The Weeknd Tutup Tur di Kuala Lumpur, Raup Rp23,6 Triliun dari 176 Show
Inforiau – 07 November 2026 | The Weeknd Tutup Tur di Kuala Lumpur Raup Rp23 6 Triliun menjadi penanda berakhirnya rangkaian After Hours Til Dawn yang berlangsung di sejumlah kota dunia. Konser di Kuala Lumpur, Malaysia, bukan sekadar pertunjukan penutup; ia mengakhiri 176 show global yang menyerap lebih dari 9 juta tiket dan mencatat pendapatan kotor sekitar US$1,3 miliar atau setara Rp23,6 triliun.
Bagi industri musik live, capaian itu memperlihatkan daya tarik bintang pop yang mampu menggerakkan pasar tiket dalam skala raksasa. The Weeknd, yang dikenal lewat lagu-lagu bernuansa synth-pop dan R&B, membawa konsep panggung megah ke stadion. Penutupan di Kuala Lumpur memberi sinyal bahwa Asia Tenggara semakin diperhitungkan sebagai pasar tur internasional, bukan hanya tujuan promosi singkat.
| Indikator Tur | Capaian |
|---|---|
| Jumlah pertunjukan | 176 show |
| Tiket terjual | Lebih dari 9 juta |
| Pendapatan kotor | US$1,3 miliar atau Rp23,6 triliun |
Angka Rp23,6 triliun tidak muncul dari tiket semata. Dalam ekosistem konser besar, pendapatan biasanya ditopang harga tiket berlapis, penjualan merchandise, sponsor, serta hak siar dan dokumentasi. Efek berganda juga terasa di kota tuan rumah: okupansi hotel, transportasi, kuliner, dan usaha kecil di sekitar venue ikut terdongkrak selama rangkaian acara.
Kendati demikian, tur berskala global tetap menghadapi tantangan. Biaya produksi panggung, logistik antarnegara, dan tim kerja yang besar menuntut perencanaan ketat. Keberhasilan After Hours Til Dawn menunjukkan bahwa promotor dan tim artis mampu menjaga keseimbangan antara tontonan spektakuler dan efisiensi operasional.
Di Kuala Lumpur, antusiasme penggemar menjadi penutup yang emosional. The Weeknd menyudahi tur dengan catatan 176 pertunjukan, lebih dari 9 juta tiket, dan pendapatan kotor US$1,3 miliar. Bagi pasar musik Asia Tenggara, momen ini menjadi bukti bahwa konser kelas dunia dapat menjadi magnet ekonomi sekaligus ajang unjuk daya beli penggemar. Dengan begitu, penutupan tur di Kuala Lumpur bukan hanya akhir perjalanan, melainkan pembuka perhatian baru terhadap potensi industri live music di kawasan.
Editor: Sukri Mustakim
