Saham IHSG Bergejolak: Dari Penguatan Pagi hingga Jatuh Parah Saat Sesi I, Saham Mana yang Tetap Cuan?
Inforiau – 03 November 2026 | Pasar modal Indonesia mengalami perjalanan yang penuh tantangan pada awal minggu ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menampilkan volatilitas yang signifikan, mencerminkan dinamika kompleks yang sedang dihadapi investor di Bursa Efek Indonesia. Perkembangan saham IHSG menjadi sorotan utama, terutama dengan fluktuasi harga yang dramatis dalam waktu singkat.
Pada perdagangan Senin (2 November 2026), saham IHSG berhasil menutup perdagangan dengan penguatan yang cukup solid. Indeks Harga Saham Gabungan ditutup menguat sebesar 0,79 persen, mencapai level 5.096,83. Penguatan ini didukung oleh beberapa saham unggulan yang menunjukkan performa gemilang. Saham BRMS memimpin dengan kenaikan 6,63 persen, diikuti BUMI yang meloncat 7,56 persen, dan CASA yang naik 4,42 persen. Ketiga saham ini menjadi pendorong utama yang membawa indeks ke zona positif.
Namun, tidak semua saham menunjukkan tren positif. Beberapa saham malah menekan pergerakan indeks, seperti AADI yang melemah 6,75 persen, TLKM yang turun 1,01 persen, dan BMRI yang merosot 0,54 persen. Dari sisi investor asing, mereka mencatat penjualan bersih sebesar Rp375,54 miliar di pasar reguler dan Rp112,48 miliar di seluruh pasar, menunjukkan adanya aksi profit taking dari pihak asing.
Penguatan saham IHSG pada hari Senin turut didukung oleh implementasi perubahan komposisi indeks setelah penghapusan saham HSC, serta kenaikan sejumlah saham berkapitalisasi besar seperti TPIA, BUMI, BBCA, dan BREN. Dari perspektif sektoral, tujuh dari 11 sektor berakhir di zona positif, dengan sektor Basic Industry memimpin penguatan sebesar 2,12 persen, sementara sektor Health mencatat pelemahan terdalam sebesar 0,64 persen.
Momentum positif ini sempat berlanjut pada awal perdagangan Selasa (3 November 2026). Saham IHSG dibuka menguat dengan pergerakan 0,43 persen, mencapai level 5.126,53. Pada pukul 09.02 WIB, IHSG berhasil menguat 22,05 poin atau 0,43 persen ke level 5.118,88 dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Indeks sempat menyentuh level tertinggi 5.143,58 dan terendah 5.115,51.
Penguatan awal hari ini didukung oleh mayoritas saham yang bergerak di zona hijau. Hingga pukul 09.02 WIB, sebanyak 341 saham menguat, 158 saham melemah, dan 464 saham stagnan. Beberapa saham menunjukkan performa spektakuler, dengan MKNT mencatat kenaikan tertinggi sebesar 28,57 persen, disusul AIMS yang menguat 24,49 persen. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp8.973 triliun, dengan nilai transaksi mencapai Rp396,7 miliar dan volume perdagangan sebanyak 932,6 juta saham.
Indeks saham unggulan juga bergerak positif pada pagi hari. LQ45 menguat 0,29 persen ke level 519,372, sementara IDX30 menguat 0,18 persen ke level 291,766. Pergerakan ini menunjukkan optimisme pasar pada pembukaan perdagangan hari Selasa.
Namun, optimisme ini tidak bertahan lama. Pada sesi I perdagangan Selasa (3 November 2026), saham IHSG mengalami koreksi yang tajam dan menyakitkan. Indeks Harga Saham Gabungan jatuh parah sebesar 133,76 poin atau 2,62 persen, menutup sesi I di level 4.963,06. IHSG bergerak bervariasi dalam rentang 4.950 hingga 5.143, mencerminkan ketegangan pasar yang tinggi.
Penurunan drastis ini melibatkan volume perdagangan yang sangat besar. Sebanyak 14,82 miliar lembar saham telah diperdagangkan pada sesi I dengan nilai transaksi mencapai Rp5,57 triliun dan frekuensi perdagangan 815.725 transaksi. Dari 715 saham yang diperdagangkan, hanya 94 saham yang mengalami kenaikan, sementara 542 saham menurun dan 79 saham stagnan.
Saham-saham blue chip yang tergabung dalam LQ45 juga mengalami penurunan sebesar 2,5 persen. Seluruh sektor saham tercatat melemah pada penutupan sesi I. Sektor barang baku memimpin pelemahan dengan penurunan 3,96 persen, diikuti sektor energi yang turun 3,7 persen, sektor perindustrian turun 3,7 persen, sektor infrastruktur turun 3,19 persen, dan sektor barang konsumsi non primer turun 2,61 persen.
Tekanan pada pasar saham Indonesia juga dipengaruhi oleh perkembangan di pasar regional. Indeks saham Asia mayoritas melemah pada periode yang sama. Straits Times Singapura turun 0,42 persen dan Shanghai China jatuh 1,07 persen, sementara Hang Seng Hong Kong terkerek 0,44 persen. Pasar Jepang (Nikkei) sedang libur, sehingga tidak ada data pergerakan dari bursa tersebut.
Meskipun saham IHSG secara keseluruhan mengalami tekanan yang signifikan pada sesi I, beberapa saham individual masih berhasil mencatat keuntungan yang mengesankan. Lima saham berhasil masuk daftar top gainers, bahkan dua di antaranya mencapai batas auto rejection atas (ARA), yang menunjukkan permintaan pembelian yang sangat kuat terhadap saham-saham tertentu.
Di sisi aksi korporat, Merdeka Copper Gold (MDKA) tengah menargetkan peningkatan kapasitas produksi emas Tambang Emas Pani di Gorontalo menjadi 500.000 hingga 700.000 ons per tahun melalui pembangunan dua fasilitas Carbon-in-Leach (CIL). Ekspansi ini didukung oleh peningkatan produksi yang mencapai 26.331 ons pada kuartal III-2026, naik 69 persen secara kuartalan. Sementara itu, Estika Tata Tiara (BEEF) mengakuisisi lahan seluas 30,05 hektare di Sukabumi sebagai bagian dari strategi diversifikasi bisnis pemerahan sapi.
Volatilitas yang dialami saham IHSG dalam beberapa hari terakhir mencerminkan kondisi pasar yang dinamis dan penuh dengan ketidakpastian. Investor perlu tetap waspada dan melakukan analisis mendalam sebelum mengambil keputusan investasi, mengingat pergerakan indeks yang dapat berubah drastis dalam waktu singkat.
