Tentara Nasional Indonesia di Pusaran Perubahan: Maruli Simanjuntak, Tandyo Budi Revita, dan Peta Baru Kepemimpinan Militer
Inforiau – 24 Oktober 2026 | Dinamika di tubuh Tentara Nasional Indonesia kembali menjadi sorotan publik setelah Presiden Prabowo Subianto melakukan perombakan sejumlah jabatan strategis di lingkungan militer. Dalam satu hari pelantikan yang digelar di Istana Negara, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Kamis (15/10/2026), dua posisi kunci resmi diisi. Jenderal TNI Maruli Simanjuntak dilantik sebagai Wakil Panglima Tentara Nasional Indonesia merangkap Kepala Badan Nasional Pengelola Perbatasan dan Daerah Terpencil (BNPPDT), sementara Jenderal TNI Tandyo Budi Revita naik ke kursi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).
Pelantikan tersebut berlandaskan Keputusan Presiden Nomor 105 dan 106 TNI Tahun 2026 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Wakil Panglima Tentara Nasional Indonesia merangkap Kepala Badan Nasional Pengelola Perbatasan dan Daerah Terpencil. Melalui beleid itu, Maruli Simanjuntak resmi menggantikan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian sebagai Kepala BNPPDT, sedangkan Tandyo yang sebelumnya menjabat Wakil Panglima kini memimpin Angkatan Darat. Keduanya mengucapkan sumpah jabatan di hadapan presiden, menandatangani berita acara, lalu menerima ucapan selamat dari Presiden Prabowo, Wakil Presiden Gibran Rakabuming, serta para tamu undangan.
Dua Tugas Besar di Pundak Maruli Simanjuntak
Usai dilantik, Maruli menegaskan bahwa BNPPDT merupakan gagasan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di wilayah perbatasan dan daerah terpencil yang dinilainya membutuhkan perhatian lebih. “Ini jadi badannya nanti dari Badan Nasional Pengelola Perbatasan, jadi sekarang pengelola perbatasan dan daerah terpencil. Itu nanti tugas saya. Kalau wakil Panglima ya jelas wakil Panglima dan membantu Panglima,” ujarnya.
Badan tersebut dibentuk pada 2010 dengan nama awal Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP). Tujuannya mengelola batas wilayah negara dan kawasan perbatasan dengan mengedepankan sinergi kebijakan dan program, sehingga tercipta pengelolaan batas wilayah serta pembangunan kawasan perbatasan yang terintegrasi dan terpadu. Kini, dengan tambahan mandat “daerah terpencil”, peran lembaga ini diharapkan semakin menyentuh kebutuhan warga di wilayah terluar Indonesia.
Maruli Simanjuntak lahir di Bandung, Jawa Barat, pada 27 Februari 1970, dan tumbuh besar di kota yang sama. Ia menamatkan pendidikan sekolah menengah pada 1988, lalu lulus Akademi Militer pada 1992. Kariernya dimulai dari Infanteri Kopassus, dengan sejumlah jabatan strategis di Korps Baret Merah, antara lain Komandan Batalyon 21 Grup 2 Kopassus, Komandan Sekolah Komando Pusdikpassus, Wakil Komandan Grup 1 Kopassus, Komandan Grup 2 Kopassus, hingga Komandan Grup A Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).
Estafet Kepemimpinan di Angkatan Darat
Di sisi lain, masuknya Tandyo Budi Revita menambah panjang daftar Kepala Staf TNI Angkatan Darat dari masa ke masa, yang tercatat sejak 1948 hingga sekarang. Pergantian pucuk pimpinan di matra darat ini menjadi penanda penting bagi arah pembinaan kekuatan Tentara Nasional Indonesia ke depan.
Perubahan di jajaran atas militer juga berlangsung di tengah suasana duka. Mantan KSAD Jenderal TNI (Purn) Subagyo Hadi Siswoyo meninggal dunia di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta, pada Senin (19/10/2026) pukul 16.20 WIB. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan belasungkawa atas nama Presiden Prabowo Subianto dan Pemerintah Republik Indonesia. “Semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan, ketabahan, dan keikhlasan dalam menghadapi kehilangan ini,” ucapnya. Pemerintah pun menghormati jasa dan keteladanan almarhum yang pernah memimpin Angkatan Darat pada tiga era kepresidenan.
Keris Woomera 2026: Bukti Kesiapan Operasional
Di tengah dinamika kepemimpinan, kesiapan operasional Tentara Nasional Indonesia diuji dan ditunjukkan melalui latihan gabungan bersama Australia. Keris Woomera 2026 yang berlangsung 12-20 Oktober 2026 melibatkan sekitar 2.235 personel, terdiri atas 1.000 personel Australian Defence Force (ADF) dan 1.235 personel Tentara Nasional Indonesia, dengan dukungan kemampuan dari ketiga matra. Latihan ini menjadi kegiatan militer luar negeri terbesar ADF sepanjang tahun dan dibuka melalui upacara di Pelabuhan Banyuwangi, Jawa Timur.
Rangkaian latihan mencakup operasi amfibi, latihan tembak langsung, serta integrasi operasi maritim di Jawa Timur, Laut Bali, dan Samudra Hindia bagian utara. Dari unsur Angkatan Laut Australia, dikerahkan kapal HMAS Choules, HMAS Perth, dan HMAS Stalwart. Komandan Operasi Gabungan Australia, Vice Admiral Justin Jones, menyebut Indonesia sebagai mitra penting dan langgeng. Keris Woomera pertama digelar pada 2024 dan dirancang sebagai kegiatan bilateral setiap dua tahun sekali guna memperkuat interoperabilitas serta kesiapan menghadapi tantangan keamanan di kawasan Indo-Pasifik.
Rangkaian peristiwa ini memperlihatkan bahwa Tentara Nasional Indonesia sedang bergerak pada tiga arus sekaligus: regenerasi kepemimpinan, penghormatan atas jasa para pendahulu, dan penguatan kerja sama pertahanan di kawasan. Pergantian jabatan di tingkat atas menjadi momentum untuk memastikan estafet komando berjalan mulus, sementara penugasan di BNPPDT menegaskan bahwa peran militer tidak berhenti pada urusan pertahanan, tetapi juga bersinggungan langsung dengan kesejahteraan masyarakat di wilayah perbatasan dan daerah terpencil. Di sisi lain, latihan bersama dengan Australia menjadi cermin bahwa diplomasi pertahanan tetap menjadi pilar penting bagi stabilitas kawasan. Dengan kombinasi tersebut, arah pembangunan kekuatan Tentara Nasional Indonesia ke depan akan ditentukan oleh seberapa solid kepemimpinan baru dalam menerjemahkan mandat pertahanan menjadi manfaat nyata bagi rakyat dan keamanan nasional.
