The Jakmania Dipecat? Sanksi Berat dan Panggilan Introspeksi Usai Kericuhan di Banten
Inforiau – 25 Oktober 2026 | Isu The Jakmania dipecat kembali mencuat ke permukaan setelah Komisi Disiplin (Komdis) PSSI menjatuhkan sanksi berat kepada suporter Persija Jakarta menyusul kericuhan dengan pendukung Persita Tangerang di Banten International Stadium pada Sabtu (17/10/2026). Meski istilah The Jakmania dipecat bukan merujuk pada pemecatan resmi organisasi, frasa ini berkembang di ruang publik sebagai gambaran kerasnya hukuman yang diterima kelompok suporter Macan Kemayoran tersebut. Sanksi berupa denda total Rp90 juta dan larangan mendampingi tim pada laga tandang selama setengah musim atau enam pertandingan menjadi pukulan telak bagi The Jakmania.
Keputusan Komdis PSSI itu memicu beragam reaksi, mulai dari pelatih kepala Persija Jakarta, Shin Tae-yong, hingga mantan Ketua Umum The Jakmania, Tauhid Indrasjarief atau yang akrab disapa Bung Ferry. Shin Tae-yong secara terbuka meminta suporter melakukan introspeksi dan bersikap lebih dewasa. Menurutnya, perilaku negatif di tribun tidak hanya merugikan klub dan tim, tetapi juga suporter itu sendiri.
“Saya berharap para suporter tidak lagi melakukan tindakan seperti itu. Perilaku tersebut bisa merugikan klub, tim, dan juga suporter sendiri,” kata Shin Tae-yong dalam konferensi pers pascalaga Persija Jakarta vs Arema FC di Stadion Patriot Chandrabaga, Bekasi, Rabu (21/10/2026) malam WIB.
Pelatih asal Korea Selatan itu justru mengapresiasi atmosfer positif saat Persija menghajar Arema FC dengan skor 5-1. Dalam laga tersebut, The Jakmania dan suporter Arema FC, Aremania, terlihat harmonis di tribun penonton. “Sebagai pelatih, saya sangat bahagia dan bersyukur. Kita harus saling menghormati. Suporter kami harus menghormati suporter tim tamu, begitu juga ketika kami bertandang ke markas lawan,” lanjutnya.
Sementara itu, Bung Ferry menyarankan The Jakmania tidak mengajukan banding atas putusan Komdis PSSI. Ia menilai hukuman tersebut sudah berbasis regulasi dan sebaiknya dijadikan momentum refleksi diri. Menurutnya, istilah The Jakmania dipecat yang beredar di media sosial seharusnya menjadi cambuk untuk memperbaiki citra suporter.
“Saran saya jangan banding. Saran saya jangan banding, ini menjadi pembelajaran saja. Lebih baik introspeksi diri, faktanya memang kami sedang menjadi sorotan,” kata Bung Ferry di Stadion Patriot Chandrabhaga, Bekasi, Rabu (21/10/2026).
Ia juga mengingatkan agar suporter tidak memaksakan diri melakukan perjalanan tandang di tengah situasi yang masih memanas. Kekhawatiran Bung Ferry beralasan karena tindakan nekat bisa kembali memicu polemik di media sosial dan memperkeruh suasana. Isu The Jakmania dipecat pun dinilai sebagai peringatan agar suporter lebih tertib.
Di sisi lain, kasus ini tidak berdiri sendiri. Dunia sepak bola Indonesia tengah menghadapi tantangan disiplin suporter. Pada pekan yang sama, kepolisian menangkap lima tersangka pelemparan bus The Jakmania di Tol Cirebon. Aksi tersebut menyebabkan kaca bus pecah dan dua penumpang terluka. Peristiwa ini menambah daftar panjang insiden yang melibatkan suporter, sekaligus memperkuat wacana The Jakmania dipecat dari berbagai forum daring.
PSSI dan operator liga diharapkan konsisten menegakkan aturan. Sanksi larangan tandang selama enam pertandingan sebenarnya memberi ruang bagi The Jakmania untuk menata diri. Namun, tanpa kesadaran kolektif, hukuman serupa berpotensi terulang. Klub juga diminta aktif membina suporter agar tidak lagi menjadi korban provokasi.
Pengamat sepak bola menilai istilah The Jakmania dipecat lebih tepat dimaknai sebagai evaluasi total. Bukan pemecatan fisik, melainkan pemecatan perilaku buruk yang selama ini menciderai citra Persija. Dengan begitu, suporter bisa kembali mendukung tim secara positif tanpa merugikan pihak lain.
Ke depan, The Jakmania perlu memperkuat koordinasi internal, meningkatkan literasi regulasi, dan menjauhi tindakan anarkis. Dukungan di stadion tetap penting, tetapi harus disertai sportivitas. Jika tidak, frasa The Jakmania dipecat bisa menjadi label yang melekat dan sulit dihapus.
Sebagai penutup, sanksi Komdis PSSI dan seruan introspeksi dari Shin Tae-yong serta Bung Ferry adalah momentum berharga. The Jakmania dituntut dewasa, bukan sekadar hadir di tribun. Sepak bola Indonesia membutuhkan suporter yang bersemangat, tetapi tetap menjunjung tinggi rasa hormat. (Editor: Sukri Mustakim)
