Raffi Ahmad Kenapa? Polemik Deklarasi Sumpah Pemuda yang Menyeret Utusan Khusus Presiden
Inforiau – 02 November 2026 | Pertanyaan “Raffi Ahmad kenapa” mendadak membanjiri media sosial setelah suami Nagita Slavina itu menghadiri acara Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, pada Kamis, 29 Oktober 2026. Kehadirannya sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni memicu gelombang kritik, terutama karena acara tersebut digelar hanya sehari setelah demonstrasi mahasiswa yang membawa lima tuntutan rakyat. Publik pun ramai-ramai bertanya, Raffi Ahmad kenapa bisa terseret dalam pusaran polemik yang sebenarnya berakar pada dugaan adanya peserta mahasiswa gadungan.
Diketahui, pada 28 Oktober 2026 bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, mahasiswa dari BEM UI dan Komite Sadar menggelar aksi di Bundaran HI. Mereka menyuarakan lima tuntutan, mulai dari persoalan bencana dan tata kelola lingkungan, efisiensi anggaran negara, pendidikan dan lapangan pekerjaan, pemberantasan korupsi, hingga kebebasan sipil dan HAM. Sehari kemudian, Polda Metro Jaya menggelar deklarasi di lokasi yang sama dengan menghadirkan sejumlah figur publik, termasuk Raffi Ahmad dan Willie Salim. Belakangan, acara itu menuai polemik setelah terungkap sejumlah peserta yang mengenakan almamater kampus ternyata bukan mahasiswa aktif, bahkan ada yang mengaku menerima bayaran.
Kritik pedas pun bermunculan. Kreator konten Andovi da Lopez menjadi salah satu tokoh pertama yang menyampaikan teguran terbuka melalui video pada Jumat, 30 Oktober 2026. Ia menegaskan kritiknya ditujukan kepada Raffi dalam kapasitasnya sebagai pejabat negara. Menurut Andovi, kehadiran Raffi berpotensi melegitimasi gerakan mahasiswa yang sebenarnya murni, sehingga bagi yang tidak paham konteks akan menganggap semua mahasiswa sebagai peserta bayaran. “Itu jahat. Itu licik, dan pergerakan mahasiswa di depan, masa depan akan makin sulit karena narasi di masyarakat kalau mereka semua mahasewa,” ujarnya.
Sementara itu, rapper Young Lex memilih mengirim pesan langsung via WhatsApp dan mengunggah tangkapan layarnya ke Threads pada Sabtu, 31 Oktober 2026. Ia menyayangkan tindakan Raffi yang selama ini dikenal sebagai sosok pekerja keras dan rendah hati. Young Lex juga mengingatkan besarnya tanggung jawab moral dari 74 juta pengikut yang dimiliki Raffi di media sosial. Di tengah derasnya sorotan, pertanyaan “Raffi Ahmad kenapa” terus bergulir, terutama karena ia dianggap memiliki pengaruh besar yang bisa membingungkan opini publik.
Wakil Ketua Umum Partai Garuda, Teddy Gusnaidi, justru mempertanyakan arah kritik yang dialamatkan kepada Raffi. Melalui akun X, ia menilai sorotan tersebut tidak tepat sasaran karena Raffi hanya tamu undangan. Menurutnya, pihak yang seharusnya menjadi perhatian adalah penyelenggara acara. “Kenapa mereka menyerang Raffi Ahmad yang hanya undangan? bukan menyerang penyelenggara? Walaupun penyelenggara tidak ada salahnya juga,” tulis Teddy pada Senin, 2 November 2026. Ia menduga ada kepentingan untuk mendapatkan perhatian publik di balik kritik tersebut. “Kalau serang Raffi Ahmad, ada nilai jualnya, yang sudah gak terkenal jadi terkenal lagi. Logikanya kan begitu,” pungkasnya.
Di sisi lain, Polda Metro Jaya melalui Kabid Humas Kombes Budi Hermanto telah menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat. Pihak kepolisian mengakui kegiatan tersebut menimbulkan beragam tanggapan dan menjadikannya bahan evaluasi. Dugaan penggunaan mahasiswa gadungan juga dinyatakan sedang diselidiki. Raffi Ahmad sendiri akhirnya menyampaikan klarifikasi dan permintaan maaf. Ia mengaku hanya hadir sebagai undangan, tidak terlibat dalam perencanaan maupun penyusunan acara, serta tidak mengetahui secara terperinci pihak-pihak yang hadir. Ia juga menyatakan menghargai setiap aspirasi, kritik, dan pandangan masyarakat.
Polemik ini menunjukkan bahwa pertanyaan “Raffi Ahmad kenapa” bukan sekadar soal sosok selebritas yang masuk ke ranah politik, melainkan cerminan kegelisahan publik terhadap proses demokrasi. Kehadiran figur publik dalam acara yang diduga melibatkan peserta bayaran telah mencoreng esensi perjuangan mahasiswa. Meski Raffi telah meminta maaf dan kepolisian berjanji mengevaluasi, sorotan terhadapnya tetap menjadi pengingat bahwa pejabat negara yang memiliki pengaruh besar harus lebih berhati-hati dalam setiap undangan yang diterima. Publik berharap penyelidikan atas dugaan mahasiswa gadungan dapat diusut tuntas agar narasi perjuangan mahasiswa tidak lagi tercemar.
