Di Balik Setiap Notifikasi: Getir Perjuangan Ojek Online yang Kini Harus 'Emot-Emotan' Demi Rp200 Ribu Sehari
Inforiau – 24 Oktober 2026 | Di sudut trotoar yang berdebu, di bawah terik matahari yang membakar kulit, sekumpulan pengemudi ojek online duduk bersandar di bangku kayu sebuah warung kopi sederhana. Gelas-gelas kopi hitam mengepul di hadapan mereka, namun pahitnya minuman itu seakan tak sebanding dengan pahitnya kehidupan yang harus mereka telan setiap hari. Di balik jaket hijau yang mereka kenakan, tersimpan keluh kesah tentang ekonomi yang kian sulit dan harapan yang kian menipis.
Fiky, pria berusia 39 tahun berambut gondrong dengan kacamata kotak, menghembuskan napas panjang saat menceritakan kondisi penghasilannya sebagai pengemudi ojek online. Ia mengaku pendapatannya kini merosot tajam dibandingkan beberapa tahun lalu. “Beda jauh. Dulu 2017, sehari aja bisa dapat Rp700 ribu. Sekarang nyari Rp200 ribu aja emot-empotan, ditambah lagi COVID, hancur-hancuran,” ujarnya getir.
Di sampingnya, Eko, lelaki paruh baya berusia 58 tahun dengan guratan lelah di wajah, adalah potret lain dari kerasnya kehidupan. Dulu, tangannya memegang proyek-proyek pembangunan jalan di Sekadau, Kalimantan Barat. Kini, ia harus beralih menjadi pengemudi ojek demi menyambung hidup. Bersama Abay, ketiga pria ini menjadi saksi bisu bagaimana sepi pesanan, sulitnya mencari pekerjaan, hingga kenaikan biaya bensin dan perbaikan motor perlahan menggerus penghasilan mereka.
Tekanan ekonomi yang mereka rasakan bukan sekadar angka di layar gawai. Kenaikan harga bahan bakar, biaya perawatan kendaraan, dan kebutuhan harian memaksa para pengemudi menyaring pesanan berdasarkan jarak. Mereka cenderung memilih order dekat agar konsumsi bensin lebih hemat, meski artinya peluang mendapatkan penumpang semakin kecil. Di sisi lain, penyaluran bantuan sosial dinilai belum merata, sehingga banyak pengemudi yang merasa belum tersentuh program pemerintah.
Namun, di tengah kerasnya perjuangan itu, masih ada secercah kepedulian. Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN Unit Induk Distribusi Kalimantan Barat menghadirkan program Ojol Care, berupa layanan servis kendaraan gratis bagi 500 pengemudi ojek online. Kegiatan yang berlangsung pada 20-21 Oktober 2026 di halaman Kantor PLN UID Kalimantan Barat ini menjadi bagian dari rangkaian Milad ke-20 YBM PLN, sekaligus wujud kepedulian insan PLN kepada masyarakat.
Bagi para pengemudi, sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Dari kendaraan itulah roda kehidupan keluarga ikut bergerak, mengantar penumpang, mengirim pesanan, hingga menjadi tumpuan mencari nafkah setiap hari. Karena itu, program servis gratis ini disambut hangat. Jumlah penerima manfaat pun meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya yang melayani sekitar 250 sepeda motor.
General Manager PLN UID Kalimantan Barat, Maria G.I. Gunawan, mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, kepedulian sosial menjadi salah satu bentuk nyata kehadiran PLN di tengah masyarakat. “Bagi pengemudi ojol, kendaraan adalah bagian penting dari perjuangan mereka mencari nafkah. Karena itu, kami berharap kegiatan ini dapat membantu menjaga kendaraan tetap prima sekaligus menumbuhkan kesadaran untuk selalu mengutamakan keselamatan dalam berkendara,” ujarnya.
Ketua YBM PLN UID Kalimantan Barat, Mukhlis Zarkasih, menambahkan bahwa Ojol Care merupakan ikhtiar menghadirkan manfaat dari zakat, infak, dan sedekah pegawai muslim PLN kepada mereka yang membutuhkan. Tak hanya servis gratis, kegiatan ini juga diisi sosialisasi tertib berlalu lintas dan keselamatan berkendara oleh Satlantas Polres Kubu Raya.
Sayangnya, perjalanan para pengemudi ojek tak selalu mulus. Berbagai insiden masih mewarnai profesi ini, mulai dari kecelakaan lalu lintas hingga aksi kriminal. Baru-baru ini, seorang pengemudi ojek online di Jalan Panglima Polim, Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, menjadi korban tabrak dan lindas mobil taksi online listrik. Korban menderita patah tulang tangan dan kaki, sementara pengemudi mobil dinyatakan negatif narkoba dan alkohol.
Di Papua Tengah, seorang pelaku pembegalan brutal terhadap pengemudi ojek di Kampung Wandegobak, Distrik Pagaleme, pada 2025 lalu, turut menyita perhatian. Pelaku yang menggunakan parang untuk menyerang korbannya kini menghadapi proses hukum setelah dibekuk Satgas Damai Cartenz-2026. Aparat menegaskan akan terus mendalami kasus ini secara profesional dan proporsional.
Di pelosok negeri, para tukang ojek juga menjadi bagian dari masyarakat yang diperhatikan. Babinsa Desa Raimataus, Kopda Anselmus Manek, menyambangi warga binaannya yang berprofesi sebagai tukang ojek di Dusun Laleten, Kabupaten Malaka. Ia mengingatkan agar para pengendara ojek selalu menjaga kondisi kesehatan tubuh di tengah cuaca ekstrem yang sedang terjadi.
Potret-potret di atas menunjukkan bahwa profesi ojek, baik konvensional maupun online, masih menjadi tulang punggung ekonomi bagi banyak keluarga Indonesia. Di balik setiap notifikasi pesanan yang masuk, ada perjuangan, doa, dan harapan yang menyala. Para pengemudi berharap pemerintah mengevaluasi kebijakan ekonomi dan membuka lapangan pekerjaan yang lebih luas, agar mereka tak lagi harus berjuang sendirian di jalanan yang keras.
Perjalanan panjang para pengemudi ojek ini adalah cermin nyata dari sulitnya ekonomi saat ini. Mereka bukan sekadar penumpang zaman, melainkan pahlawan kecil yang setiap hari mengayuh roda kehidupan. Sudah saatnya kepedulian dari berbagai pihak terus tumbuh, agar perjuangan mereka tak sia-sia dan kesejahteraan yang selama ini diimpikan dapat segera terwujud.
