Transformasi Wirani Rejosari: Kader Posyandu Dumai Kini Jadi Pelaku UMKM Beromset Puluhan Juta
Inforiau – 24 Oktober 2026 | Transformasi Wirani Rejosari dari Ibu Kader Posyandu Jadi Pelaku UMKM menjadi salah satu kisah inspiratif yang mencuri perhatian di Kota Dumai, Riau. Sekelompok ibu-ibu yang selama ini dikenal sebagai kader Posyandu Rejosari di Kelurahan Tanjung Palas, Kecamatan Dumai Timur, kini bertransformasi menjadi kelompok usaha mandiri yang produktif. Perubahan besar ini tidak lepas dari dukungan Program Corporate Social Responsibility (CSR) dan Community Involvement and Development (CID) PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai yang dimulai sejak tahun 2025.
Kelompok yang diberi nama Wirani Rejosari ini beranggotakan sepuluh orang ibu rumah tangga yang sekaligus menjalankan tugas sebagai kader Posyandu. Alih-alih hanya berkutat pada pelayanan kesehatan dasar bagi ibu hamil, balita, dan lansia, mereka kini merambah dunia bisnis dengan menghasilkan aneka produk UMKM yang variatif dan berdaya saing.
Dari Melayani Balita hingga Mengurus Kebun Hidroponik
Ketua Kelompok Wirani Rejosari, Jumi Sulistiyani atau yang akrab disapa Yani, menuturkan bahwa pihaknya tetap menjalankan tugas utama sebagai kader, yakni mengurus sekitar 50 balita serta rutin menggelar pemeriksaan kesehatan gratis bagi para lansia setiap bulan. Namun di sela-sela kesibukan itu, mereka kini juga mengelola kebun sayur hidroponik dan memproduksi aneka camilan berbahan dasar sorgum.
“Dengan menciptakan aneka jajanan enak, lestari, inovatif dan tinggi asupan gizi, Kelompok Wirani Rejosari hadir untuk mendukung pemberdayaan dan peningkatan perempuan di Kota Dumai. Salah satu inovasi yang kita lakukan adalah mengolah sorgum menjadi aneka camilan lezat dan bergizi,” ujar Yani.
Beragam Produk UMKM yang Dihasilkan
Produk yang dihasilkan Kelompok Wirani Rejosari cukup beragam, mulai dari sayuran hidroponik, jus segar, nugget dan bakso patin, hingga aneka camilan berbahan dasar sorgum. Untuk sayuran hidroponik, mereka membudidayakan dua jenis tanaman, yakni selada dan pakcoy, yang dijual seharga Rp 10.000 per bungkus.
Dalam sebulan, kelompok ini mampu melakukan satu kali panen dengan penghasilan sekitar Rp 1.200.000, atau setara Rp 14.400.000 per tahun. Sementara untuk produk camilan, dalam satu tahun terakhir sudah terjual sekitar 1.000 produk dengan total omzet mencapai Rp 40 juta.
| Jenis Produk | Keterangan |
|---|---|
| Sayuran hidroponik | Selada dan pakcoy, Rp 10.000 per bungkus |
| Pendapatan sayuran | Rp 1.200.000 per bulan |
| Camilan sorgum | Cookies, brownies, keripik |
| Omzet camilan | Sekitar Rp 40 juta per tahun |
Dukungan Penuh Pertamina Patra Niaga
Sejak menjadi mitra binaan pada 2025, Kelompok Wirani Rejosari menerima banyak bantuan, mulai dari peralatan dan bibit tanaman hidroponik, panel surya untuk bangunan Posyandu, hingga peralatan dan dapur produksi camilan sorgum. Yani berharap tahun depan perusahaan dapat memberikan pelatihan serta bantuan bibit melon premium untuk dibudidayakan.
Area Manager Communication, Relations and CSR PT Patra Niaga Refinery Unit Dumai, Tengku Muhammad Rum, menyatakan dukungan tersebut merupakan wujud komitmen perusahaan dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat. “Kami melihat ibu-ibu Kelompok Wirani Rejosari ini sangat potensial, terutama dalam menghasilkan produk UMKM yang berdaya saing,” ujarnya.
Anggota kelompok, Retno, mengaku kondisi ekonomi keluarganya sangat terbantu dengan adanya kegiatan ini. Menurutnya, jika hanya mengandalkan honor kader Posyandu sebesar Rp 250.000 per bulan tentu tidak cukup, sehingga terjun menjadi pelaku UMKM menambah pundi-pundi pemasukan keluarga.
Lurah Tanjung Palas, Herfina Herman, turut mengapresiasi program CSR dan CID tersebut. Ia menilai Transformasi Wirani Rejosari dari Ibu Kader Posyandu Jadi Pelaku UMKM bisa menjadi percontohan bagi warga Kota Dumai lainnya. Pemerintah setempat hanya dapat memberikan dukungan moril agar para ibu terus semangat belajar dan berkarya.
Kisah Transformasi Wirani Rejosari dari Ibu Kader Posyandu Jadi Pelaku UMKM membuktikan bahwa pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas mampu mengubah peran perempuan menjadi lebih mandiri. Dengan inovasi produk, pendampingan berkelanjutan, dan semangat kolaborasi, para kader Posyandu kini tidak hanya menjaga kesehatan warga, tetapi juga menggerakkan roda perekonomian keluarga dan masyarakat sekitar.
