Bumi Perlahan Berubah Makin Bulat, Ilmuwan Ungkap Pemicu Tak Terduga di Baliknya
Inforiau – 01 November 2026 | Perubahan iklim global ternyata tidak hanya memicu kenaikan suhu dan cuaca ekstrem, tetapi juga berdampak masif pada fisik planet kita. Studi terbaru mengungkapkan bahwa bentuk bumi berangsur menjadi lebih bulat seiring dengan mencairnya lapisan es secara besar-besaran di wilayah kutub. Temuan ini menjadi salah satu indikator paling nyata bahwa aktivitas manusia telah mengubah planet tempat kita tinggal, bahkan pada skala kerak yang paling padat sekalipun.
Secara alami, bentuk bumi memang bukanlah bola sempurna. Akibat gaya rotasi sentrifugal planet, Bumi sedikit pepat di kedua kutubnya dan menggembung di bagian khatulistiwa. Namun, penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal JGR Solid Earth menunjukkan bahwa kerak padat Bumi kini bergerak menjadi semakin bulat dengan kecepatan yang terus meningkat. Fenomena ini didorong oleh proses yang dikenal sebagai isostatic rebound atau pemulihan isostatis.
Ketika Es Raksasa Mencair, Daratan Kutub Terangkat
Profesor geodesi dari Aristotle University of Thessaloniki, Yunani, Christoforos Kotsakis, menjelaskan bahwa ribuan tahun lalu lapisan es setebal kilometer di Antartika dan Greenland menekan kerak bumi ke bawah. Ketika suhu bumi naik dan es mencair dalam skala besar, beban raksasa tersebut terangkat sehingga daratan di wilayah kutub perlahan bangkit kembali, seperti adonan roti yang membal.
Ketika lapisan es tersebut mencair akibat pemanasan global, tekanan terhadap kerak bumi berkurang sehingga permukaannya perlahan terangkat kembali. Data dari jaringan satelit navigasi global atau GNSS mencatat bahwa pada periode akhir pengamatan, kenaikan permukaan tanah di wilayah kutub mendekati 1 milimeter per tahun. Angka ini meningkat dibandingkan sekitar 0,5 milimeter per tahun pada akhir 1990-an. Di saat bersamaan, wilayah sekitar khatulistiwa justru mengalami penurunan permukaan dengan besaran yang kurang lebih sebanding.
Dengan demikian, tingkat kebulatan kerak padat Bumi bertambah sekitar 0,4 milimeter setiap dekade. Memang terbilang kecil jika dibandingkan dengan diameter Bumi di khatulistiwa yang mencapai sekitar 12.756 kilometer, tetapi perubahan ini konsisten dan terus meningkat dari tahun ke tahun.
Bukan Hanya Es, Aktivitas Manusia Ikut Berperan
Selain pencairan es kutub, pergeseran distribusi massa ini juga dipicu oleh aktivitas manusia seperti pengambilan air tanah dalam skala besar, pembangunan bendungan, hingga perubahan pola hujan yang memindahkan beban berat ke wilayah laut. Perpindahan massa air menuju wilayah lintang lebih rendah turut mengubah distribusi massa planet secara keseluruhan.
Meskipun terjadi secara perlahan, perubahan bentuk bumi ini membawa sejumlah implikasi nyata terhadap sistem global. Perubahan distribusi massa terbukti memperlambat rotasi Bumi dan memengaruhi posisi porosnya. Akibatnya, sistem navigasi satelit pemantau posisi harus terus disesuaikan secara berkala agar tetap akurat.
Para peneliti menegaskan bahwa fenomena ini hanya berlaku pada bagian padat Bumi, sementara lautan tetap menggembung ke luar di khatulistiwa. Pemantauan terhadap perubahan bentuk bumi pun dinilai dapat membantu mengungkap seberapa besar pengaruh mencairnya lapisan es di kutub terhadap kondisi fisik planet.
Peringatan Keras bagi Umat Manusia
Fenomena ini menjadi bukti nyata sekaligus peringatan keras bahwa laju pencairan es di kutub berlangsung sangat cepat dengan dampak jangka panjang yang akan terus dirasakan selama berabad-abad ke depan. Perubahan bentuk bumi yang tampak sepele di atas kertas ternyata menyimpan pesan besar tentang keseimbangan planet yang semakin terganggu.
Bagi masyarakat luas, temuan ini seharusnya menjadi pengingat bahwa krisis iklim bukan sekadar wacana tentang suhu yang naik atau cuaca yang ekstrem. Dampaknya merambat hingga ke struktur kerak bumi yang selama ini dianggap kokoh dan tak tergoyahkan. Ilmuwan pun mendorong pemantauan berkelanjutan melalui teknologi satelit agar perubahan bentuk bumi dapat terus terukur dan dipahami secara lebih mendalam.
Pada akhirnya, studi ini menegaskan satu hal penting: planet kita adalah sistem yang saling terhubung. Ketika es di kutub mencair, bukan hanya permukaan laut yang berubah, melainkan juga bentuk fisik bumi itu sendiri. Kesadaran akan keterkaitan ini menjadi kunci untuk mendorong langkah mitigasi iklim yang lebih serius, sebelum perubahan yang berlangsung perlahan ini menimbulkan konsekuensi yang jauh lebih besar di masa depan.
