Erik ten Hag Ledakkan 'Budaya Beracun' MU, Michael Carrick Buka Suara dan Bantah Keras
Inforiau – 21 Oktober 2026 | Kritik pedas kembali datang dari erik ten hag terhadap Manchester United. Mantan pelatih asal Belanda itu menuding pemilik bersama klub, Sir Jim Ratcliffe dan INEOS, turut melanggengkan budaya beracun atau ‘toxic culture’ di Old Trafford. Pernyataan tersebut ia lontarkan dalam wawancara eksklusif dengan The Athletic, yang langsung memantik reaksi dari berbagai pihak, termasuk pelatih kepala saat ini, Michael Carrick.
Dalam wawancaranya, erik ten hag mengungkap sejumlah persoalan yang ia hadapi selama menangani Setan Merah, mulai dari proses pergantian kepemilikan klub yang menimbulkan ketidakpastian di kalangan staf, hingga janji-janji manajemen yang menurutnya tak ditepati. Ia bahkan menyebut pengelolaan tim membutuhkan kerja sama erat antara pelatih dan manajemen, sesuatu yang menurutnya tidak pernah terwujud dengan jelas selama ia menjabat.
Ten Hag dipecat pada Oktober 2024 setelah MU mengawali musim 2024/2025 dengan hasil buruk dan terpuruk di peringkat ke-14 klasemen Premier League. Ironisnya, pemecatan itu terjadi hanya beberapa bulan setelah ia mendapat kontrak baru. Kini, ia menjabat sebagai direktur teknis di FC Twente, namun kritiknya terhadap mantan klubnya masih tajam dan menyita perhatian publik sepak bola Inggris.
Carrick, yang kini menakhodai Manchester United, menanggapi dengan tenang. Ia menegaskan bahwa pengalaman pahit erik ten hag tidak menjadi alarm bagi dirinya. Menurutnya, pernyataan tersebut murni pandangan pribadi sang pendahulu dan ia memilih tidak ikut campur karena situasinya berbeda.
“Itu pendapat Erik. Saya tidak tahu detailnya dan bukan tempat saya untuk berkomentar karena itu tidak ada hubungannya dengan saya saat itu,” ujar Carrick, seperti dikutip dalam konferensi pers jelang laga melawan Como di Liga Champions.
Carrick justru menegaskan bahwa dirinya mendapat dukungan penuh dari jajaran atas klub, termasuk CEO Omar Berrada, direktur sepak bola Jason Wilcox, dan para pemilik. Ia menyebut hubungannya dengan semua pihak di klub berjalan sangat baik dan tidak ada masalah sama sekali.
“Kenapa saya tidak merasa didukung? Saya ada di posisi ini. Saya punya hubungan yang sangat baik dengan semua orang di klub ini,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa komunikasi dengan Wilcox, Berrada, dan pemilik berjalan jelas, dan seluruh elemen klub harus menarik ke arah yang sama.
Meski demikian, tekanan terhadap Carrick nyata. MU datang ke Italia tanpa kemenangan dalam enam pertandingan terakhir dan kehilangan sembilan pemain senior. Klub juga mencatat awal musim terburuk dalam 40 tahun terakhir, memicu spekulasi soal keamanan posisinya. Situasinya mirip dengan yang dialami erik ten hag menjelang akhir masa jabatannya.
Dalam wawancara yang sama, erik ten hag juga membuka daftar empat pemain yang gagal ia boyong ke Manchester United, yakni Harry Kane, Declan Rice, Frenkie de Jong, dan Brian Brobbey. Ia mengaku sempat meminta manajemen merekrut Kane pada musim panas 2023 saat striker Timnas Inggris itu tinggal menyisakan satu tahun kontrak di Tottenham Hotspur.
“Saya mengatakan kepada jajaran direksi Manchester United, ‘Saya hanya menginginkan satu pemain, dan kalian tahu siapa orangnya’,” kenangnya. Kegagalan mendatangkan pemain incaran itu menjadi salah satu sumber kekecewaannya terhadap manajemen klub.
Kritik erik ten hag menambah panjang daftar dinamika di balik layar Manchester United. Di satu sisi, ia menggambarkan klub yang penuh ketidakpastian dan janji yang tak ditepati. Di sisi lain, Carrick melukiskan lingkungan kerja yang kompos, stabil, dan solid. Perbedaan narasi ini mencerminkan besarnya tantangan yang dihadapi Setan Merah dalam membangun kembali fondasi klub yang sempat goyah.
Bagi Carrick, satu-satunya jawaban atas segala polemik adalah hasil di lapangan. Ia sadar bahwa dukungan manajemen tidak akan berarti apa-apa jika tim terus gagal meraih kemenangan. Laga melawan Como menjadi ujian berikutnya untuk membuktikan bahwa Manchester United masih berada di jalur yang benar, terlepas dari bayang-bayang kritik yang dilontarkan erik ten hag.
Yang jelas, pernyataan mantan pelatih itu telah membuka kembali luka lama di Old Trafford. Publik kini menanti apakah Carrick mampu membalikkan keadaan dan membuktikan bahwa budaya beracun yang dituduhkan erik ten hag hanyalah masa lalu, bukan kenyataan yang masih menghantui klub berjuluk Setan Merah tersebut.
