Iran targetkan Pejabat AS: Ancaman Serangan Balasan Mengguncang Timur Tengah, Data Center AI hingga Kabel Internet Bawah Laut Jadi Sasaran
Inforiau – 24 Oktober 2026 | Ketegangan antara Teheran dan Washington kembali memanas. Dalam pernyataan terbaru yang disampaikan seorang pejabat senior keamanan Iran, Teheran menegaskan bahwa pihaknya akan menganggap aset politik Amerika Serikat (AS) serta infrastruktur negara-negara yang terlibat dalam perang baru melawan Iran sebagai “sasaran yang sah”. Peringatan yang membuat Iran targetkan pejabat AS dan warga sipilnya sebagai pemicu balasan ini disampaikan melalui kantor berita semi-resmi Fars, di tengah meningkatnya tensi kedua negara yang telah berbulan-bulan memanas.
Pejabat yang tidak disebutkan namanya itu menjelaskan bahwa Iran berasumsi AS dan Israel akan melancarkan serangan baru. Teheran pun menilai isyarat diplomatik dari Washington tidak dapat diandalkan. Pandangan tersebut kian menguat setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyampaikan pernyataan di Athena yang ditafsirkan Iran sebagai pembenaran historis dan peradaban atas perang Washington terhadap Teheran. Menurut pejabat itu, para pemimpin politik dan intelektual Iran semakin menyimpulkan bahwa kebijakan AS di Timur Tengah diarahkan oleh Israel, sehingga dinilai menghambat Washington menempuh jalur penyelesaian diplomatik.
Dalam pernyataannya, pejabat tersebut juga mengklaim bahwa Israel merupakan prioritas dalam kebijakan Presiden AS Donald Trump di kawasan. Iran saat ini menganggap dirinya telah berperang dengan AS, terutama setelah blokade ekonomi dan laut Washington serta pembatasan wilayah udara Iran yang dipandang sebagai kelanjutan agresi militer yang dimulai pada 28 Februari. Tekanan dari berbagai kelompok masyarakat Iran mendorong pemerintah mengambil tindakan tegas untuk mematahkan blokade berdasarkan apa yang disebut Teheran sebagai hak membela diri.
Yang paling mencuri perhatian, Iran telah menginstruksikan berbagai unit operasionalnya bahwa jika terjadi konflik berskala besar yang melibatkan pembunuhan pejabat Iran dan warga sipil, maka aset politik AS serta infrastruktur negara yang ikut berperang akan dianggap sebagai “sasaran yang sah”. Konsekuensinya, Iran targetkan pejabat AS tidak hanya dari sisi militer, tetapi juga menyasar infrastruktur strategis seperti data center AI hingga kabel internet bawah laut yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi digital dan pertahanan AS.
Peringatan tersebut muncul ketika ketegangan Teheran-Washington meningkat akibat blokade laut AS dan pembatasan lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz. AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari yang kemudian memicu konflik regional lebih luas. Upaya diplomatik berikutnya belum menyelesaikan perselisihan mengenai blokade dan pengaturan keamanan di jalur strategis tersebut. Situasi kian rumit setelah media Israel melaporkan puluhan jet tempur Israel terbang mendekati perbatasan Iran awal pekan ini. Sejumlah sumber AS menduga manuver tersebut mungkin dimaksudkan untuk memancing respons Iran.
Persiapan Serangan Baru dan Pencabutan Pasukan AS
Di sisi lain, AS dan Israel dilaporkan tengah mematangkan rencana serangan baru terhadap Iran setelah pemilihan umum paruh waktu AS pada November mendatang. Menurut laporan The New York Times, operasi militer itu berpotensi berlangsung singkat tetapi intensif, dengan sasaran sejumlah fasilitas strategis Iran, termasuk fasilitas nuklir, persenjataan rudal dan pesawat nirawak, serta infrastruktur energi. Militer kedua negara telah meningkatkan latihan, termasuk penerbangan di atas wilayah Irak untuk melatih manuver serangan. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth diketahui bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Israel pekan ini untuk membahas kemungkinan serangan lanjutan, salah satunya menyasar Pickaxe Mountain, fasilitas bawah tanah yang dikaitkan dengan program nuklir Iran.
Meski persiapan militer dilaporkan meningkat, belum ada kepastian apakah Presiden Trump akan menyetujui operasi tersebut. Trump sebelumnya berulang kali menyatakan keengganan untuk kembali melibatkan AS dalam pertempuran besar tahun ini. Awal Oktober, ia menyatakan AS tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu paruh waktu karena kedua pihak sedang menjalani diskusi yang produktif. Seorang pejabat Gedung Putih menegaskan Trump tetap membuka semua opsi untuk memastikan Iran tidak memperoleh senjata nuklir.
Menariknya, di tengah ancaman yang menguat, AS justru mulai mengurangi kehadiran personel militernya di sejumlah pangkalan di Timur Tengah, salah satu syarat gencatan senjata yang sebelumnya diajukan Iran. Departemen Luar Negeri AS juga memerintahkan pegawai pemerintah nonesensial dan anggota keluarga mereka meninggalkan Arab Saudi menyusul meningkatnya ancaman serangan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap sasaran sipil dan infrastruktur penting. Serangan di Bandara Internasional King Fahd di Dammam menewaskan satu orang dan melukai delapan lainnya, sementara dua orang tewas setelah pertahanan udara mencegat drone yang berupaya menyerang fasilitas di ladang minyak Shaybah milik Saudi Aramco.
Selat Hormuz dan Risiko Pasokan Energi Global
Di jalur pelayaran strategis, serangan Iran terhadap kapal-kapal di Teluk Persia semakin sering dan menimbulkan kerusakan yang lebih parah. Setidaknya 23 insiden serangan terhadap kapal di dalam atau sekitar Selat Hormuz tercatat dalam dua pekan pertama Oktober, dengan sedikitnya lima kapal mengalami kerusakan pada ruang mesin. Serangan langsung ke ruang mesin dapat memicu kebakaran serta membuat kapal kehilangan daya listrik atau tenaga penggerak, sehingga kapal bisa tidak beroperasi selama berbulan-bulan dan membutuhkan biaya perbaikan besar.
Pola serangan ini mengingatkan pada Perang Tanker pada 1980-an, ketika Irak dan Iran menargetkan ruang mesin kapal tanker minyak untuk melumpuhkan kapal. Sejumlah pejabat pelayaran dan keamanan maritim menyebut Iran belakangan lebih banyak menggunakan rudal alih-alih drone untuk menyerang kapal. Rudal berpemandu inframerah cenderung mengarah ke bagian kapal yang lebih panas dan sering membawa muatan bahan peledak lebih besar. Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan pengiriman melalui Selat Hormuz berada di sekitar 80 persen dari level normal, sementara Irak mengklaim ekspornya mendekati level sebelum perang.
Namun, serangan terhadap ruang mesin tidak akan banyak mendorong pemilik kapal untuk kembali melintasi Selat Hormuz. Kapal yang diserang membutuhkan waktu lama untuk kembali beroperasi karena harus menjalani perbaikan, sehingga semakin membatasi jumlah kapal tanker yang tersedia dan mendorong kenaikan biaya pengangkutan energi. Pada beberapa hari bulan ini, biaya menyewa kapal tanker superbesar bahkan lebih mahal daripada biaya mengirim roket ke luar angkasa.
Dengan dinamika yang terus berkembang, pernyataan bahwa Iran targetkan pejabat AS menjadi sinyal jelas bahwa Teheran tidak akan tinggal diam menghadapi tekanan militer dan ekonomi. Eskalasi ini menempatkan kawasan pada titik rawan, di mana setiap kesalahan perhitungan dapat memicu konflik yang lebih luas dan berdampak pada stabilitas energi serta keamanan global. Dunia kini menanti apakah jalur diplomasi masih mampu meredam ketegangan sebelum ancaman Iran targetkan pejabat AS benar-benar diwujudkan dalam aksi militer nyata.
