Gempa Politik Serbia: Gerakan Mahasiswa Gulingkan Vučić Setelah 14 Tahun Berkuasa
Inforiau – 26 Oktober 2026 | Serbia mencatat babak baru dalam sejarah politiknya setelah gerakan mahasiswa yang menamakan diri “Daftar Mahasiswa” berhasil memenangkan pemilihan parlemen, mengakhiri 14 tahun kekuasaan Aleksandar Vučić. Kemenangan ini diumumkan setelah hampir 99% suara dihitung, dengan partai mahasiswa meraih 52,7% suara dan 139 kursi di parlemen 250 anggota, sementara aliansi Partai Progresif Serbia (SNS) pimpinan Vučić hanya memperoleh 39,2% suara dan 97 kursi. Partai minoritas mengisi sisa kursi. Tingkat partisipasi pemilih mencapai hampir 70%, tertinggi sejak bubarnya Yugoslavia pada 1992, menandakan gelombang perubahan yang kuat di Serbia.
Vučić, yang telah lama menjadi figur dominan di Serbia, mengakui kekalahannya dalam pidato di markas SNS. “Jelas bahwa kami telah kalah dan Daftar Mahasiswa telah menang,” ujarnya. Meski demikian, ia menuduh media independen dan campur tangan asing sebagai penyebab kekalahan. Ia juga menyebut partainya meraih sekitar 1,7 juta suara, sedangkan Daftar Mahasiswa sekitar 2,2 juta suara. Kekalahan ini menandai berakhirnya era kekuasaan Vučić yang dimulai sejak 2012.
Gerakan mahasiswa ini lahir dari tragedi runtuhnya kanopi beton di stasiun kereta api Novi Sad pada 1 November 2024, yang menewaskan 16 orang. Insiden tersebut memicu kemarahan publik terhadap dugaan korupsi, kronisme, dan kelalaian dalam proyek renovasi infrastruktur. Awalnya berupa aksi protes dan pendudukan kampus, gerakan ini berkembang menjadi gelombang demonstrasi damai hampir dua tahun yang menuntut akuntabilitas dan pemberantasan korupsi. Dukungan meluas dari berbagai lapisan masyarakat Serbia yang frustrasi dengan kondisi institusi publik.
Daftar Mahasiswa tidak dipimpin oleh politisi tradisional, melainkan oleh tokoh-tokoh sipil dari berbagai profesi, termasuk dokter, profesor universitas, aktor, petani, dan atlet. Kandidat utama mereka, Ilija Srdanović, seorang ahli jantung, menegaskan bahwa gerakan ini bersifat horizontal tanpa hierarki. “Malam ini Serbia menang. Mulai hari ini, negara ini akan menjadi beradab, bebas, dan lebih baik,” ujarnya. Srdanović juga menyatakan tujuan utama pemerintah baru adalah membebaskan negara dari tirani dan memberantas korupsi institusional. Mantan pebasket legendaris Dejan Bodiroga, yang kini menjabat presiden EuroLeague, turut merayakan kemenangan dengan menyatakan bahwa generasi muda telah memenangkan kebebasan untuk negara.
Perayaan besar-besaran melanda Belgrade, Novi Sad, dan Niš. Ribuan orang turun ke jalan, meneriakkan “Vučić pergi!” dan merobohkan kamp tenda pendukung Vučić yang telah berdiri selama 18 bulan di depan parlemen. Warga Belgrade, Dragana Kovacevic, mengungkapkan kegembiraannya, “Kami semua terlalu bahagia, akhirnya kami menjadi negara yang normal dan bebas.” Sementara Maja Stetic merasa “fantastis” dan menyebut penggulingan Vučić sebagai pembebasan serta masa depan baru bagi anak-anak.
Uni Eropa menyambut baik hasil pemilihan ini. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengucapkan selamat kepada Daftar Mahasiswa dan menyatakan kesiapan mendukung reformasi negara hukum, kebebasan media, pemberantasan korupsi, dan penguatan institusi demokrasi. Presiden Parlemen Eropa Roberta Metsola juga memuji partisipasi pemilih yang tinggi dan menegaskan komitmen untuk mendukung proses reformasi Serbia menuju Eropa. Sementara itu, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyatakan bahwa Rusia mencatat hasil pemilihan dan menghargai kontribusi Vučić dalam hubungan bilateral, berharap ia tetap berkontribusi dari oposisi.
Meskipun kemenangan ini bersejarah, masih terdapat ketidakpastian mengenai siapa yang akan memimpin pemerintahan baru dan bagaimana gerakan yang beragam ini akan menerjemahkan tuntutan protes menjadi kebijakan. Tantangan utama ke depan adalah menstabilkan ekonomi dan menjaga keseimbangan geopolitik Serbia di antara Brussels, Moskow, dan Beijing. Namun, semangat perubahan yang menyala di Serbia memberikan harapan baru bagi masa depan demokrasi di kawasan Balkan.
