Rupiah Indonesia Kembali Tembus Rp18.000 Usai BI Tahan Suku Bunga, Sinyal Bahaya atau Wajar?
Inforiau – 21 Oktober 2026 | Tekanan terhadap rupiah indonesia kembali menjadi sorotan pasar keuangan Tanah Air. Pada penutupan perdagangan Rabu, 21 Oktober 2026, nilai tukar rupiah terparkir di level Rp18.022 per dolar Amerika Serikat, melemah 30 poin atau sekitar 0,17 persen dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di Rp17.992 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi tepat setelah Bank Indonesia memutuskan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75 persen.
Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 20-21 Oktober 2026. Selain menahan BI Rate, bank sentral juga mempertahankan suku bunga Lending Facility di 6,50 persen, namun menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 5 persen. Dengan langkah ini, BI tercatat telah menahan suku bunga dalam tiga pertemuan beruntun.
Respons Pasar dan Tekanan Eksternal
Pengamat pasar uang Lukman Leong menilai pelemahan rupiah indonesia merupakan respons wajar pasar terhadap keputusan BI tersebut. Menurutnya, kebijakan itu sejalan dengan perkiraan inflasi 2026 yang tetap rendah dan terkendali dalam sasaran BI sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen. Di sisi lain, meredanya tekanan di pasar saham domestik turut menahan pelemahan rupiah agar tidak semakin dalam.
Gubernur BI Destry Damayanti mengungkapkan bahwa rupiah sempat menguat hingga pertengahan September 2026. Namun pada 20 Oktober 2026, rupiah tercatat di level Rp17.985 per dolar AS, melemah 0,61 persen secara point-to-point dibandingkan posisi akhir September 2026. Menurutnya, perkembangan ini dipengaruhi oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, arah kebijakan moneter Amerika Serikat yang mengetat, serta sentimen investor asing di pasar saham.
Meski demikian, BI menilai tekanan terhadap rupiah indonesia masih berada dalam batas normal. Destry menyebut rupiah sempat mengalami tekanan selama dua hari setelah pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait usulan perubahan status pasar modal Indonesia menjadi Standalone Market. Namun, tekanan tersebut dinilai wajar karena kondisi pasar regional juga sedang menghadapi tantangan.
Strategi BI Menarik Modal Asing
Untuk merespons arus keluar modal asing, BI mengarahkan kebijakannya secara lebih terukur dan tepat sasaran. Fokus utamanya adalah mengoptimalkan insentif bagi investor yang menanamkan dana pada instrumen keuangan domestik, termasuk Surat Berharga Negara (SBN), Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), serta instrumen lainnya.
BI juga mengoptimalkan insentif lindung nilai melalui instrumen swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Khusus untuk DNDF, bank sentral memberikan pengurangan biaya lindung nilai hingga 45 persen. Insentif yang mulai diterapkan sejak Juni 2026 itu disebut telah membantu menarik aliran modal asing hingga USD9,93 miliar berdasarkan data hingga awal Oktober 2026.
- BI Rate ditahan di 5,75 persen selama tiga pertemuan beruntun.
- Suku bunga Deposit Facility naik menjadi 5 persen.
- Insentif DNDF memangkas biaya lindung nilai hingga 45 persen.
- Aliran modal asing masuk mencapai USD9,93 miliar.
Selain insentif lindung nilai, BI menilai penyesuaian imbal hasil pada aset keuangan domestik berperan menjaga daya tarik investasi. Dengan demikian, selisih imbal hasil antara aset domestik dan global diharapkan tetap kompetitif. Insentif juga diperluas ke transaksi Local Currency Transaction dengan negara mitra guna memperkuat stabilitas rupiah indonesia.
Optimisme Fiskal di Tengah Tekanan
Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Keuangan optimistis defisit APBN 2026 tetap di bawah batas 3 persen terhadap PDB. Otoritas fiskal memproyeksikan defisit berada di level 2,85 persen terhadap PDB, dengan pertumbuhan ekonomi pada kisaran 5,4 hingga 5,6 persen. Salah satu hal yang diwaspadai adalah efek sentimen negatif penilaian terbaru MSCI terhadap imbal hasil SBN.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menambahkan bahwa penyesuaian nilai tukar terjadi usai kebijakan BI. Ia menilai kombinasi kebijakan moneter yang stabil dan insentif investasi menjadi kunci menjaga kepercayaan pasar terhadap rupiah indonesia di tengah ketidakpastian global.
Secara keseluruhan, pelemahan rupiah ke level Rp18.022 per dolar AS mencerminkan besarnya tekanan eksternal yang masih membayangi pasar keuangan domestik. Namun, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus mengoptimalkan seluruh instrumen moneter guna menjaga stabilitas nilai tukar, mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas, serta mendorong masuknya kembali modal asing. Selama fundamental ekonomi terjaga dan insentif berjalan efektif, tekanan terhadap rupiah dinilai masih dapat dikelola dalam koridor yang wajar.
Penulis: Sukri Mustakim
Editor: Alwira Fanzary
