Socrates Award Ballon d'Or 2026: Bukayo Saka Haru Baca Surat Bocah Rwanda di Panggung London
Inforiau – 27 Oktober 2026 | Malam penganugerahan Ballon d’Or 2026 di London Palladium Theatre menjadi saksi momen yang jauh dari hingar-bingar gemerlap sepak bola. Di tengah dominasi talenta Spanyol yang memborong delapan trofi, perhatian publik justru tersedot pada momen haru ketika Bukayo Saka menerima socrates award, penghargaan yang diberikan kepada pesepak bola dengan kontribusi kemanusiaan paling menonjol sepanjang tahun.
Penyerang Arsenal dan Timnas Inggris itu menerima trofi yang namanya diambil dari legenda sepak bola Brasil, Socrates, dari tangan musisi asal Nigeria, Burna Boy. Penghargaan tersebut diserahkan dalam seremoni yang berlangsung pada Senin malam waktu setempat atau Selasa dini hari WIB, 27 Oktober 2026. Saka menjadi pesepak bola Inggris pertama yang meraih socrates award sejak penghargaan ini diperkenalkan pada 2022.
Kisah di Balik Trofi Kemanusiaan
Apresiasi terhadap Saka tidak datang tanpa alasan. Melalui organisasi amal BigShoe, ia membantu mendanai 120 operasi medis yang mengubah hidup anak-anak di Kano, Nigeria. Bantuan serupa juga disalurkan bagi korban gempa di Turki dan Maroko, termasuk penyediaan hunian layak bagi keluarga yang kehilangan tempat tinggal.
Puncak emosional malam itu terjadi ketika Saka membacakan surat seorang bocah Rwanda berusia 14 tahun di hadapan para tamu undangan. Bocah tersebut, yang dalam sejumlah laporan disebut sebagai Biren Giroe atau Biringiro, mengalami penurunan penglihatan yang membuat aktivitas sederhana di rumah dan sekolah menjadi perjuangan berat. Desa tempatnya tinggal bahkan tidak memiliki aliran listrik yang memadai.
Dalam surat itu, bocah tersebut mengisahkan bagaimana penglihatannya terus memburuk hingga berjalan di dalam rumah pun terasa sulit. Papan tulis sekolah berubah menjadi sesuatu yang tak lagi terbaca dari kejauhan. Operasi dan perawatan mata melalui BigShoe kemudian mengubah perjalanan hidupnya. Kini ia mampu membaca tulisan di papan tulis, bahkan dari bangku paling belakang kelas.
Bagian paling menyentuh justru berbicara tentang masa depan. Bocah itu mengaku kembali bersemangat menyambut hari-hari mendatang dan bercita-cita menjadi guru bahasa Inggris, sebuah mimpi yang kini terasa lebih mungkin diperjuangkan. Panggung London pun sempat terdiam mendengar pengakuan sederhana tersebut.
Rendah Hati di Tengah Kemegahan
Dalam pidatonya, Saka menolak menempatkan dirinya sebagai pahlawan tunggal. Ia menyampaikan terima kasih atas nama anak-anak yang telah menerima bantuan dan menegaskan bahwa perubahan nyata lahir dari kerja bersama. Sikap rendah hati itu menjadi benang merah malam penghargaan tahun ini.
Hal serupa ditunjukkan Lamine Yamal. Bintang muda Barcelona tersebut meraih Kopa Trophy untuk ketiga kalinya secara beruntun, menjadikannya pesepak bola pertama yang mencatat sejarah tersebut. Namun, alih-alih berbangga, ia justru menyebut rekan setimnya, Pau Cubarsi, lebih layak menerima penghargaan itu.
“Saya sebenarnya ingin melihat rekan setim saya, Pau Cubarsi, berada di sini. Karena menurut saya penghargaan ini seharusnya menjadi miliknya,” ujar Yamal, yang tampil mengenakan jas hitam dengan korsase bunga besar berwarna pink.
Dominasi Spanyol dan Peta Penghargaan
Gala edisi ke-70 ini tercatat sebagai yang pertama digelar di luar Prancis, tepatnya di London, sebagai bentuk penghormatan kepada Stanley Matthews, pemenang pertama Ballon d’Or. Sebanyak 13 trofi dibagikan, dan Spanyol tampil dominan dengan delapan gelar di berbagai kategori.
| Kategori | Pemenang |
|---|---|
| Ballon d’Or Putra | Harry Kane |
| Ballon d’Or Feminin | Alexia Putellas |
| Kopa Trophy | Lamine Yamal |
| Kopa Trophy Putri | Vicky Lopez |
| Pelatih Putra Terbaik | Luis de la Fuente |
| Kiper Putra Terbaik | Unai Simon |
| Socrates Award | Bukayo Saka |
| Klub Putra Terbaik | Paris Saint-Germain |
| Klub Putri Terbaik | Barcelona Femeni |
Harry Kane meraih Ballon d’Or putra setelah mencatatkan 73 gol bersama Bayern Muenchen dan Timnas Inggris, mengungguli Kylian Mbappe di posisi kedua dan Lamine Yamal di urutan ketiga. Adapun Alexia Putellas kembali mengukuhkan dominasinya di kategori putri dengan gelar ketiga secara beruntun.
Kehadiran socrates award dalam daftar bergengsi itu menegaskan bahwa sepak bola tidak hanya soal gol dan trofi. Penghargaan ini menjadi pengingat bahwa dampak seorang pesepak bola bisa jauh melampaui lapangan hijau. Bagi Saka, socrates award bukan sekadar piala tambahan di lemari trofinya, melainkan amanah untuk terus memperjuangkan nasib anak-anak yang kurang beruntung.
Di tengah persaingan sepak bola yang semakin kompetitif, kisah seorang bocah Rwanda yang kembali bisa membaca papan tulis dari bangku belakang kelas menjadi cermin bahwa kebaikan kecil dapat mengubah arah hidup seseorang. Malam di London Palladium itu pun ditutup dengan pesan yang jelas: prestasi di lapangan dan kepedulian di luar lapangan dapat berjalan seiring, dan socrates award hadir untuk merayakan keduanya.
Editor: Sukri Mustakim
