Prancis Terbuka: Dari Kerusuhan Massal hingga Sorotan Bulu Tangkis, Simak Kaleidoskop Akhir Pekan
Inforiau – 20 Oktober 2026 | Paris, Prancis — Akhir pekan panjang yang penuh gejolak menyelimuti Prancis. Di tengah gelombang demonstrasi yang berujung kerusuhan, ajang olahraga bergengsi Prancis Terbuka 2026 tetap bergulir dan mencuri perhatian publik. Turnamen bulu tangkis BWF World Tour Super 750 yang berlangsung di Arena Grand Paris, Cesson-Sevigne, menjadi oase di tengah situasi keamanan yang memanas. Namun, bayang-bayang krisis politik dan sosial masih terasa, terutama setelah Perdana Menteri Sébastien Lecornu memerintahkan jam malam parsial di sejumlah area rawan mulai Senin (19/10/2026).
Keputusan tersebut diambil setelah aksi protes menolak tingginya biaya hidup bereskalasi menjadi kerusuhan dan penjarahan di berbagai kota besar seperti Paris, Lyon, dan Marseille. Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez mengakui aparat kehilangan kendali karena jumlah massa yang melampaui prediksi intelijen—dari perkiraan 200 ribu menjadi lebih dari 500 ribu orang. Meski demikian, Presiden Emmanuel Macron menolak pengunduran diri Nunez dan memerintahkannya untuk membenahi taktik kepolisian.
Kerusuhan ini menimbulkan kerugian besar: lebih dari 2.000 toko rusak dan dijarah, dengan nilai kerugian mencapai ratusan juta euro. Di Limoges, balai kota bersejarah abad ke-19 ludes terbakar. Pemerintah pun meluncurkan operasi penegakan hukum besar-besaran, melibatkan hampir 200 penyelidik di kepolisian Paris untuk memburu para perusuh melalui rekaman kamera pengawas.
Di tengah situasi tersebut, ajang Prancis Terbuka tetap menjadi magnet bagi para penggemar olahraga. Sektor ganda putri Indonesia mencatat hasil manis. Pasangan unggulan kelima, Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum, dan duet Amallia Cahaya Pratiwi/Siti Fadia Silva Ramadhanti, kompak melaju ke babak 16 besar. Rachel/Febi harus melewati rubber game melawan wakil Hong Kong, Lui Lok Lok/Tsang Hiu Yan, dengan skor 18-21, 21-11, 21-16. Sementara itu, Tiwi/Fadia memenangi perang saudara melawan sesama pasangan Indonesia.
Kejuaraan Prancis Terbuka tahun ini juga diwarnai persaingan sengit dari para pemain Malaysia. Goh Sze Fei-Nur Izzuddin Rumsani, Nur Azriyn Ayub-Tan Wee Kiong, Goh Soon Huat-Shevon Jemie Lai, dan Wong Tien Ci-Lim Chiew Sien turut ambil bagian. Sayangnya, pasangan Jimmy Wong-Cheng Su Yin harus tersingkir di putaran pertama. Status Super 750 membuat turnamen ini dihadiri pemain-pemain terbaik dunia, menjadikannya ajang pembuktian bagi para atlet di tengah tekanan situasi negara tuan rumah.
Meski demikian, gelaran Prancis Terbuka tidak sepenuhnya lepas dari dampak kerusuhan. Pemerintah Kota Marseille bahkan melarang kerumunan publik mulai pukul 12.00 hingga 20.00 waktu setempat. Otoritas setempat juga akan mengumumkan rincian jam malam di wilayah lain. PM Lecornu menegaskan tidak ada rencana jam malam di seluruh Paris, namun langkah ini diambil untuk memulihkan ketertiban umum dan melindungi keselamatan warga.
Di sisi lain, dunia sepak bola Prancis juga dihebohkan jelang laga besar Paris Saint-Germain melawan Barcelona di Liga Champions. Absennya Nuno Mendes memicu krisis di lini pertahanan PSG. Legenda sepak bola Prancis, Jean-Michel Larqué, menilai opsi menurunkan Lucas Digne sebagai pengganti Mendes adalah “bunuh diri taktis” mengingat Digne yang berusia 33 tahun dianggap sudah melewati masa keemasan. Kritik senada datang dari analis Éric Di Meco yang mempertanyakan kebijakan transfer tersebut.
Kembali ke Prancis Terbuka, turnamen ini menjadi simbol ketangguhan olahraga di tengah gejolak sosial. Para atlet tetap fokus mengejar prestasi, sementara panitia dan otoritas berupaya memastikan keamanan penyelenggaraan. Dukungan serikat pekerja CGT dalam demonstrasi menuntut kenaikan upah dan perlindungan layanan publik juga menjadi latar belakang yang tak terpisahkan dari atmosfer turnamen tahun ini.
Sebagai penutup, rangkaian peristiwa di Prancis akhir pekan ini menunjukkan potret kontras: di satu sisi, negara menghadapi ujian stabilitas sosial dan keamanan; di sisi lain, semangat kompetisi di ajang Prancis Terbuka tetap menyala. Pemerintah diminta merespons keluhan masyarakat secara konkret, sementara para atlet terus berjuang mengharumkan nama bangsa di lapangan. Sinergi antara pemulihan ketertiban dan keberlangsungan event internasional menjadi kunci citra Prancis di mata dunia.
