Fenomena Langka di Way Kambas: Induk Harimau Sumatera dan Tiga Anaknya Terekam Kamera Saat Minum di Tengah Kekeringan
Inforiau – 30 Oktober 2026 | Pemandangan langka dan mengharukan sekaligus menjadi peringatan datang dari kawasan taman nasional way kambas di Lampung Timur, Lampung. Kamera jebak (camera trap) yang dipasang petugas berhasil merekam momen seekor induk harimau Sumatera bersama anak-anaknya mendatangi wadah air untuk minum di tengah hutan yang dilanda kemarau panjang. Rekaman berdurasi hampir tiga menit itu langsung menarik perhatian warganet setelah beredar luas di media sosial, namun di baliknya tersimpan kondisi ekologis yang patut diwaspadai.
Dalam rekaman tersebut, terlihat sejumlah wadah penampungan air berjejer rapi di atas permukaan tanah yang dipenuhi daun kering. Suasana hutan yang masih asri menjadi latar belakang ketika sang induk bersama anak-anaknya berjalan mendekati sumber air buatan itu. Kelompok harimau Sumatera ini tampak bergantian meminum air sebelum kembali menyusuri dan menjelajahi kawasan hutan taman nasional way kambas.
Individu yang Sama Sejak 2025
Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas, Mhd Zaidi, mengonfirmasi bahwa kelompok harimau yang terekam merupakan individu yang sebelumnya telah teridentifikasi. Keberadaan induk dan tiga anaknya pertama kali terpantau sekitar April 2025, dan rekaman terbaru menunjukkan mereka masih bersama dalam kondisi sehat.
“Saat ini kita dapat lagi hasil tangkapan dari kamera trap dan ini induk dengan tiga anaknya, dan tiga anaknya ini jantan semua. Kalau lihat dari fisik masih bagus, masih oke walaupun sekarang kemarau panjang,” ujar Zaidi, Jumat (30/10/2026).
Menurutnya, petugas memang rutin menyediakan tempat minum bagi satwa sekaligus memasang kamera untuk memantau aktivitas mereka. Rekaman ini menjadi salah satu bukti bahwa harimau Sumatera di taman nasional way kambas masih terpantau keberadaannya, meski kawasan tersebut tengah menghadapi musim kemarau panjang dan fenomena El Nino.
Sumber Air Alami Mulai Mengering
Di balik momen menarik tersebut, terdapat persoalan serius yang perlu diwaspadai, yakni mulai mengeringnya sumber-sumber air alami di habitat satwa liar akibat kemarau panjang. Kondisi itu mendorong Balai Taman Nasional Way Kambas menyediakan sumber air tambahan di sejumlah titik kawasan hutan, salah satunya melalui baskom dan wadah penampungan air yang kini dimanfaatkan oleh kelompok harimau tersebut.
Populasi harimau Sumatera di kawasan konservasi ini diperkirakan mendekati 20 ekor. Pemantauan rutin melalui kamera jebak menjadi kunci untuk memastikan kelangsungan hidup satwa dilindungi tersebut, terutama saat tekanan lingkungan meningkat akibat kekeringan. Ketersediaan air menjadi faktor krusial, tidak hanya bagi harimau, tetapi juga bagi satwa lain yang bergantung pada ekosistem taman nasional way kambas.
Ancaman Karhutla yang Belum Usai
Tekanan terhadap kawasan konservasi ini tidak berhenti pada kekeringan. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) turut menjadi ancaman nyata. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sekitar 40 hektare area masih terbakar, dan sebanyak 350 personel gabungan dikerahkan untuk mengendalikan api melalui operasi pemadaman darat dan udara, termasuk menggunakan helikopter untuk water bombing.
Upaya pemadaman terus dilakukan bersama pemerintah daerah, meski petugas di lapangan menghadapi tantangan berat, mulai dari medan yang sulit, angin kencang, hingga sumber air yang terbatas. Kombinasi kemarau panjang, fenomena El Nino, dan karhutla menciptakan situasi yang rentan bagi ekosistem taman nasional way kambas beserta seluruh satwa yang hidup di dalamnya.
Rekaman lima harimau yang bergantian minum dari baskom itu sejatinya adalah cermin ganda: di satu sisi menunjukkan keberhasilan upaya konservasi dalam menjaga satwa tetap bertahan, namun di sisi lain menjadi alarm bahwa tekanan terhadap habitat semakin nyata. Sinergi antara petugas taman nasional, BNPB, pemerintah daerah, dan masyarakat sekitar menjadi kunci untuk memastikan kawasan ini tetap menjadi rumah yang aman bagi harimau Sumatera dan keanekaragaman hayati di dalamnya.
