Dunia Gunung di Ambang Krisis: Gletser Triglav Sirna, Tiga Gunung Api Indonesia Siaga, Mayon Meletus
Inforiau – 31 Oktober 2026 | Dunia gunung tengah menghadapi tekanan dari dua arah yang sama-sama mengkhawatirkan: krisis iklim yang menggerus lapisan es di kawasan Alpen, dan meningkatnya aktivitas vulkanik di sejumlah titik rawan. Dari Slovenia hingga Filipina dan Indonesia, laporan sepanjang pekan terakhir memperlihatkan bahwa gunung bukan lagi sekadar lanskap pemandangan, melainkan indikator hidup perubahan lingkungan yang berlangsung cepat.
Di Slovenia, riwayat lapisan es di Gunung Triglav resmi berakhir. Catatan sejarah menunjukkan bahwa pada pertengahan 1800-an luas es di Triglav mencapai 40 hektare. Angka itu terus merosot menjadi 14 hektare pada pengukuran resmi pertama tahun 1946. Antara 1983 hingga 2003, permukaannya menyusut drastis hingga 93 persen, menyisakan kurang dari satu hektare es di sela bebatuan. Dalam lima tahun terakhir, sisa-sisa es tersebut terus terfragmentasi, dan dokumentasi visual pada Oktober 2026 mengonfirmasi tidak ada lagi lapisan es yang tersisa pada bagian utama gletser sebelum salju musim dingin turun.
Direktur Institut Geografi Anton Melik, Matija Zorn, menegaskan bahwa fenomena ini melampaui sekadar perubahan lanskap. Menurutnya, Triglav memiliki kedekatan emosional dengan identitas warga Slovenia sekaligus menjadi laboratorium alam bagi para ilmuwan. “Setiap tahun saya tahu bahwa esnya akan semakin sedikit. Namun, setiap tahun saya terkejut melihat betapa banyak es yang hilang di sana,” ujar Zorn. Ia telah memantau kondisi tersebut sejak 2001 dan pernah mengambil sampel inti es hingga kedalaman 5 meter pada 2002. Setahun kemudian, lokasi yang sama telah berubah menjadi hamparan batu.
Kondisi serupa melanda seluruh wilayah Alpen. Para ahli di Swiss melaporkan kehilangan seperlima volume es dalam lima tahun terakhir, dengan penurunan sebesar 5,5 persen sepanjang tahun 2026 saja. Gelombang panas ekstrem yang dipicu emisi karbon menjadi faktor utama percepatan ini. Musim panas 2026 bahkan tercatat sebagai yang terpanas dalam sejarah Eropa Barat. Meski gletser utama Triglav telah sirna, sisa-sisa es masih ditemukan di gua-gua bawah tanah yang kini tersingkap, sementara gletser di Gunung Skuta terus menipis meski diprediksi bertahan sedikit lebih lama karena lokasinya lebih terlindung. Ahli gletser sekaligus pemandu gunung, Miha Pavsek, menyayangkan lambatnya kesadaran masyarakat terhadap kecepatan perubahan lingkungan ini.
Di sisi lain dunia, aktivitas vulkanik di Indonesia menunjukkan peningkatan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis pemutakhiran data per Jumat, 30 Oktober 2026 pukul 06.00 WIB. Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), tiga gunung api berstatus Siaga atau Level III: Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta, serta Gunung Semeru di Jawa Timur.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, merinci sejumlah rekomendasi bagi masyarakat, wisatawan, dan pelaut. Untuk Anak Krakatau, aktivitas dilarang dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi, dengan potensi ancaman berupa aliran lava, lontaran batu pijar, hujan abu lebat, serta erupsi sekunder. Masyarakat dan wisatawan juga diminta menjauhi kawah aktif dan wilayah pulau baru dalam radius 1 kilometer serta menghindari zona bahaya wisata dan pendakian.
| Gunung Api | Lokasi | Status | Radius Bahaya |
|---|---|---|---|
| Anak Krakatau | Selat Sunda | Siaga (III) | 5 km |
| Merapi | Jateng–DIY | Siaga (III) | Sesuai rekomendasi PVMBG |
| Semeru | Jawa Timur | Siaga (III) | Sesuai rekomendasi PVMBG |
Gunung Anak Krakatau sendiri kembali erupsi pada Jumat dini hari, 30 Oktober 2026, sekitar pukul 01.40 WIB dengan durasi sekitar 19 detik. Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Hargo Pancuran, Suwarno, menyebut erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 50 milimeter, meski tinggi kolom erupsi tidak teramati dan tidak terdengar suara dentuman. Pada periode pengamatan 00.00–06.00 WIB, petugas mencatat satu gempa letusan, enam gempa frekuensi rendah, 35 gempa hybrid, tiga gempa vulkanik dangkal, dan dua gempa vulkanik dalam. Sinar api teramati di pusat kawah pada malam hari, sementara asap kawah berwarna putih hingga kelabu membumbung setinggi 50–100 meter di atas puncak.
Sementara itu, Gunung Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, juga erupsi pada Jumat, 29 Oktober 2026 pukul 19.27 Wita. Personel Pos Pengamatan Gunung Api Karangetang, Vieko Kristianse Rompas, mencatat satu kali letusan eksplosif kecil dari kawah utara, meski tinggi kolom abu tidak teramati. Warga diimbau menjauhi radius 1,5 kilometer dari puncak kawah.
Di Filipina, Gunung Mayon menyemburkan abu vulkanik setinggi 3.000 meter. Kolom abu bergerak perlahan ke arah barat daya menuju area permukiman. Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina menaikkan tingkat siaga dari level 2 ke level 3 dan menyerukan evakuasi bagi warga dalam radius 6 kilometer dari kawah. Belum ada laporan korban jiwa maupun kerusakan. Mayon, yang memiliki ketinggian 2.462 meter dan berbentuk kerucut hampir sempurna, terletak 330 kilometer tenggara Manila, dan disebut memasuki fase baru erupsi magmatik dengan risiko aliran lava serta arus densitas piroklastik.
Rangkaian peristiwa ini memperlihatkan satu benang merah: gunung menjadi penanda paling nyata dari perubahan yang berlangsung di bumi. Di Alpen, krisis iklim menghapus jejak es yang terbentuk ribuan tahun; di Nusantara dan Filipina, dinamika magma menuntut kewaspadaan warga. Keduanya menuntut respons yang sama seriusnya, mulai dari pengurangan emisi hingga kepatuhan terhadap zona bahaya. Tanpa itu, gunung akan terus mengirim sinyal yang makin sulit diabaikan.
