, serta kondisi pasar secara keseluruhan. Menurutnya, investor perlu membedakan antara kenaikan yang didorong sentimen dan kenaikan yang ditopang perbaikan kinerja bisnis. “Jika penguatan hanya mengandalkan ekspektasi terhadap Danantara, harga saham tetap berisiko terkoreksi ketika minat beli mereda,” tambahnya.
Dalam konteks yang lebih luas, isu MSCI pasar modal ini sejatinya menjadi momentum pembenahan tata kelola bursa. Pemerintah melalui OJK terus mendorong transparansi dan pemenuhan free float. Airlangga juga menyoroti pergerakan pasar modal Indonesia dalam tiga hari terakhir yang menunjukkan tren positif. Selain potensi kenaikan harga saham, dividen yang dibagikan emiten menjadi sumber imbal hasil bagi investor. “Jadi, kita tidak perlu khawatir, apalagi dalam tiga hari terakhir pasar modal berada dalam jalur hijau. Return-nya jelas dari dividen yang dibayar oleh masing-masing emiten,” tandasnya.
Terlepas dari pro dan kontra, ancaman MSCI telah membuka ruang dialog tentang daya saing pasar modal Indonesia. Dukungan terhadap reformasi struktural, disiplin komunikasi pejabat, dan strategi investasi yang rasional menjadi kunci. Dengan begitu, MSCI pasar modal bukan akhir dari segalanya, melainkan pemicu untuk memperkuat fundamental dan kepercayaan investor global. Pasar pun diharapkan tetap stabil dan mampu mencetak kinerja positif di tengah dinamika global.
Editor: Abuzar Samad
