Bupati Lebak Genjot Hilirisasi dan Insentif Keagamaan: Ribuan Pekerja hingga 19.506 Penerima Manfaat
Inforiau – 28 Oktober 2026 | Pemerintah Kabupaten Lebak di bawah kepemimpinan Bupati Lebak Mochamad Hasbi Asyidiki terus menggenjot berbagai program strategis yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Dari pengembangan kawasan industri hilirisasi yang diyakini menyerap ribuan tenaga kerja hingga alokasi anggaran insentif keagamaan senilai Rp7,81 miliar, langkah bupati lebak tersebut menjadi sorotan publik.
Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Lebak, Iyan Fitriyana, memaparkan bahwa Pemkab Lebak mengalokasikan anggaran sekitar Rp7,81 miliar untuk program insentif keagamaan pada Tahun Anggaran 2026. Program ini menyasar 19.506 penerima yang terdiri atas guru Madrasah Diniyah, pengajar program Maghrib Mengaji, dan pimpinan pondok pesantren.
Rinciannya, sebanyak 12.481 pengajar program Maghrib Mengaji menerima insentif Rp250.000 per orang dengan total anggaran sekitar Rp3,12 miliar. Sementara itu, 5.425 guru Madrasah Diniyah memperoleh insentif Rp600.000 per orang dengan total anggaran sekitar Rp3,25 miliar. Program ini disosialisasikan dalam Focus Group Discussion bertema Pengembangan Keagamaan di Kabupaten Lebak.
Di sisi lain, bupati lebak juga menaruh perhatian besar pada pengembangan ekonomi melalui kawasan industri hilirisasi. Analis Kebijakan Madya Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Lebak, Robertus Erwin, menyatakan bahwa pemerintah daerah menyiapkan lahan kawasan industri seluas 10.981 hektare yang tersebar di 13 kecamatan sesuai Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2023 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah yang berlaku hingga 2034.
Menurut Robertus, Perda tersebut menjadi landasan hukum yang kuat sehingga investor merasa aman, nyaman, dan kondusif menanamkan modalnya di Kabupaten Lebak. Kawasan industri hilirisasi diyakini dapat mendorong ekonomi daerah berkelanjutan untuk mewujudkan rukun, unggul, harmonis, aman, dan nyaman (RUHAY) serta berdampak bagi pelaku UMKM hingga usaha turunannya.
Kabupaten Lebak dipastikan menjadi daerah investasi, baik Penanaman Modal Asing maupun Penanaman Modal Dalam Negeri, karena didukung sarana prasarana transportasi seperti Jalan Tol Serang-Panimbang, Commuter Line Kereta Listrik Rangkasbitung-Tanabang, dan Bendungan Karian. Keunggulan lain adalah nilai jual tanah yang murah dibandingkan wilayah Bogor dan Bekasi, serta posisinya sebagai daerah penyangga Ibu Kota Negara Jakarta.
Optimisme investasi tersebut sejalan dengan harapan bupati lebak untuk mempercepat penghapusan kemiskinan rentan dan miskin ekstrem. Sekretaris Disnaker Kabupaten Lebak, Rully Chairulyanto, menyambut positif kawasan industri itu karena dapat menyerap ribuan tenaga kerja lokal. Saat ini, banyak pencari kerja dari Lebak terpaksa merantau ke Jakarta, Bogor, Cikarang, Bekasi, hingga Bandung.
Namun, di tengah geliat investasi, persoalan ketenagakerjaan masih menjadi pekerjaan rumah. Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah meminta eks karyawan PT Parkland World Indonesia 6 yang terdampak PHK agar terbuka terhadap peluang kerja di sektor lain. Sekitar 1.000 pekerja terdampak setelah kontrak sewa gedung berakhir dan tidak diperpanjang. Pemkab Lebak menyiapkan langkah prioritas penempatan bagi mantan karyawan PWI 6 apabila ada perusahaan baru yang beroperasi.
Dengan sinergi antara program insentif keagamaan, pengembangan kawasan industri hilirisasi, dan penanganan dampak PHK, kepemimpinan bupati lebak diharapkan mampu menciptakan keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan kesejahteraan sosial. Masyarakat Lebak kini menantikan realisasi nyata dari berbagai program tersebut, terutama terciptanya lapangan kerja baru dan peningkatan kualitas hidup.
