Riyadh dalam Cengkeraman: Houthi Gempur Bandara, Rudal Dicegat, Penerbangan Dialihkan 434 Km
Inforiau – 26 Oktober 2026 | Ibu kota Arab Saudi, Riyadh, kembali menjadi sasaran rentetan serangan mematikan dari kelompok Houthi yang didukung Iran. Situasi mencekam terjadi setelah serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh menewaskan sedikitnya 13 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya, menjadikannya insiden paling fatal dalam satu dekade terakhir. Otoritas keamanan Saudi pun mengirimkan pesan singkat kepada warga untuk memperingatkan adanya “ancaman udara yang bermusuhan” yang menargetkan kota tersebut.
Juru bicara koalisi militer pimpinan Saudi, Mayor Jenderal Turki Al-Maliki, dalam pernyataannya pada Senin (26/10/2026), menegaskan bahwa sistem pertahanan udara negara itu telah “mencegat dan menghancurkan sebuah rudal balistik” yang ditembakkan Houthi ke arah Riyadh. Al-Maliki juga menyatakan bahwa pasukan koalisi Saudi telah menghancurkan dua peluncur rudal balistik di Sanaa, ibu kota Yaman yang dikuasai Houthi. “Kami terus melanjutkan proses pembongkaran jaringan rudal balistik milik milisi teroris Houthi,” tegasnya melalui media sosial X.
Serangan terbaru ini merupakan bagian dari eskalasi yang meningkat. Pada Minggu (25/10), Houthi mengklaim telah meluncurkan serangan terhadap bandara internasional di Riyadh, hanya beberapa jam setelah otoritas Saudi mengumumkan aktivitas penerbangan kembali normal. Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, bahkan mengklaim telah menargetkan Bandara Internasional King Khalid dengan rudal balistik dan menyerang stasiun pompa minyak mentah di wilayah timur dan barat Arab Saudi menggunakan sejumlah drone. Ia menyebut kedua operasi itu berhasil.
Dampak dari serangan ini sangat terasa pada sektor penerbangan. Maskapai baru Arab Saudi, Riyadh Air, terpaksa mengalihkan penerbangannya dari hub di Riyadh ke Bandara Al Qassim yang berjarak sekitar 434 kilometer (270 mil) dari ibu kota. Penumpang kemudian diangkut menggunakan bus gratis menuju hotel InterContinental Durrat Al Riyadh. Pengalihan ini berlaku untuk rute Riyadh–Kairo, Jeddah, Dhaka, London, Lahore, dan Islamabad. Langkah ini diambil “sampai Riyadh Air dapat kembali terbang dari Bandara King Khalid.”
Sehari sebelumnya, pada Sabtu (24/10), serpihan dari dua rudal balistik Houthi yang dicegat juga jatuh di beberapa lokasi di Arab Saudi bagian barat, termasuk di Wadi Al-Mughammas yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Masjidil Haram di Mekah. Serpihan juga dilaporkan jatuh di kawasan Al-Nuzha di Jeddah, Wadi Jalil di Taif, dan Masturah di wilayah Rabigh. Pada Ahad (25/10), serpihan rudal kembali mencederai seorang warga Saudi dan seorang ekspatriat asal Asia di Khamis Mushayt serta Ahad Rafidah, dan merusak tiga bangunan serta tujuh kendaraan.
Meskipun bandara sempat kembali beroperasi pada Minggu (25/10) dengan sejumlah penerbangan domestik dan internasional dari Dubai, Paris, dan Kairo, situs pelacakan penerbangan Flightradar24 menunjukkan banyak penerbangan lainnya dibatalkan. Houthi sebelumnya telah memperingatkan maskapai internasional, regional, dan lokal beserta penumpangnya untuk tidak menggunakan fasilitas tersebut karena dianggap tidak aman dan menjadi target militer.
Pemerintah Saudi melalui otoritas Pertahanan Sipil mengeluarkan peringatan dini kepada warga Riyadh untuk segera menuju tempat aman di dalam gedung, menjauhi jendela dan area terbuka, serta mengikuti instruksi resmi. Belakangan, otoritas menyatakan bahwa bahaya telah berlalu, namun tetap mengimbau warga waspada dan menghubungi 911 dalam keadaan darurat.
Dengan meningkatnya intensitas serangan Houthi terhadap Riyadh dan infrastruktur vital lainnya, stabilitas keamanan di kawasan semakin terancam. Upaya koalisi Saudi untuk menetralisir ancaman rudal balistik terus dilakukan, namun dampak kemanusiaan dan gangguan operasional penerbangan menjadi tantangan besar. Masyarakat internasional diharapkan dapat mendorong deeskalasi agar situasi tidak semakin memburuk.
